Sebuah bus AKDP tabrak pohon dan tiang lampu penerengan di Jalan Adinegoro, Lubuk Buaya, Padang.
Di lokasi berbeda, jajaran kepolisian menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan di Gunung Sarik dengan memperagakan 27 adegan yang disaksikan langsung oleh keluarga korban.
Selain itu, warga Padang dihebohkan dengan penemuan pria berusia 58 tahun yang meninggal dunia di dalam toilet Masjid Nurul Yaqin setelah kecurigaan muncul akibat sepasang sandal yang lama terparkir di depan pintu.
Rangkaian peristiwa ditutup dengan penemuan mayat pria tanpa identitas yang mengapung di kawasan Pelabuhan Muaro Padang, di mana saat ini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap identitas korban.
Baca selangkapnya:
1. Saksi Ungkap Detik-detik Kecelakaan Bus Terguling di Padang, Korban Dievakuasi Lewat Kaca Depan
Salah seorang saksi mata di lokasi kejadian, Hen, menceritakan detik-detik bus AKDP rute Pariaman-Padang mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Adinegoro, Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Kamis (23/7/2026) pagi.
Saat peristiwa terjadi, Hen mengaku sedang menyusun botol bensin eceran di depan tempat usahanya yang berada tidak jauh dari lokasi kecelakaan.
Menurutnya, laju bus tidak dalam kecepatan tinggi. Ia memperkirakan kendaraan hanya melaju sekitar 30 hingga 40 kilometer per jam sebelum akhirnya kehilangan kendali.
"Saya lihat bus itu tidak kencang, paling sekitar 30 sampai 40 kilometer per jam. Awalnya bus sudah seperti miring ke arah trotoar tengah, lalu menabrak batang kayu, kemudian menghantam tiang lampu penerangan jalan, menabrak batang kayu lagi, baru akhirnya rebah," kata Hen.
Ia juga memastikan kondisi jalan saat itu relatif sepi sehingga tidak ada kendaraan lain yang terlibat dalam kecelakaan tersebut.
Baca juga: Fakta Baru Terungkap Saat Rekonstruksi Pembunuhan di Kuranji: Tersangka Sudah Bawa Pisau Sejak Awal
"Saat kejadian jalan kosong, tidak ada kendaraan lain. Bus menabrak pohon lalu jatuh ke sisi kiri," ujarnya.
Mendengar suara benturan keras disusul teriakan dari dalam bus, Hen langsung berlari menuju lokasi sambil meminta pertolongan warga sekitar.
"Setelah bus jatuh saya dengar orang-orang berteriak dari dalam. Saya langsung lari ke sana sambil berteriak minta tolong. Tidak lama teman saya datang membantu," katanya.
Hen mengatakan posisi bus yang rebah ke sisi kiri membuat pintu keluar utama tidak dapat digunakan karena tertutup badan kendaraan.
Akibatnya, ia bersama rekannya mengambil inisiatif memecahkan kaca depan bus agar para penumpang bisa dievakuasi.
Baca juga: Wakasau Resmikan Bakti TNI AU 2026 di Padang, Gelar Pengobatan Gratis hingga Renovasi Rumah Ibadah
"Karena pintunya di sebelah kiri dan bus rebah ke kiri, penumpang tidak bisa keluar. Jadi kami tendang kaca depan sampai pecah, lalu dari situ satu per satu korban kami keluarkan," tuturnya.
Saat memasuki bagian dalam bus, Hen melihat sejumlah penumpang mengalami luka-luka. Bahkan, seorang penumpang lanjut usia disebut sempat terjepit di bagian belakang kendaraan.
"Di dalam banyak yang luka. Ada satu bapak yang sudah tua terjepit di belakang bus," katanya.
Hen mengungkapkan sopir menjadi salah satu korban dengan kondisi luka cukup serius.
Menurutnya, wajah sopir dipenuhi darah yang diduga akibat terkena pecahan kaca.
