Iran Gertak AS: Sejengkal Tanah Diinjak, Jutaan Rakyat Bakal Melawan
Darwin Sijabat July 24, 2026 01:50 PM

 

TRIBUNJAMBI.COM – Petinggi militer Iran melontarkan gertakan paling keras terhadap potensi invasi darat militer Amerika Serikat (AS). 

Panglima Tertinggi Angkatan Darat Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, memeringatkan Washington bahwa setiap jengkal pergerakan pasukan infantri AS yang nekat menerobos teritorial Iran bakal memicu perlawanan nasional yang mematikan.

Pernyataan berapi-api tersebut ditegaskan Hatami saat melakoni inspeksi mendadak ke markas komando gabungan Angkatan Darat, Pertahanan Udara, dan Angkatan Udara Iran di Provinsi Isfahan pada Rabu (22/7/2026). 

Di hadapan ribuan prajurit, Hatami mengonfirmasi seluruh matra Angkatan Bersenjata Iran kini menggembleng kesiapan tempur ke level tertinggi guna mengantisipasi skenario terburuk.

Hatami menilai Washington telah melakukan kekeliruan fatal dalam mengkalkulasi peta sosial-politik di Teheran jika berasumsi kedatangan tentara Amerika akan disambut karpet merah.

"Dulu, Amerika mengira jika mereka menginjakkan kaki di wilayah Iran, mereka akan disambut. Sebaliknya, mereka akan menghadapi permusuhan dan tekad teguh rakyat Iran," cetus Hatami menegaskan.

Ia menjamin bahwa ancaman kedaulatan akan memicu mobilisasi massa secara spontan. Seluruh elemen masyarakat bakal bersatu padu di garis depan pertempuran.

"Jika musuh menginjakkan kaki di wilayah Iran, mereka akan menghadapi jutaan warga Iran dengan senjata apa pun yang mereka miliki," tegas sang panglima militer.

Ketidakpercayaan Doktrin Damai dan Kontrol Selat Hormuz

Dalam inspeksi strategis tersebut, Hatami membeberkan alasan di balik agresifnya modernisasi alutsista Iran. 

Baca juga: AS Kirim Bom B-1 dan Pasukan ke Timur Tengah, Siapkan Opsi Perang Besar Vs Iran

Baca juga: Tolak Isu Kabur dari Kasus MBG, Nanik S Deyang Pamer Foto di Rumah Sakit

Ia menegaskan Teheran emoh menaruh kepercayaan sedikit pun pada janji manis atau komitmen diplomatik negara-negara musuh. Kekuatan militer internal adalah satu-satunya jaminan kedaulatan.

"Kami tahu bahwa pihak lain dapat melanggar perjanjian apa pun dan melakukan tindakan gegabah. Oleh karena itu, Iran tidak pernah berhenti memperkuat pertahanan dan kemampuan tempurnya," tuturnya diplomatis.

Selain mewanti-wanti potensi agresi darat, Hatami memungkas pernyataannya dengan menegaskan kontrol penuh Iran atas Selat Hormuz. Ia bersumpah setiap gempuran militer AS akan langsung dibayar tunai dengan balasan yang sepadan.

"Kami akan membalas serangan Amerika jika diserang. Mereka harus memahami bahwa Republik Islam Iran adalah kekuatan besar dan akan membela martabat nasionalnya," pungkas Hatami.

Iran Deklarasi Perang Skala Penuh Lawan AS

Sebelumnya, eskalasi militer di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai titik tergentingnya. 

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian secara terbuka mengumumkan bahwa negaranya kini resmi berada dalam kondisi perang skala penuh melawan Amerika Serikat (AS). 

Pernyataan dramatis ini dilayangkan pada Senin (20/7/2026) di tengah gelombang gempuran udara terbaru militer AS yang membombardir wilayah kedaulatan Iran.

Pengumuman perang ini dipicu oleh pecahnya kembali konfrontasi bersenjata setelah kesepakatan gencatan senjata sementara yang dicapai kedua negara pada Juni lalu dinyatakan runtuh total. 

Media pemerintah Iran beserta jajaran pejabat lokal mengonfirmasi bahwa jet-jet tempur AS melancarkan serangan udara intensif yang menyasar sejumlah objek vital di wilayah utara dan tengah Iran.

Baca juga: Sumpah Balas Trump: AS Gempur Iran 10 Malam Beruntun, Isfahan Membara

Baca juga: Hotman Paris Puji Anak Ferdy Sambo, Sentil Advokat dan Cerita Anak Lulusan Inggris

Menanggapi masuknya rudal-rudal Washington ke jantung teritorialnya, Presiden Pezeshkian menegaskan Teheran emoh mundur dan siap meladeni konfrontasi terbuka ini hingga tuntas.

“Faktanya, hari ini Republik Islam Iran sedang terlibat dalam perang skala penuh,” tegas Pezeshkian, sebagaimana dilaporkan oleh The Straits Times.

Dinamika konflik bersenjata yang pertama kali meletus sejak akhir Februari 2026 ini kian meluas menjadi konfrontasi regional yang saling mengunci. 

Washington secara konsisten menggempur fasilitas-fasilitas strategis Iran, sementara Teheran membalasnya dengan meluncurkan rudal ke barisan pangkalan dan aset militer AS di seluruh lanskap Timur Tengah.

Sebagai bentuk pembalasan instan atas agresi AS, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada 20 Juli mengonfirmasi telah membombardir serangkaian sasaran vital yang terafiliasi dengan kepentingan Amerika Serikat di tiga negara tetangga sekaligus, yakni Bahrain, Yordania, dan Suriah.

Meski arena pertempuran kian memanas, hingga saat ini faksi milisi Houthi di Yaman—salah satu sekutu terkuat Teheran—dilaporkan belum secara resmi menerjunkan kekuatan tempurnya secara langsung ke medan perang terbuka.

Baca juga: Sepi, Penampakan Kos di Muara Sabak Barat Setelah Sepekan Kematian Brigpol Eko Winarno

Baca juga: Sosok Chairul Anam, Eks Dirut Kebun Binatang Surabaya Kurangi Pakan Hewan, Korupsi Rp7,4 M

Baca juga: Harga Ikan Laut di Tungkal Tanjabbar Naik Rp10 Ribu, Pedagang: Cuaca dan Harga BBM Naik

Baca juga: Ngeper Usai Dakwaan Dokter Tifa Batal, Jaksa Disebut Bakal Lebih Jeli Jerat Roy Suryo

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.