TRIBUNKALTARA.COM - Akses transportasi sungai masih menjadi tantangan utama dalam pendistribusian bahan pangan ke wilayah pedalaman Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.
Kondisi tersebut turut dirasakan pelaku usaha tahu di Ujoh Bilang yang harus menyesuaikan jadwal pengiriman dengan debit air Sungai Mahakam.
Pemilik usaha Tahu Uap di Ujoh Bilang, Arul, mengatakan hasil produksinya tidak hanya dipasarkan di ibu kota kabupaten, tetapi juga dikirim ke sejumlah wilayah pedalaman seperti Long Bagun, Batu Majang hingga kawasan Hulu Mahakam.
Baca juga: Cerita Kelompok Tani di Sungai Mahakam, Obati Ikan dengan Daun Pepaya Tumbuk
Namun, pengiriman tidak dapat dilakukan secara rutin karena harus melewati sejumlah riam dan jalur sungai yang bergantung pada kondisi alam.
"Kalau pengiriman ke Hulu Mahakam itu tergantung kondisi air, kita enggak bisa memastikan. Kalau misalkan airnya lagi surut atau lagi banjir, kita enggak bisa," ujar Arul, belum lama ini.
Menurutnya, saat debit air terlalu rendah maupun ketika banjir, perjalanan menjadi berisiko sehingga distribusi harus ditunda hingga kondisi sungai kembali memungkinkan untuk dilalui.
Di tengah tantangan distribusi tersebut, usaha tahu yang telah dirintis keluarganya selama lebih dari 20 tahun juga menghadapi kenaikan biaya produksi.
Harga kedelai yang didatangkan dari Samarinda naik dari sekitar Rp500 ribu menjadi sekitar Rp800 ribu per karung.
Tidak hanya itu, permintaan tahu dalam beberapa bulan terakhir juga mengalami penurunan. Arul menilai kondisi tersebut dipengaruhi melemahnya daya beli masyarakat.
"Karena pesanan agak-agak sepi, kurang daya beli masyarakatnya," katanya.
Meski harus menghadapi tantangan distribusi, kenaikan harga bahan baku, dan penurunan permintaan, Arul tetap mempertahankan usahanya. (*)