"Sopir kondisinya cukup parah, wajahnya penuh darah. Yang pertama kami keluarkan dua perempuan, lalu seorang ibu yang sudah tua, kemudian sopir, terakhir dua bapak yang sudah tua di bagian belakang. Ada juga yang sempat terjepit," ujarnya.
Baca juga: Rekonstruksi Kasus Pembunuhan di Gunung Sarik Padang: Bahas Tugas Jaga Malam Berujung Penusukan
Setelah berhasil mengeluarkan para korban, Hen bersama warga lain meletakkan korban di tepi jalan sambil menghentikan kendaraan yang melintas untuk meminta bantuan membawa mereka ke Puskesmas Lubuk Buaya.
Ia menambahkan proses penyelamatan terhadap salah seorang korban berlangsung cukup sulit karena tubuh korban terjepit badan bus.
Warga sempat berusaha mengangkat badan kendaraan, namun gagal karena terlalu berat.
"Awalnya kami coba angkat bodi bus, tapi tidak sanggup. Setelah orang semakin ramai baru bisa diangkat bersama-sama," katanya.
Karena masih sulit dievakuasi, warga akhirnya memecahkan kaca belakang bus untuk mengeluarkan korban yang terjepit.
Baca juga: Harga TBS Pasaman Barat Terbaru: Paling Tinggi Tembus Rp 3.959 per Kg
"Terpaksa kaca belakang dipecahkan supaya bapak itu bisa dikeluarkan. Sepertinya kakinya patah karena terjepit," tutur Hen.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 05.00 WIB. Bus dilaporkan terguling setelah diduga sopir membanting kemudi untuk menghindari sepeda motor yang melaju tanpa lampu.
Berdasarkan informasi yang dihimpun TribunPadang.com, bus datang dari arah Pariaman menuju Kota Padang.
Dalam video yang beredar, kendaraan tampak rebah ke sisi kiri dengan kondisi mengalami kerusakan cukup parah. Pecahan kaca dan bagian bodi bus berserakan di sekitar lokasi kejadian.
Pantauan reporter TribunPadang.com, Fajar Alfaridho Herman di lokasi sekitar pukul 08.30 WIB menunjukkan bekas kecelakaan masih terlihat jelas.
Baca juga: Sandal Terparkir Jadi Petunjuk, Pria Paruh Baya Ditemukan Tak Bernyawa dalam Toilet Masjid di Padang
Sejumlah batang kayu di tepi jalan tampak patah, sementara sebuah tiang lampu penerangan jalan mengalami kerusakan akibat dihantam bus.
Selain itu, pecahan kaca, serpihan bodi kendaraan, hingga bekas tumpahan oli masih berserakan di badan jalan.
Saat reporter tiba di lokasi, bus telah dievakuasi menggunakan mobil towing milik Satuan Lalu Lintas Polresta Padang. Proses evakuasi sempat menyebabkan arus lalu lintas di Jalan Adinegoro tersendat selama beberapa menit.
Namun, sekitar pukul 08.50 WIB, arus kendaraan kembali normal setelah bangkai bus berhasil dipindahkan.
Saudara kandung sopir bus, Ismul, mengaku mengetahui kabar kecelakaan dari salah seorang penumpang yang menghubunginya melalui telepon.
Ia mengatakan saat itu dirinya juga bersiap menjalankan perjalanan dengan bus lain.
"Saya dapat telepon dari penumpang yang mengabarkan kalau bus adik saya kecelakaan. Saya langsung terkejut dan bergegas menuju lokasi," ujarnya.
Baca juga: Kondisi Korban Kecelakaan Bus AKDP di Lubuk Buaya Padang: Sopir dan 7 Penumpang Luka-Luka
Setibanya di lokasi, seluruh korban disebut telah dievakuasi menuju puskesmas dan rumah sakit, sementara bus masih berada di lokasi kejadian.
Menurut informasi yang diterimanya dari sang adik, kecelakaan bermula ketika sebuah sepeda motor melintas dengan kondisi lampu tidak menyala.
