Ada 200 Petani Keramba di Ngargotirto Sragen, Fenomena Upwelling Jadi Ancaman Tahunan
Putradi Pamungkas July 24, 2026 10:19 AM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN – Sebanyak 200 petani keramba di Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah masih menghadapi ancaman fenomena upwelling yang rutin terjadi di Waduk Kedung Ombo (WKO) saat musim kemarau.

Kepala Desa Ngargotirto, Sumadi, menyebut fenomena tersebut bukan kejadian baru karena hampir selalu muncul setiap tahun dan bahkan dapat terjadi hingga beberapa kali dalam satu musim.

"Ini fenomena tahunan, tiap tahun pasti ada, para petani sudah diantisipasi dengan digeser namun karena faktor kencang, jadi pergeseran karamba terlambat, ini kejadian pertama di tahun ini, namun kondisi seperti ini bisa kena 2 - 3 kali," kata Sumadi, Kamis (23/7/2026).

MERUGI GEGARA UPWELLING - Penampakan puluhan ton ikan mati di kolam keramba Waduk Kedung Ombo di Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Kamis (23/7/2026). Kematian ini membuat petani ikan merugi ratusan juta rupiah.
MERUGI GEGARA UPWELLING - Penampakan puluhan ton ikan mati di kolam keramba Waduk Kedung Ombo di Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Kamis (23/7/2026). Kematian ini membuat petani ikan merugi ratusan juta rupiah. (TribunSolo.com/Istimewa)

Fenomena Ikan Mati

Fenomena upwelling yang terjadi dalam beberapa hari terakhir berdampak pada budidaya ikan milik warga di Waduk Kedung Ombo.

Akibat pembalikan massa air tersebut, puluhan ton ikan yang dipelihara di keramba dilaporkan mati.

Sumadi menjelaskan, peristiwa itu mulai terjadi sekitar dua hari lalu.

Menurutnya, kematian ikan dipicu meningkatnya kadar amonia di sekitar area keramba yang terdampak.

"Fenomena ini mulai terjadi dua hari yang lalu," ujar Sumadi.

Ia mengatakan ikan yang mati didominasi ikan nila dan ikan mas. Total ikan yang mati diperkirakan mencapai puluhan ton.

"Ada puluhan ton ikan yang mati karena fenomena ini," kata dia.

Baca juga: Begadang Semalaman Geser Keramba, Petani WKO Sragen Tetap Gagal Selamatkan Puluhan Ton Ikan

Rugi Besar

Akibat kejadian tersebut, petani keramba harus menanggung kerugian yang nilainya tidak sedikit.

Sumadi menyebut besarnya kerugian yang dialami setara dengan harga satu unit mobil Toyota Avanza baru.

"Satu kolam habis pakan ikan 4,5 ton, sedangkan harga pakan ikan untuk 3 ton saja sudah Rp 34 juta, atau biaya per petaknya Rp 50 juta," kata dia.

Untuk meminimalkan kerugian, para petani sebenarnya telah berupaya memindahkan keramba ke lokasi yang dianggap lebih aman.

Bahkan, sebagian petani rela berjaga semalaman agar ikan peliharaannya bisa diselamatkan.

Namun, upaya tersebut tidak selalu berhasil. Angin kencang yang melanda kawasan waduk membuat proses pemindahan keramba terlambat sehingga sebagian ikan telanjur mati.

"Yang mati banyak ya, Satu kolam 1-3 ton ikan, total bisa bisa puluhan ton, yang kena kolam yang padat-padat dan besar-besar ikan-ikan, karena yang punya banyak jadi yang kena gak kelihatan," kata dia.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.