Lamongan vs Banyuasin, Menguji Dompet Daerah Penghasil Beras Terbesar Nasional
Yandi Triansyah July 24, 2026 08:27 AM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Di peta ketahanan pangan Nusantara, nama Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Banyuasin bukanlah pemain baru.

Keduanya adalah raksasa hijau, bentangan sawah yang tak henti menyuplai bulir-bulir beras demi menjaga piring jutaan rakyat Indonesia tetap terisi.

Lamongan, kabupaten di Jawa Timur yang tersohor dengan racikan hangat soto khasnya, mencatatkan diri sebagai salah satu lumbung padi paling produktif di Pulau Jawa.

Saban tahun, tanah Lamongan memuntahkan tak kurang dari 461 ribu ton beras.

Namun, jika melangkah menyeberang ke Sumatra Selatan, ada Banyuasin yang berdiri tegak memegang predikat puncak.

Sebagai penghasil beras terbesar di Tanah Air, Banyuasin mengukir catatan produksi yang mencengangkan: 676 ribu ton beras per tahun.

Meski begitu, mahkota sebagai lumbung beras tak otomatis membuat kas daerah melimpah ruah.

Saat performa panen disandingkan dengan daya gedor Pendapatan Asli Daerah (PAD), potret menarik justru mengemuka.

Kontras Angka di Atas Kertas

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kemenkeu per 23 Juli 2026, peta kekuatan finansial kedua daerah penghasil beras ini menunjukkan kontras yang lumayan tajam.

Lamongan memasang target PAD 2026 yang cukup ambisius di angka Rp693 miliar.

Memasuki paruh kedua tahun ini, napas keuangan Lamongan terbilang stabil. Realisasi kas mereka sudah menembus Rp357 miliar atau telah melewati separuh target (51,51 persen).

Sinyal positif bahwa mesin pendapatan lokal mereka bergerak relatif lancar.

Di sisi lain, Banyuasin yang unggul telak dalam volume produksi beras nasional, justru harus bekerja ekstra keras di sektor pendapatan daerah.

Target PAD Banyuasin tahun ini dipatok sebesar Rp403,95 miliar jauh di bawah Lamongan.

Tak hanya target yang lebih kecil, laju serapan kas Banyuasin per Juli 2026 pun masih merangkak di angka Rp164,35 miliar (40,69 % ).

Artinya, dalam lima bulan tersisa, pemerintah daerah Banyuasin memikul PR cukup berat untuk mengejar sisa 59,31 % target pendapatan.

Fenomena perbandingan kas Lamongan dan Banyuasin ini menegaskan tantangan klasik daerah agraris di Indonesia.

Status sebagai "pahlawan pangan nasional" tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya retribusi atau pajak daerah yang masuk secara langsung ke kas pemda.

Lamongan perlahan membuktikan kemampuannya mengoptimalkan potensi lokal untuk menyokong lebih dari separuh target PAD di pertengahan tahun.

Sementara Banyuasin, sang juara produksi beras nasional, kini dituntut memutar otak lebih keras agar kejayaan sektor pertaniannya mampu menetes menjadi kemandirian fiskal daerah yang lebih kokoh.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.