TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kinerja sektor Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Keuangan Lainnya (PVML) di Sulawesi Selatan (Sulsel) awal tahun 2026 menunjukkan tren positif.
Lembaga pembiayaan merupakan perusahaan yang melakukan aktivitas sewa guna usaha (leasing), anjak piutang, pembiayaan konsumen, dan penyediaan kartu kredit.
Sementara perusahaan modal ventura merupakan badan usaha yang memberikan pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan pasangan usaha untuk jangka waktu tertentu.
Lalu lembaga keuangan mikro merupakan lembaga yang khusus didirikan untuk memberikan jasa pengembangan usaha dan pemberdayaan masyarakat, baik lewat kredit mikro atau simpan pinjam.
Sementara lembaga jasa keuangan lainnya mencakup layanan pendanaan bersama berbasis teknologi informasi atau pinjaman online (peer-to-peer lending / pindar), pegadaian, lembaga penjaminan, dan usaha jasa keuangan khusus lainnya yang diatur undang-undang.
Kelompok industri keuangan di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini mengalami pertumbuhan.
Pertumbuhan ditopang peningkatan pembiayaan pada perusahaan pembiayaan, fintech peer-to-peer (P2P) lending, dan terutama industri pergadaian yang mencatat pertumbuhan tertinggi.
Berdasarkan data OJK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar), perkembangan positif industri keuangan non-bank (IKNB) tersebut mencerminkan semakin beragamnya akses layanan dan pembiayaan yang dapat dimanfaatkan masyarakat maupun pelaku usaha.
Kepala OJK Sulselbar, Moch Muchlasin, menilai pertumbuhan ini semakin inklusif dalam mendukung kebutuhan pembiayaan dan pengelolaan keuangan.
“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sektor jasa keuangan tidak hanya tetap stabil, tetapi juga semakin inklusif dalam mendukung
kebutuhan pembiayaan dan pengelolaan keuangan masyarakat,” Muchlasin, dalam laporan kinerja sektor jasa keuangan Sulsel Juni 2026, dikutip Tribun-Timur.com, Kamis (23/7/2026).
Pada posisi Maret 2026, penyaluran pembiayaan perusahaan pembiayaan tercatat sebesar Rp19,27 triliun atau tumbuh 1,23 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Nilai tersebut meningkat dibandingkan Maret 2025 yang sebesar Rp19,04 triliun dan Desember 2025 sebesar Rp19,01 triliun.
Sementara itu, total pembiayaan perusahaan modal ventura mencapai Rp371 miliar.
Meski nominalnya meningkat dibandingkan Desember 2025 yang sebesar Rp360 miliar, secara tahunan masih mengalami kontraksi 2,84 persen (yoy) dari posisi Maret 2025 sebesar Rp382 miliar.
Di sisi lain, layanan keuangan berbasis teknologi terus mengalami ekspansi.
Outstanding pembiayaan Fintech Peer-to-Peer (P2P) Lending mencapai Rp2,52 triliun, atau tumbuh signifikan 32,26 persen (yoy).
Angka tersebut meningkat dibandingkan Februari 2025 sebesar Rp1,90 triliun maupun Desember 2025 yang mencapai Rp2,39 triliun.
Pertumbuhan tersebut mengindikasikan semakin tingginya pemanfaatan layanan pembiayaan digital oleh masyarakat, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun aktivitas usaha.
Kinerja paling menonjol terjadi pada sektor pergadaian.
Total pembiayaan mencapai Rp12,57 triliun, melonjak 61,08 persen (yoy).
Sebagai perbandingan, total pembiayaan pergadaian pada Februari 2025 tercatat sebesar Rp7,81 triliun.
Kemudian meningkat menjadi Rp10,20 triliun pada Desember 2025 sebelum kembali naik menjadi Rp12,57 triliun pada Februari 2026.
PPDP Juga Tumbuh Positif
Selain sektor PVML, kinerja industri Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) juga menunjukkan perkembangan positif.
Industri PPDP diawasi OJK sebagai pilar penting pengelola risiko finansial dan penyedia pembiayaan jangka panjang.
Total aset dana pensiun tercatat mencapai Rp1,70 triliun, tumbuh 6,31 persen (yoy) dibandingkan Maret 2025 sebesar Rp1,60 triliun.
Sementara itu, nilai penjaminan pada lembaga penjaminan mencapai Rp1 triliun, meningkat 20,04 persen (yoy) dari Rp834 miliar pada Maret 2025.
Adapun industri perasuransian mencatat total premi sebesar Rp984 miliar, atau tumbuh 29,90 persen (yoy) dibandingkan Rp757 miliar pada Maret 2025.
Di sisi lain, total klaim mencapai Rp499 miliar, naik 4,52 persen (yoy) dari Rp478 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.