TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Di tengah ramainya Jalan Slamet Riyadi, Kota Solo, Jawa Tengah, berdiri sebuah bangunan bergaya klasik yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah kota.
Wisma Batari merupakan gedung bergaya arsitektur tradisional Jawa dengan atap limasan yang tinggi dan ornamen khas pada bagian fasad.
Bangunan ini memiliki halaman depan yang luas, area masuk yang terbuka, serta dilengkapi kanopi di sisi kanan dan kiri.
• Jejak Sejarah RSUD Ir Soekarno Sukoharjo, Bermula dari DKR hingga Menjadi Rumah Sakit Rujukan Tipe B
Penataan kursi dan dekorasi di pintu masuk menunjukkan bahwa gedung ini difungsikan sebagai tempat penyelenggaraan berbagai acara, seperti pernikahan, pertemuan, dan kegiatan masyarakat.
Bangunan itu adalah Wisma Batari, gedung yang kini dikenal sebagai lokasi pernikahan, wisuda, seminar, hingga berbagai acara masyarakat.
Namun jauh sebelum menjadi gedung pertemuan, Wisma Batari menyimpan jejak sejarah yang berkaitan dengan masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga kejayaan industri batik di Solo.
Wisma Batari yang beralamat di Jalan Slamet Riyadi Nomor 183, Kemlayan, Serengan, Solo, awalnya merupakan rumah tinggal bergaya Art Deco pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Bangunan ini memiliki satu gedung utama yang diapit paviliun di sisi kanan dan kiri.
Hingga kini, fasad depan bangunan masih mempertahankan karakter arsitektur aslinya meski bagian belakang telah mengalami beberapa kali renovasi.
Baca juga: Sejarah Museum Keraton Solo, Dari Pusat Administrasi Kerajaan Kini Direvitalisasi Berstandar Dunia
Memasuki masa pendudukan Jepang pada 1942, fungsi bangunan berubah drastis.
Wisma Batari dijadikan sebagai Markas Kempetai, yakni polisi militer Jepang yang dikenal memiliki peran penting dalam pengawasan keamanan selama masa pendudukan.
Bangunan ini menjadi salah satu saksi situasi politik menjelang kemerdekaan Indonesia.
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, pemerintah pendudukan Jepang di Surakarta mulai menyerahkan kekuasaan kepada bangsa Indonesia.
Namun, Komandan Kempetai saat itu dikabarkan menolak menyerahkan senjata tanpa perintah langsung dari Kaisar Jepang. Penolakan tersebut memicu pertempuran antara para pejuang Solo dengan pasukan Jepang pada Oktober 1945.
Selepas masa revolusi, kompleks bangunan ini kemudian digunakan sebagai kantor Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) serta menjadi pusat aktivitas Koperasi Batari.
Nama Batari ternyata bukan berasal dari kata "dewi", melainkan merupakan singkatan dari Batik Timur Asli Republik Indonesia.
Koperasi Batari sendiri resmi berdiri pada 1 Januari 1948, namun akar sejarahnya telah dimulai sejak 1937 melalui organisasi Persatuan Perusahaan Batik Bumiputera Surakarta (PPBS) yang didirikan oleh Haji Mufti, R.Ng. Kartohastono, dan B.H. Sofwan di kawasan Laweyan.
Organisasi tersebut lahir untuk menghimpun para pengusaha batik pribumi sekaligus memperkuat posisi mereka di tengah persaingan perdagangan pada masa itu.
Saat pendudukan Jepang, organisasi tersebut berganti nama menjadi Batik Kogyo Kumisi sebelum akhirnya berkembang menjadi Koperasi Batari setelah Indonesia merdeka.
Baca juga: Sejarah Sukoharjo: Dari Kawedanan Kasunanan Surakarta hingga Kini Genap 80 Tahun Jadi Kabupaten
Pada masa keemasannya, Koperasi Batari menjadi pusat aktivitas para pengusaha batik di Solo Raya.
Awalnya koperasi menaungi sekitar 10 koperasi primer batik yang bergerak dalam penyediaan bahan baku seperti kain mori, malam, serta perlengkapan membatik.
Keanggotaannya mencakup pengusaha batik skala kecil hingga besar.
Pada dekade 1960-an, wilayah kerja koperasi mengalami penyesuaian setelah kebijakan pemerintah yang mengharuskan setiap daerah memiliki koperasi sendiri.
Meski demikian, Batari tetap bertahan sebagai koperasi batik yang berpusat di Kota Solo.
Memasuki era 1980-an, industri batik tradisional menghadapi tantangan besar akibat munculnya kain bermotif batik hasil printing yang diproduksi secara massal dengan harga lebih murah.
Banyak pengusaha batik tulis dan cap tidak mampu bersaing sehingga beralih ke bidang usaha lain.
Walaupun demikian, Koperasi Batari tetap bertahan. Hingga kini koperasi tersebut masih memiliki sekitar 220 anggota, yang sebagian besar merupakan pelaku usaha batik. Keanggotaan bahkan dapat diwariskan kepada anak maupun cucu.
Untuk mengikuti perkembangan zaman, pengelola mulai mengembangkan model usaha baru.
Sejak sekitar tahun 1980-an, Wisma Batari mulai disewakan sebagai gedung pertemuan untuk berbagai kegiatan seperti resepsi pernikahan, seminar, wisuda, rapat, hingga pameran.
Kemudian pada 2011, kawasan ini juga bekerja sama dengan restoran Solo Bistro serta mengembangkan layanan dapur atau kitchen hub.
Meski fungsi ekonominya berkembang, koperasi tetap mempertahankan identitas Wisma Batari sebagai bagian dari sejarah industri batik Solo.
Nilai sejarah Wisma Batari mendapat pengakuan resmi ketika Pemerintah Kota Surakarta menetapkannya sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui SK Wali Kota Surakarta Nomor 646/1-R/1/2013.
Status tersebut membuat setiap renovasi harus melalui kajian bersama Dinas Kebudayaan agar tidak menghilangkan nilai sejarah bangunan.
Saat ini, bagian yang masih mempertahankan bentuk asli adalah fasad depan atau wajah bangunan, sedangkan sebagian besar area belakang telah mengalami penyesuaian sesuai kebutuhan.
Kini Wisma Batari bukan hanya menjadi bangunan bersejarah, tetapi juga ruang publik yang tetap aktif dimanfaatkan masyarakat.
Gedung ini rutin digunakan sebagai lokasi pernikahan, wisuda, seminar, pameran, kegiatan UMKM, hingga berbagai acara budaya.
(*)