TRIBUN-TIMUR.COM, JENEPONTO – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, tantangan guru kini bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga mampu merancang sistem penilaian yang relevan dengan kebutuhan peserta didik di era digital.
Kesadaran itulah yang mendorong Program Studi Pendidikan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar kegiatan Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) di SMA Negeri 1 Jeneponto.
Mengusung tema "Pelatihan Pengembangan Evaluasi dan Asesmen Pembelajaran Inovatif Berbasis Teknologi Digital bagi Guru SMAN 1 Jeneponto", kegiatan yang berlangsung pada Rabu (22/7/2026) itu menjadi ruang belajar sekaligus kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam meningkatkan kompetensi pendidik.
Pelatihan dipimpin Ketua Tim PKM, Henri, S.Pd., M.Pd., bersama Dimas Ario Sumilih, S.Pd., M.A., dan Parham Taufik, S.Pd., M.Pd.
Kegiatan tersebut juga melibatkan dua mahasiswi, Sri Wahyuni dan Naila Agustin, sebagai bagian dari implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para guru tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga berdiskusi, mencoba berbagai aplikasi penilaian digital, hingga mempraktikkan penyusunan instrumen asesmen yang dapat diterapkan langsung di ruang kelas.
Wakil Kepala SMA Negeri 1 Jeneponto Bidang Hubungan Masyarakat, Salihuddin, S.Ag., menyambut baik kehadiran tim PKM UNM.
Menurutnya, kerja sama antara sekolah dan perguruan tinggi menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memperkuat profesionalisme guru di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Baca juga: Perangi Stigma HIV/AIDS, Tim PkM UNM Bekali Petugas PKBI Sulsel Keterampilan Komunikasi Digital
Ia berharap pelatihan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan praktik pembelajaran yang lebih inovatif dan memberikan dampak nyata terhadap proses belajar mengajar.
"Guru diharapkan semakin percaya diri memanfaatkan teknologi digital sebagai bagian dari sistem asesmen yang objektif, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21," ujarnya.
Selama pelatihan, peserta dibekali pemahaman mengenai konsep evaluasi pembelajaran modern, penyusunan asesmen autentik, pemanfaatan berbagai platform digital untuk penilaian, hingga strategi mengintegrasikan teknologi ke dalam proses evaluasi secara sistematis.
Metode penyampaian dibuat variatif melalui pemaparan materi, diskusi, demonstrasi, serta praktik langsung sehingga peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperoleh pengalaman aplikatif.
Ketua Tim PKM, Henri, mengatakan transformasi pendidikan tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi di ruang kelas.
Menurutnya, perubahan juga harus dimulai dari cara guru merancang sistem evaluasi pembelajaran yang mampu menggambarkan perkembangan kompetensi siswa secara menyeluruh.
"Evaluasi yang berkualitas akan membantu guru menyusun strategi pembelajaran yang lebih efektif, reflektif, dan berpusat pada kebutuhan peserta didik," katanya.
Melalui kegiatan tersebut, UNM juga menegaskan komitmennya membangun sinergi berkelanjutan dengan sekolah melalui program pengabdian kepada masyarakat yang disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
Kolaborasi itu diharapkan mampu meningkatkan literasi digital tenaga pendidik sekaligus memperluas pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran.
Antusiasme para guru selama mengikuti pelatihan menjadi gambaran tingginya semangat untuk terus beradaptasi dengan perubahan dunia pendidikan.
Diskusi yang berlangsung aktif menunjukkan bahwa penguasaan teknologi digital kini bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih berkualitas.
Melalui pelatihan ini, diharapkan lahir berbagai inovasi asesmen pembelajaran yang dapat diterapkan di SMAN 1 Jeneponto.
Sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah pun menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif, inklusif, dan mampu melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.(*)