"Bus dari arah Pariaman menuju Padang. Sesampainya di dekat lokasi, ada motor dengan kondisi lampu tidak hidup. Adik saya kaget lalu membanting setir ke kanan, kemudian menabrak pohon dan tiang lampu hingga akhirnya bus rebah," katanya.
Ismul menyebut jumlah penumpang di dalam bus tidak terlalu banyak, diperkirakan sekitar 10 orang.
Sebagian besar penumpang merupakan warga yang hendak berjualan ke pasar sehingga bus juga membawa banyak barang dagangan.
Baca juga: Semen Padang FC Mulai Tunjukkan Perkembangan Positif, Kekompakan Tim Disebut Kian Terlihat
"Informasinya penumpang sekitar 10 orang. Rata-rata orang yang mau pergi berjualan ke pasar, jadi barang dagangan juga banyak di dalam bus," ujarnya.
Ia mengaku belum mengetahui secara pasti kondisi seluruh korban karena masih akan menuju rumah sakit untuk memastikan keadaan adiknya dan para penumpang.
"Kalau kondisi korban saya belum tahu. Kabarnya adik saya mengalami luka di bagian wajah akibat terkena pecahan kaca," katanya. (*)
2. 27 Adegan Rekonstruksi Pembunuhan di Kuranji, Istri Korban: Anak Jadi Terlantar, Kami Orang Susah
Duka mendalam masih menyelimuti keluarga Hari Zanto, korban kasus penusukan fatal di Jalan Gurun Panjang, Kelurahan Gunung Sarik, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.
Suasana haru tak terelakkan saat istri korban, Nur Erni Yusnita, menyaksikan dari dekat proses rekonstruksi yang memperagakan detik-detik tewasnya sang suami, Kamis (23/7/2026).
Nur melihat secara langsung sosok tersangka berinisial A mengenakan baju tahanan hijau dengan kedua tangan terikat borgol memperagakan 27 adegan reka ulang di tempat kejadian perkara (TKP).
Bagi Nur dan keluarga, kepergian suami yang menjadi tulang punggung utama keluarga meninggalkan pukulan yang sangat berat, tak hanya secara emosional tetapi juga ekonomi.
Baca juga: Saksi Ungkap Detik-detik Kecelakaan Bus Terguling di Padang, Korban Dievakuasi Lewat Kaca Depan
"Anak-anak kami jadi terlantar, sementara kami ini orang susah," tutur Nur dengan nada haru di sekitar lokasi rekonstruksi.
Kehilangan sosok pelindung keluarga secara mendadak membuat masa depan anak-anak mereka kini dipenuhi ketidakpastian.
Melihat jalannya rekonstruksi yang memperlihatkan bagaimana suaminya dianiaya hingga merenggut nyawa, Nur berharap keadilan dapat ditegakkan seadil-adilnya dalam proses hukum yang sedang berjalan.
Ia meminta agar majelis hakim kelak menjatuhkan hukuman yang paling berat dan setimpal atas perbuatan keji yang dilakukan oleh tersangka.
"Kami sangat berharap pelaku dijatuhi hukuman yang setimpal, kalau bisa hukuman mati," tegas Nur meluapkan kepedihan hatinya.
Baca juga: Fakta Baru Terungkap Saat Rekonstruksi Pembunuhan di Kuranji: Tersangka Sudah Bawa Pisau Sejak Awal
Rekonstruksi memperagakan 27 adegan tersebut sempat diwarnai aksi saling bantah antara tersangka dan para saksi.
Pantauan Reporter TribunPadang.com, Arif Ramanda sejak Kamis pagi, aparat kepolisian telah bersiaga di tempat kejadian perkara (TKP).
Warga sekitar yang penasaran juga berbondong-bondong mendatangi lokasi untuk menyaksikan dari dekat proses reka ulang peristiwa berdarah tersebut.
Ketegangan sempat terasa saat tersangka berinisial A tiba di lokasi kejadian dengan mengendarai mobil tahanan.
Tatapan warga langsung tertuju kepada pria yang mengenakan baju tahanan berwarna hijau dengan kondisi kedua tangan terborgol itu.
