TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Di tengah aksi demonstrasi Aliansi Jateng Guyub yang berlangsung selama tiga hari di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, perhatian tak hanya tertuju pada orasi dan tuntutan massa.
Di sisi barat mimbar aksi, sebuah dapur umum atau "Dapur Rakyat" menjadi pusat aktivitas yang tak kalah ramai karena menyediakan makanan gratis bagi ratusan peserta aksi.
Selama aksi yang digelar pada 22–24 Juli 2026 itu, Dapur Rakyat menyiapkan sekitar 300 hingga 400 porsi makanan sebanyak tiga kali sehari.
Menu yang disajikan sederhana, namun cukup mengenyangkan, mulai dari nasi putih hangat, ikan asin, tahu, hingga sayur bening yang dibagikan tanpa dipungut biaya.
Tim Teknis Jateng Guyub, Cornelius Gea, mengatakan seluruh kebutuhan konsumsi peserta aksi dipenuhi melalui dapur tersebut.
Setelah mengikuti rangkaian orasi, para demonstran tampak mengantre mengambil makanan yang kemudian disantap bersama di sekitar lokasi aksi.
Menurut Cornelius, seluruh bahan makanan berasal dari swadaya masyarakat yang terlibat dalam aksi.
Berbagai hasil bumi dan hasil laut seperti cabai, terong, kacang panjang, telur, ayam, hingga ikan asin dikumpulkan dari peserta aksi maupun warga untuk kemudian diolah di dapur yang berada di kawasan Tambakrejo, Semarang Utara.
Ia menegaskan pengelolaan dapur dilakukan secara gotong royong dengan memperhatikan kebersihan dan kualitas makanan.
Bahkan, Cornelius mengklaim pengelolaan Dapur Rakyat lebih baik dibandingkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah.
"Kami mengolah bahan baku itu dengan baik agar tidak terjadi peristiwa keracunan seperti program sebelah (MBG) dan tentu benar-benar bergizi," ujarnya.
Cornelius menyebut keberadaan Dapur Rakyat bukan sekadar memenuhi kebutuhan logistik peserta aksi, tetapi juga menjadi simbol kritik terhadap kebijakan pemerintah di bidang pangan.
Menurutnya, masyarakat mampu mengelola penyediaan makanan secara mandiri melalui semangat gotong royong.
Selain itu, ia menegaskan seluruh kebutuhan operasional dapur berasal dari hasil patungan peserta aksi yang berasal dari 22 kabupaten dan kota di Jawa Tengah.
Ia membantah adanya dukungan pendanaan dari pihak lain.
"Kalau kami didanai, ngapain masak ratusan menu sampai capek. Lebih baik pesan di luar," katanya.
Salah satu penyumbang bahan pangan, Ketua Kelompok Tani Kawula Alit Mandiri Dayunan, Kendal, Trisminah, mengatakan kelompoknya membawa berbagai hasil panen seperti cabai, labu siam, daun singkong, tomat, terong, hingga kacang panjang untuk mendukung kebutuhan dapur umum.
Menurut Trisminah, sayuran tersebut merupakan hasil pertanian warga Dayunan yang saat ini masih menghadapi konflik agraria dengan PT Soekarli.
Ia mengatakan para petani yang menyumbangkan hasil panen merupakan warga yang terus berjuang mempertahankan lahan garapan mereka.
Konflik tersebut, lanjutnya, telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu dan hingga kini masih menyisakan persoalan hukum.
Bahkan, dua petani disebut telah dilaporkan ke kepolisian dan kasusnya telah memasuki tahap penyidikan.
Meski demikian, para petani tetap memilih berpartisipasi dalam aksi dengan menyumbangkan hasil bumi mereka sebagai bentuk solidaritas.
Bagi mereka, Dapur Rakyat tidak hanya menjadi tempat memasak, tetapi juga menjadi simbol gotong royong dan kebersamaan dalam mendukung jalannya aksi Jateng Guyub. (*)