TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Di antara deretan kebaya yang dikenakan para wisudawati pada Wisuda Periode III Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), satu busana tampak berbeda.
Bukan karena warna atau siluetnya, melainkan motif struktur kimia yang menghiasi detail payetnya.
Kebaya tersebut dikenakan Tirza Widyamurti Brotosudarmo, lulusan Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Matematika (FSM) UKSW yang meraih Indeks Prestasi Tertinggi (IPT) 3,86 sekaligus menjadi mahasiswa berprestasi.
Bagi Tirza, kebaya itu bukan sekadar busana wisuda, tetapi simbol perjalanan akademik dan kecintaannya pada ilmu kimia.
Baca juga: UKSW Kukuhkan 649 Lulusan, Wisuda Periode III Tampilkan Capaian Mahasiswa Berprestasi
Tirza merancang kebayanya terinspirasi struktur senyawa kimia yang banyak memiliki cincin heksagonal atau struktur siklik yang merepresentasikan identitasnya sebagai mahasiswa kimia.
Warna kuning keemasan dipilih karena terinspirasi dari kurkumin, pigmen alami berwarna kuning dari kunyit (Curcuma longa Linn) yang menjadi topik penelitian skripsinya.
Sementara itu, perpaduan hijau dan kuning mengadopsi filosofi Jawa pareamon, yang melambangkan proses menanam dan menuai, dekat dengan perjalanan kuliah.
"Selama bertahun-tahun kita menanam ilmu, usaha, dan doa, lalu pada hari wisuda kita mulai menuai hasilnya," tuturnya, Jumat (24/7/2026).
Ia juga mengenakan jarik Batik Semen Gurdo, pemberian sang ayah, Titis Driharkoro Brotosudarmo.
Motif garuda pada batik sebagai simbol harapan untuk terus mengejar cita-cita.
Menariknya, blueprint pola payet pada kebaya tersebut dirancang sendiri oleh Tirza sebelum diwujudkan bersama penjahit Rumah Jahit Agnez.
Bagi Tirza, kebaya bermotif kimia menjadi bentuk penghormatan terhadap ilmu yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
"Kimia telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Saya ingin momen wisuda tidak hanya menjadi perayaan kelulusan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap ilmu yang telah saya pelajari dan cintai," ujarnya.
Ia percaya, fashion dapat menjadi media untuk menyampaikan identitas dan kecintaan terhadap bidang ilmu.
Melalui kebaya tersebut, Tirza berharap semakin banyak mahasiswa berani mengekspresikan identitas keilmuannya secara kreatif.
Baca juga: Lentera Kasih UKSW Juara 1 PEKSIMIDA Jateng 2026, Siap Wakili Jawa Tengah di Peksiminas
Keunikan kebaya itu lahir dari perjalanan akademik yang penuh dedikasi.
Selama kuliah, Tirza berupaya menyeimbangkan perkuliahan, penelitian, organisasi, magang, dan berbagai kegiatan lainnya hingga berhasil meraih IPT tertinggi.
"Perjalanan ini tentu tidak selalu mudah. Saya berusaha konsisten menjaga keseimbangan antara akademik, penelitian, organisasi, dan berbagai kegiatan di luar kelas. Saya percaya bahwa prestasi bukan hanya tentang nilai, tetapi juga tentang kemauan untuk terus belajar hal baru," ungkapnya. (eyf)