Rekonstruksi dimulai dengan memperagakan kedatangan tersangka A ke rumah korban.
Pertemuan di teras rumah tersebut awalnya dimaksudkan untuk membahas persoalan pembagian tugas jaga malam dan pengangkutan barang proyek.
Namun, pembicaraan di antara keduanya mulai memanas hingga berujung pada cekcok mulut.
Situasi berubah drastis dan makin memuncak saat tersangka mendadak mencabut sebilah pisau dari balik pinggangnya.
Melihat tersangka mengacungkan senjata tajam, korban berusaha menenangkan situasi.
Baca juga: Rekonstruksi Kasus Pembunuhan di Gunung Sarik Padang: Bahas Tugas Jaga Malam Berujung Penusukan
Menyadari bahaya yang mengancam, korban kemudian memilih untuk melarikan diri demi menyelamatkan diri.
Nahas, saat berupaya kabur, langkah kaki korban tersandung hingga terjatuh di halaman. Kesempatan tersebut langsung dimanfaatkan oleh tersangka A untuk menyerang korban.
Dalam posisi korban yang tak berdaya di tanah, tersangka langsung menghujamkan pisaunya tepat ke arah perut korban. Meski terluka parah, korban masih sempat bangkit dan berusaha kembali melarikan diri dari kejaran tersangka.
Saksi yang melihat kejadian itu segera membawa korban ke rumah sakit terdekat, tetapi nyawa korban tidak dapat tertolong akibat luka robek yang sangat serius di bagian perut.
Kapolsek Kuranji Kompol Hendri yang dijumpai di lokasi rekonstruksi menyampaikan bahwa peristiwa penganiayaan berat hingga menewaskan korban ini terjadi sekitar bulan April lalu.
Rekonstruksi baru dapat digelar sekarang untuk melengkapi berkas penyidikan.
"Proses rekonstruksi berlangsung lancar dengan total 27 adegan yang diperagakan. Perbedaan keterangan atau aksi saling bantah antara saksi dan tersangka dalam rekonstruksi adalah hal yang wajar," ujar Hendri.
Hendri menambahkan, titik adegan yang paling krusial terletak pada momen perdebatan di awal hingga aksi penusukan terjadi.
Baca juga: Sandal Terparkir Jadi Petunjuk, Pria Paruh Baya Ditemukan Tak Bernyawa dalam Toilet Masjid di Padang
Dari hasil keterangan sementara, tersangka mengaku pisau tersebut memang sudah dibawanya sejak awal di dalam sepeda motor.
Saat ini kasus tersebut masih dalam tahap penyidikan intensif sebelum diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang kelak membuat kesimpulan akhir penuntutan.
Selama reka ulang berlangsung, pengamanan ketat diterjunkan dari personel Polsek Kuranji dan Polresta Padang.
Korban diketahui bernama Hari Zanto, meninggal dunia usai mengalami luka robek di bagian perut akibat tusukan senjata tajam.
Kepala Subunit Operasional Satuan Reserse Kriminal Polresta Padang, Ipda Ryan Fermana, mengatakan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 12.15 WIB saat terlapor berinisial A mendatangi rumah korban.
Baca juga: Breaking News: Bus AKDP Pariaman-Padang Terguling di Lubuk Buaya, Diduga Hindari Motor Tanpa Lampu
"Korban memang meninggal usai mengalami luka robek di perut, setelah mendapatkan tusukan senjata tajam dari pelaku," ucapnya saat dikonfirmasi, Rabu (29/4/2026).
Korban kata Ipda Ryan, sempat dilarikan ke rumah sakit oleh pelapor, Nur Erni Yusnita (48) namun sekitar pukul 13.30 WIB dinyatakan meninggal dunia.
Sebelum kejadian, keduanya sempat terlibat percakapan di teras rumah yang diduga membuat situasi menjadi memanas.
“Setelah itu terlapor mengeluarkan pisau dari pinggangnya,” ujar Ipda Ryan.
