TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Jambi, Iskandar Nasution, mengungkapkan sejumlah nama yang dinilai memiliki peluang maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 di Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Meski demikian, PWNU Jambi hingga kini belum menentukan arah dukungan kepada salah satu figur karena masih fokus mengawal persiapan dan kelancaran pelaksanaan muktamar.
"Soal sikap untuk mendukung siapa, belum. Belum ya, karena memang kita masih melihat perkembangan ke depan. Lebih kurang sebulan lagi jelang muktamar, kita masih membicarakan kelancaran muktamar dulu," kata Iskandar Nasution, Jumat (24/7/2026).
Menurut Iskandar, berdasarkan perkembangan yang ia amati, sejumlah tokoh mulai disebut-sebut memiliki peluang memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Di antaranya Prof Nasaruddin Umar, Gus Salam, Gus Yusuf, Kiai Zulfa, hingga Gus Kikin.
"Beberapa orang ini memang punya potensi untuk memimpin NU ke depan. Tapi kadang-kadang kan ada yang muncul nanti," ujarnya.
Secara khusus, Iskandar menilai Prof Nasaruddin Umar memiliki rekam jejak yang baik karena sejak lama aktif di lingkungan Nahdlatul Ulama dan merupakan kader NU.
Ia juga menyebut nama Kiai Zulfa, Gus Kikin, dan Gus Salam sebagai figur yang sama-sama memiliki peluang.
"Prof Nasaruddin Umar bagus. Selain itu ada juga Kiai Zulfa yang bagus, Gus Kikin, Gus Salam, dan masih banyak lagi yang lainnya. Semuanya bagus dan punya peluang masing-masing," katanya.
Meski banyak nama mulai beredar, Iskandar menegaskan hingga saat ini belum ada satu pun tokoh yang secara resmi mendeklarasikan diri sebagai calon Ketua Umum PBNU.
"Belum ada, belum ada deklarasi ya. Baru muncul nama di media saja," ujarnya.
Di sisi lain, PWNU Jambi berharap Muktamar ke-35 PBNU berlangsung aman, lancar, dan jauh dari kegaduhan.
Menurut Iskandar, seluruh proses muktamar harus tetap mengedepankan akhlakul karimah sebagai ciri khas Nahdlatul Ulama.
"Kami mendukung Muktamar ke-35 berjalan lancar dan sukses. Mudah-mudahan tidak terjadi kegaduhan, serta tetap mengedepankan akhlak yang baik. Itu harus ditunjukkan di hadapan para kiai," katanya.
Seperti Apa Sosok yang Dibutuhkan NU
Terkait sosok yang dibutuhkan untuk memimpin NU ke depan, Iskandar menilai figur tersebut harus memiliki kedekatan dengan tradisi pesantren.
"Kembali ke pondok istilahnya. Jadi pemimpin NU itu harus dekat dengan pondok," ujarnya.
Ia menegaskan NU tidak menolak kepemimpinan yang modern, namun pemimpin organisasi juga harus memiliki akhlakul karimah sehingga mampu menjadi teladan bagi warga Nahdliyin.
"NU bukan tidak mendukung kepemimpinan modern, tetapi juga harus memiliki akhlakul karimah yang baik sehingga bisa menjadi pedoman bagi warga NU," katanya.
Selain itu, Iskandar berharap kepemimpinan PBNU periode mendatang mampu memperkuat sinergi antara ulama dan umara dalam membangun bangsa.
"Jadi antara ulama dan umara itu harus bersinergi. Memang itu yang kita harapkan. Jangan sampai nanti antara ulama dan umara tidak bersinergi," pungkasnya. (Tribun Jambi/Sopianto)
Baca juga: Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Dinamika Calon PBNU dan Sikap Netral Jambi
Baca juga: Kasus Febrie Jadi Entertainment, Denny Kailimang Kritik Gaya Hotman Paris
Baca juga: Harga Ikan Laut di Tungkal Tanjabbar Naik Rp10 Ribu, Pedagang: Cuaca dan Harga BBM Naik