Sebut Wartawan Londo Ireng, Ucapan Prabowo Dikritik Dewan Pers: Berlebihan dan Tidak Berdasar
Tsaniyah Faidah July 24, 2026 11:21 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Ucapan Presiden RI Prabowo Subianto yang melabeli kelompok kritis seperti wartawan, ekonom, pengamat, dan LSM sebagai londo ireng memicu tanggapan dari Anggota Dewan Pers, Abdul Manan.

Sebagai Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan Dewan Pers, Abdul Manan menganggap pernyataan Prabowo kepada kalangan jurnalis tersebut terlalu berlebihan serta tidak didasari alasan yang kuat.

Menurut penilaiannya, tuduhan semacam itu seolah-olah menggeneralisasi bahwa wartawan, pengamat, dan LSM tidak memiliki jiwa nasionalisme serta bekerja demi kepentingan pihak asing.

"Memberi label londo ireng kepada pihak yang kerap mengkritik, termasuk jurnalis, adalah berlebihan. Presiden tidak melihat kritik dan semacamnya itu sebagai ekspresi wajar dari warga negara yang punya hak menyoroti kinerja pejabat publik," ujar Abdul Manan kepada Tribunnews.com, Jumat.

Abdul Manan kembali menekankan bahwa tudingan tersebut benar-benar tidak berdasar.

"Tentu saja itu tuduhan yang tidak berdasar," tambahnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan pidato dalam puncak acara peringatan Harlah ke-28 PKB di JCC Senayan, Jakarta, Kamis.

Manan juga menyoroti bagaimana dalam pidatonya, Prabowo mengkritik media yang dianggap lebih gemar mengangkat hal-hal yang belum dikerjakan pemerintah ketimbang capaian yang sudah berhasil diraih.

‎"Itu juga memberi kesan bahwa Presiden ini seperti alergi terhadap kritik. Meski dalam pidato menyebut presiden tidak anti-kritik, tapi yang ditunjukkan justru sebaliknya," ucap Manan.

‎Menurutnya, Presiden hendaknya lebih positif dalam melihat dinamika dalam masyarakat, termasuk menanggapi kritik dari wartawan, media, pengamat atau aktivis LSM. 

‎Kata Manan, meskipun kritik tersebut pahit bagi Presiden dan kabinet, namun itu bisa dipakai menjadi bahan koreksi dan perbaikan kinerja pemerintah. Apalagi jika kritik yang disampaikan berdasarkan fakta yang jelas.

‎"Pandangan yang bernada kritis hendaknya dilihat sebagai masukan," ucapnya.

‎Adapun kritik yang berhubungan dengan pers, kata Manan, Presiden hendaknya memahami bahwa mengkritik itu bagian dari tugas pers sebagaimana diamanatkan Pasal 6 butir (d) Undang Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers: melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum. 

‎"Jika Presiden melihat ada pers yang menyimpang dari semangat peran itu, silakan diproses melalui mekanisme hukum yang tersedia."

‎Pernyataan Prabowo
‎Sebelumnya, Presiden RI, Prabowo Subianto, mempertanyakan sumber pendanaan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pengamat yang kerap melontarkan kritik pesimistis terhadap negara.

‎Prabowo menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara demokrasi tidak pernah anti terhadap kritik. Namun, ia menyayangkan adanya pihak-pihak yang dinilainya sengaja mengabdi pada kepentingan asing demi melemahkan bangsa sendiri.

‎Prabowo menganalogikan kelompok ini dengan istilah sejarah "Londo Ireng" pada masa penjajahan Belanda.

‎"Kita negara demokrasi, kita tidak antikritik tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang seneng mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini. Sampai sekarang masih ada," tegas Prabowo saat acara peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB di Puncak Harlah ke-28 PKB di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (23/7/2026).

‎Lebih lanjut, Prabowo mempertanyakan siapa penyandang dana di balik pihak-pihak yang kerap tampil dengan narasi negatif tersebut. Apalagi saat ini kondisi ekonomi secara umum sedang menghadapi tantangan penciptaan lapangan kerja.

‎"Hanya dia sekarang pakai baju lain kan. Wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah kita tahu kan," cecarnya.

‎Prabowo menilai kelompok-kelompok tersebut secara masif menyebarkan kampanye untuk menggoyahkan mental bangsa. Salah satunya adalah narasi berulang yang memprediksi bahwa Indonesia akan segera runtuh atau kolaps.

‎"Jadi Saudara-saudara kita paham ada kampanye besar untuk kita goyah. Indonesia akan kolaps. Bulan April akan kolaps. Eh April lewat nggak kolaps. Bulan Mei akan kolaps. Bulan Mei lewat nggak. Bulan Juni akan kolaps. Bulan Juli akan kolaps. Tiap bulan akan kolaps," ucap Prabowo.

‎Ia menganalogikan pihak-pihak yang terus menurunkan moral bangsa sendiri di tengah upaya perbaikan layaknya pendukung sepak bola yang tidak waras.

‎"Saudara-saudara, kita kalau kita cinta sama satu kesebelasan. Umpamanya ya kesebelasan kita lagi main sepak bola. Dia lagi bertarung dia lagi bertanding di lapangan. Kita kan sebagai suporter ayo ayo maju. Aduh. Tapi jangan menurunkan moril dong, orang lagi bertanding di situ. Oh nanti gol masuk, nanti kamu kalah nanti kamu kalah. Ini suporter macam apa. Gendeng ya, gendeng kali ya," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.