Korban sempat berkata “sabalah ade” dan mencoba melarikan diri. Akan tetapi, saat berlari korban tersandung kursi hingga terjatuh terlentang.
Dalam kondisi terjatuh tersebut, terlapor langsung menusukkan pisau ke arah perut korban.
Baca juga: Bus AKDP di Padang Hantam Pohon dan Tiang Lampu Usai Hindari Motor, Nihil Korban Jiwa
"Korban sempat kembali berlari sekitar 10 meter sebelum akhirnya terjatuh lagi dan kemudian dibawa ke rumah sakit dan meninggal dunia," sebutnya.
Ia menambahkan bahwa pihaknya mendapatkan informasi jika terduga pelaku telah menyerahkan diri kepada keluarga.
"Kemudian pihak keluarga terduga pelaku mengantarkannya ke Polresta Padang," pungkasnya.(*)
3. Sandal Terparkir Jadi Petunjuk, Pria Paruh Baya Ditemukan Tak Bernyawa dalam Toilet Masjid di Padang
Seorang pria berusia 58 tahun ditemukan meninggal dunia di dalam toilet Masjid Nurul Yaqin, RT 01 RW 04, Kelurahan Bungo Pasang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Kamis (23/7/2026) sekitar pukul 00.23 WIB.
Kasi Humas Polresta Padang, Ipda Wadhi Nofianto, mengatakan laporan penemuan jenazah diterima petugas pada dini hari sebelum personel kepolisian diterjunkan ke lokasi.
Korban diketahui bernama Bastianto (58). Korban sehari-hari bekerja sebagai penjual buah dan merupakan warga Sekuliek, Kelurahan Koto Panjang Ikua Koto, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.
Baca juga: Warga Curiga karena Bau Menyengat, Lansia Meninggal Membusuk di Padang
Penemuan jenazah bermula saat seorang saksi, Zaipuldi (45), pedagang yang merupakan warga Surau Gadang, Koto Panjang Ikua Koto, berada di area Masjid Nurul Yaqin.
Saat itu, saksi melihat sepasang sandal masih berada di tempat parkir masjid. Kondisi tersebut menimbulkan kecurigaan sehingga ia berinisiatif memeriksa keadaan di sekitar masjid.
"Ketika mengecek ke toilet masjid, saksi mendapati pintu dalam keadaan terkunci dari dalam. Karena tidak ada jawaban, saksi kemudian mencari bangku untuk melihat kondisi di balik pintu," kata Wadhi.
Setelah mengintip dari bagian atas toilet, saksi mendapati seorang pria tergeletak di dalam ruangan dalam kondisi tidak bergerak.
Baca juga: Breaking News: Bus AKDP Pariaman-Padang Terguling di Lubuk Buaya, Diduga Hindari Motor Tanpa Lampu
Mendapat laporan tersebut, personel piket SPKT, Satreskrim, Satlantas, Bhabinkamtibmas, serta Tim Identifikasi Polresta Padang langsung menuju lokasi kejadian.
Saat petugas tiba di lokasi, jenazah korban diketahui telah dievakuasi oleh pihak keluarga. Polisi kemudian melakukan pendataan serta meminta keterangan dari sejumlah saksi.
Baca juga: Kondisi Korban Kecelakaan Bus AKDP di Lubuk Buaya Padang: Sopir dan 7 Penumpang Luka-Luka
Berdasarkan hasil koordinasi dengan keluarga, pihak keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan visum luar maupun visum dalam terhadap jenazah korban.
Penolakan tersebut diperkuat dengan surat pernyataan yang ditandatangani pihak keluarga.
Wadhi mengatakan penanganan kasus telah dilakukan sesuai prosedur. Hingga saat ini, pihak keluarga tidak mengajukan keberatan atas peristiwa tersebut, sementara penyebab pasti meninggalnya korban belum disampaikan oleh pihak kepolisian.(*)
4. Mayat Pria Ditemukan Mengapung di Pelabuhan Muaro Padang, Polisi Selidiki Identitas Korban
Warga di kawasan Pelabuhan Muaro Padang, Jalan Batang Arau, Kelurahan Berok Nipah, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), digegerkan dengan penemuan sesosok mayat laki-laki yang mengapung di sela-sela kapal, Kamis (23/7/2026).
