TRIBUNJATENG.COM, YOGYAKARTA - Setidaknya sudah ada lima calon Ketua Umum PBNU yang bersilaturahmi secara langsung ke PWNU DIY jelang Muktamar ke-35 NU.
Klaim tersebut pun disebut KH Zuhdi Muhdlor sebagai bagian silaturahmi, tidak semata-mata meminta dukungan dalam bursa pencalonan Ketua Umum PBNU.
Dari kelima tokoh yang sudah datang ke Yogyakarta, KH Zuhdi menegaskan belum ada satupun yang dipastikan akan memperoleh dukungan dari PWNU DIY.
Sehingga dipastikan, hingga saat ini, PWNU DIY belum menentukan arah dukungan terkait calon Ketua Umum PBNU periode mendatang.
Baca juga: Gus Rozin Nyatakan Maju Jadi Calon Ketua Umum PBNU, Minta Doa dan Dukungan PCNU se-Jateng
Meskipun gelaran Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026 di Jawa Timur, sikap PWNU DIY dipastikan masih cair dan dinamis.
Ketua PWNU DIY, KH Zuhdi Muhdlor mengungkapkan dinamika jelang Muktamar NU merupakan bagian dari ritual organisasi yang wajar dan rutin terjadi.
Menurutnya, PWNU DIY belum condong ke figur manapun lantaran seluruh nama yang beredar merupakan kader-kader terbaik Nahdlatul Ulama.
"Kami belum, kondisinya masih cair. Kami belum menentukan siapanya yang akan didukung," terangnya seperti dilansir dari TribunJogja.com, Kamis (23/7/2026).
KH Zuhdi tidak menampik, deretan nama potensial kandidat Ketum PBNU sudah bersilaturahmi serta melakukan komunikasi secara intensif dengan PWNU DIY.
Bahkan sampai sejauh ini, hampir seluruh figur yang dijagokan masuk dalam bursa calon ketua umum sudah sowan langsung ke Yogyakarta.
Beberapa tokoh yang dimaksud itu adalah KH Muhammad Yusuf Chudlori, KH Abdussalam Shohib, KH Abdul Hakim Mahfudz, petahana KH Yahya Cholil Staquf, hingga KH Zulfa Mustofa.
"Kontak ke PWNU sudah. Bahkan hampir semuanya sudah sowan."
"Ada Gus Yusuf, Gus Salam, Gus Kikin, Pak Yahya, lalu Kiai Zulfa. Mereka silaturahmi saja," ungkapnya.
Kendati sudah disambangi secara langsung oleh para kandidat, PWNU DIY memilih tetap bersikap normatif dan memberikan porsi perlakuan yang setara.
• KMN Dorong Gus Yusuf Maju Jadi Calon Ketua Umum PBNU di Muktamar Ke-35 NU
Bagi PWNU DIY, kedatangan para kandidat tidak sekadar menjadi ajang nostalgia atau formalitas silaturahmi dengan struktural NU di tingkat provinsi belaka.
Pengurus wilayah memanfaatkan momentum tersebut layaknya ujian kelayakan dan kepatutan guna membedah program kerja serta arah strategis yang ditawarkan para calon.
"Kami seperti fit and proper test untuk mengetahui strategi perjuangannya seperti apa, fokus yang akan ditangani seperti apa."
"Jadi tidak semata-mata mereka datang, mau nyalon, lalu kami dukung. Tetap kami ingin mengerti juga bagaimana visinya," tegasnya.
Bukan tanpa alasan, KH Zuhdi menilai, peta kepemimpinan Nahdlatul Ulama ke depan dihadapkan pada deretan tantangan yang tidak ringan.
Selain problematika internal dan keumatan yang semakin kompleks, nakhoda PBNU mendatang juga harus responsif terhadap ketidakpastian serta dinamika geopolitik global.
Sehingga, PWNU DIY mendesak agar figur pimpinan PBNU mendatang memiliki keseimbangan visi perjuangan, baik konsolidasi ke dalam struktur keumatan maupun manuver diplomasi luar negeri.
"Harapan kami, pemimpin NU ke depan itu yang punya visi ke dalam, tapi juga punya visi ke luar yang mumpuni."
"Siapa tahu cocok antara visi Yogyakarta dengan visi mereka," pungkasnya. (*)
Sumber TribunJogja.com