TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mempertegas komitmennya dalam upaya pencegahan dan pengentasan stunting di wilayahnya.
Memanfaatkan momentum Peringatan Hari Anak Nasional 2026, eksekutif menggandeng berbagai pihak dan mitra masyarakat hingga tingkat kemantren dan kelurahan untuk mengawal tumbuh kembang generasi muda.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyampaikan, penanganan stunting bukan sekadar urusan memperhatikan tinggi dan berat badan anak semata.
Lebih dari itu, pengentasan stunting merupakan kunci utama dalam memastikan kecerdasan dan kualitas sumber daya manusia (SDM) di masa depan.
"Simbol kesuksesan kita dalam membawa perkembangan anak adalah kecerdasan. Apakah anak-anak kita sudah terkawal dalam dua hal, pertumbuhan dan perkembangan? Pertumbuhan itu dicerminkan berat badan dan tinggi badan, sedangkan perkembangan dicerminkan dengan kecerdasan serta keterampilan," ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Sebagai informasi, prevalensi stunting di Kota Pelajar kini berhasil ditekan cukup signifikan hingga 8,27 persen per Juni 2026, setelah sempat menyentuh 14,8 persen pada tahun lalu.
Berbagai intervensi, termasuk dukungan Dana Keistimewaan (Danais) melalui alokasi anggaran perbaikan gizi di level kelurahan, tampaknya mulai membuahkan hasil.
Hasto menegaskan bahwa indikator stunting dewasa ini menjadi standar global untuk mengukur kualitas sumber daya manusia di suatu bangsa.
Pengentasan stunting erat kaitannya dengan pencapaian Human Capital Index (HCI) yang optimal agar generasi mendatang memiliki daya saing tinggi saat memasuki dunia kerja.
"Ukuran yang diakui dunia adalah stunted atau tidak. Kemampuan SDM diukur dengan Human Capital Index. Harapannya, anak-anak kita kelak punya nilai HCI yang lebih baik, sehingga ketika bekerja di suatu institusi, mereka mampu memberikan daya ungkit yang besar," jelasnya.
Baca juga: Pasar Ngasem Ramai Diserbu Pedagang Asongan, Pemkot Yogyakarta Tawarkan Alternatif Solusi
Selain masalah kesehatan fisik dan kecerdasan, Hasto juga menyoroti pentingnya penyiapan mental dan kemandirian ekonomi anak sejak dini agar terhindar dari beban sebagai sandwich generation yang rentan di masa depan.
Menurutnya, perubahan struktur demografi dengan meningkatnya populasi usia lanjut (lansia) berpotensi menempatkan anak-anak masa kini pada posisi yang terjepit secara finansial jika tidak dibekali kualitas diri yang mumpuni.
"Menyiapkan anak-anak kita menjadi sandwich generation yang tidak menderita itu sangat penting. Kalau anaknya sudah sehat dan berkualitas, jangan sampai dia tidak mampu menopang ekonomi keluarga ke depan," tegas Hasto.
Eks Kepala BKKBN RI tersebut menambahkan, kesadaran mengenai tantangan ini harus mulai ditanamkan kepada anak sejak usia dini dan remaja.
Sebab, banyak generasi muda yang belum menyadari potensi beban ganda yang harus ditanggung di masa depan, yakni menopang orang tua sekaligus membiayai anak-anak mereka sendiri.
"Jumlah lansianya banyak, kemudian mereka juga masih punya anak. Hal-hal mendasar seperti inilah yang penting untuk terus kita ingatkan dalam momentum Hari Anak," pungkas Wali Kota. (*)