Korban yang belum diketahui identitasnya atau Mister X ditemukan dalam kondisi tertelungkup sekitar pukul 10.30 WIB.
Mendapat laporan dari masyarakat, personel Satpolairud Polresta Padang langsung menuju lokasi untuk memastikan informasi tersebut.
Kasat Polairud Polresta Padang melalui Ps Kasubnit Tindak Unit Gakkum Satpolairud Polresta Padang, Aipda Renol Seprijal membenarkan adanya penemuan mayat tersebut.
Ia mengatakan, saat dirinya tiba di lokasi, jenazah telah lebih dulu dievakuasi oleh tim gabungan.
Baca juga: Jalan Menuju SMPN 5 Padang Diperbaiki, PUPR Tambal 15 Titik Usai Laporan Warga
"Benar, kami mendapat laporan dari masyarakat yang berada di pinggir Pantai Muaro Padang. Setelah menerima informasi itu, personel langsung menuju lokasi di Pelabuhan Muaro Padang, dekat kantor kami," ujar Renol.
Namun, saat petugas Satpolairud tiba, proses evakuasi telah dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari TNI AL, kepolisian, masyarakat, serta unsur terkait lainnya.
"Mayat sudah dievakuasi menggunakan ambulans Mentawai Fast dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Padang. Saat ini masih dilakukan proses identifikasi oleh Tim Inafis Polresta Padang," katanya.
Renol menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterima, korban pertama kali ditemukan oleh anak buah kapal (ABK) yang berada di sekitar lokasi.
"Korban pertama kali ditemukan sekitar pukul 10.30 WIB oleh ABK. Sekitar 20 menit kemudian atau pukul 10.50 WIB proses evakuasi sudah selesai dilakukan," jelasnya.
Baca juga: Pelabuhan Teluk Tapang Diusulkan Jadi PSN, Sumbar Dorong Industri Hijau dan Reaktivasi Kereta Api
Sementara itu, berdasarkan keterangan yang diunggah Ditpolairud Polda Sumbar melalui media sosial resminya, personel Piket SAR dan Piket Gakkum Ditpolairud Polda Sumbar menerima laporan masyarakat sekitar pukul 10.38 WIB terkait adanya sesosok mayat laki-laki yang mengapung di sela-sela kapal di kawasan Pelabuhan Muaro Padang.
Petugas kemudian bergerak ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta mengevakuasi jenazah ke darat.
Korban ditemukan mengenakan kaus lengan pendek bermotif belang hitam putih dan celana panjang hitam.
Selanjutnya, jenazah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Padang untuk menjalani pemeriksaan oleh Tim Biddokkes dan Inafis Polda Sumbar sebagai bagian dari proses identifikasi dan penyelidikan.
Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Padang, Kompol Harry Andromeda mengatakan hingga Kamis sore belum ada pihak keluarga yang datang untuk mengaku sebagai keluarga korban.
"Sampai detik ini kami masih menunggu ada keluarga yang merasa kehilangan datang ke rumah sakit. Dari sidik jarinya belum dapat identitasnya, sehingga kami masih menunggu selama 3x24 jam," ujar Harry.
Baca juga: PT Semen Padang Raih Predikat AA Akreditasi Kearsipan dari ANRI
Meski identitas korban belum diketahui, Harry memastikan kondisi sidik jari korban masih dalam keadaan baik sehingga proses identifikasi masih terus dilakukan.
"Belum lama berada di dalam air. Sidik jarinya masih bagus, cuma memang belum berhasil mengungkap identitasnya," katanya.
Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui identitas korban maupun penyebab pasti kematiannya.
Polisi juga mengimbau masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga agar segera menghubungi pihak berwenang atau datang ke Rumah Sakit Bhayangkara Padang untuk membantu proses identifikasi. (*)