TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMPUNG TENGAH - Berbagai jalan diplomasi telah ditempuh oleh warga SP3 Way Terusan, Kecamatan Bandar Mataram, Kabupaten Lampung Tengah untuk dapat menikmati listrik.
Baca juga: PLN Lakukan Pemeliharaan Jaringan di Bandar Lampung, Sejumlah Wilayah Berpotensi Padam Listrik
Namun, hingga kini ribuan jiwa di kawasan tersebut masih harus beraktivitas dalam kegelapan.
Terkendala status lahan/kawasan yang tak kunjung usai, asa masyarakat untuk menikmati listrik negara seperti warga Indonesia lainnya seolah digantung tanpa kepastian.
Pengalaman pahit akan ketiadaan listrik negara dirasakan langsung oleh Ngadianto, warga SP3 Way Terusan.
Ngadianto mengaku warga telah mendatangi dinas terkait di tingkat daerah hingga mengetuk pintu Istana Presiden di Jakarta.
Ia mengenang bagaimana warga sempat menggantungkan asa pada genset komunal dan panel surya mandiri sejak dekade 90-an.
Sayangnya, solusi mandiri tersebut justru menguras kantong warga tanpa memberikan hasil yang maksimal.
"Tahun 1997 sempat pakai diesel selama 2 tahun, tapi masyarakat tidak sanggup karena biaya operasionalnya terlalu mahal. Kami lalu beralih ke tenaga surya mandiri sampai 2009. Itu pun harus ganti aki sampai 3 kali setahun, belum lagi kalau mati daya," ungkap Ngadianto, Kamis (23/7/2026).
Dampak dari tidak adanya jaringan listrik ini tidak hanya meredupkan penerangan rumah tangga, tetapi juga melumpuhkan akses komunikasi dan masa depan pendidikan anak-anak di sana.
"Sinyal di sini sangat susah karena tidak ada daya penunjang. Kasihan anak-anak sekolah, waktu ujian daring pakai HP atau laptop tidak ada sinyal. Banyak anak-anak yang gagal ujian sampai tidak lulus sekolah hanya karena masalah ini," tambah Ngadianto dengan nada prihatin.
Menembus Istana, Menagih Kepedulian Negara
Tidak tinggal diam melihat ketimpangan ini, gerakan warga bersama aktivis pemuda terus menyuarakan hak-hak dasar mereka.
Agus, tokoh pemuda SP3 Way Terusan, mengungkapkan bahwa warga bahkan telah melangkah sangat jauh demi memperjuangkan hak atas penerangan tersebut.
"Kami tidak berkuang tangan. Bersama Bang Wilanda Rizki yang mendampingi kami, perjuangan ini sudah kami bawa sampai ke Istana Presiden. Pintu demi pintu lembaga pemerintah sudah kami ketuk, tapi sampai hari ini listrik belum juga mengalir ke Way Terusan," kata Agus.
Bagi Agus dan warga desa, perjuangan ini bukan sekadar menuntut fasilitas, melainkan menagih kewajiban negara dalam memberikan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.
"Harapan kami sangat jelas, untuk pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat, tolong jangan tutup mata! Dukung perjuangan kami demi kemaslahatan masyarakat banyak. Kami hanya ingin tempat kami dialiri listrik seperti daerah lain," tegas Agus.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)