TRIBUNNEWS.COM - Peristiwa kebakaran terjadi di Blok G Rusunawa Kudu, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, pada Sabtu (25/7/2026), memicu kepanikan para penghuni.
Rusunawa Kudu merupakan salah satu kompleks perumahan yang dikembangkan oleh Pemerintah Kota Semarang, sebagai solusi terhadap permasalahan perumahan dan permukiman di wilayah tersebut.
Lingkungan kompleks Rusunawa Kudu berlokasi kira-kira 5 km ke arah Timur kota Semarang, terdiri dari hunian rusunawa dengan ruang terbuka di antara blok hunian.
Baru-baru ini, kebakaran melanda Blok G Rusunawa Kudu pada Sabtu pagi, sekira pukul 08.00 WIB.
Berdasarkan keterangan warga, kebakaran tersebut, menerpa ruang berisi rongsok yang menjurus tiga lantai ke atas.
Pantauan Tribun Jateng sekira pukul 09.00 WIB, tampak tiga unit armada pemadam kebakaran sudah berada di lokasi. Sementara gedung tempat kebakaran tampak sudah disterilkan.
Rismawati (28), seorang warga yang tinggal di Blok G lantai 5 mengaku awalnya hendak membuang sampah di depan rumah.
Namun, ia tiba-tiba merasakan hawa panas yang tidak biasa dari bawah bangunan.
Risma mengatakan, dirinya tinggal tepat di unit pojok yang berdekatan dengan lokasi kebakaran.
Awalnya, ia mengira bau asap yang tercium berasal dari aktivitas pembakaran sampah seperti biasanya.
"Awalnya saya di dalam rumah, biasa pas mau bersih-bersih ya, cuma kok kecium bau asep kayak orang bakar-bakar ya."
"Terus aku dari jendela belakangku kan memang biasane kan ada yang bakar-bakar sampah dari warga setempat ya. Nah, terus tak lihat kok enggak ada," kata Risma ditemui Tribun Jateng di lokasi.
Baca juga: Kesaksian Korban Kebakaran di Sorong Barat: Nyawa Cucu Lebih Utama dari Harta Benda
Karena tidak melihat sumber asap, Rismawati sempat mengabaikannya. Namun saat hendak membuang sampah, ia justru merasakan sesuatu yang janggal.
"Terus pas aku mau buang sampah tanganku kok kayak panas banget dari bawah," ucapnya.
Lantas, ia mengajak suaminya untuk mengecek kondisi tersebut. Karena belum terlihat adanya api, suaminya menganggap tidak ada masalah. Rismawati pun memutuskan turun mencari bantuan warga.
"Aku kan bilang sama masnya tadi, 'Mas ketoke kok sampah kok kayak ono sing kobong, opo ono sing kobong-kobong?' Dijawab 'Ora-ora' 'Tidak, tidak," katanya menirukan.
Ketika turun, ia mengaku bertemu penghuni lain. Selanjutnya, mereka memeriksa lokasi tempat pembuangan sampah di lantai dasar.
"Lah terus terus jalan ke sana ternyata memang sampah sudah full api semua," ucapnya.
Sumber Api Diduga dari Tempat Sampah
Menurut Rismawati, saat pertama kali turun belum banyak warga yang menyadari adanya kebakaran.
Setelah memastikan sumber api berasal dari tempat sampah, ia kembali naik untuk memberi tahu penghuni lain.
Kemudian, warga bergotong royong memadamkan api menggunakan ember berisi air. Sebagian menyiram dari bawah, sementara penghuni di lantai atas membantu dari koridor.
"Yang bawah ngurusi bawah yang atas nyiramin dari atas itu," tuturnya.
Api terus membesar hingga menjalar melalui saluran tempat pembuangan sampah dan mencapai lantai tiga.
"Dari sampah. Itu apinya dari tempat buka tutup sampah itu udah dari lantai 3," sebutnya.
Upaya penyiraman sempat dilakukan, namun kobaran api dan asap membuat warga tidak berani kembali ke lantai atas.
Rismawati, penghuni unit yang lokasinya paling dekat dengan titik kebakaran di pojok bangunan, mengatakan asap telah memasuki area kamar mandi dan wastafel rumahnya.
"Aku enggak sempet megang tembok, cuma memang dari kamar mandi wastafel pojok-pojok itu asapnya itu udah keluar semua," katanya.
Saat situasi semakin berbahaya, ia mengaku tidak sempat menyelamatkan barang-barang di dalam rumah karena asap sudah terlalu tebal.
Menurutnya, saat itu, yang dilakukan adalah menghubungi Dinas Pemadam Kebakaran.
"Udah enggak berani soale posisinya rumahku juga paling pojok," ungkapnya.
Di tengah kondisi kebakaran itu, Risma mengaku tidak tersedianya alat pemadam api ringan (APAR) di Blok G saat kebakaran terjadi.
Menurutnya, warga sempat mencari APAR di beberapa titik, tetapi tidak menemukannya.
"Enggak ada. Kebetulan di blok ini enggak ada APAR," keluhnya.
Keterangan Warga Lain
Di sisi lain, Kurniawan (53), penghuni Blok I yang berada tepat di depan Blok G, mengaku baru mengetahui peristiwa tersebut saat kobaran api sudah membesar.
Mengetahui kejadian itu, warga dari berbagai blok segera berdatangan untuk membantu memadamkan api secara manual sebelum petugas pemadam kebakaran tiba.
"Tahu-tahu itu sudah ada api. Nah, kebetulan kan warga ada yang banyak nih dari Blok I, Blok G ada yang (kebakaran) langsung lari membantu memadamkan," katanya.
Kurniawan menjelaskan, upaya pemadaman sempat mengalami kendala lantaran warga tidak mengetahui cara mengoperasikan hidran yang tersedia.
Sementara itu, kobaran api terus membesar dan merambat melalui jalur pembuangan sampah hingga ke lantai atas.
"Berhubung peralatan kita kan enggak mampu tuh, Mbak, untuk pakai hidran itu. Habisnya sudah tembus api yang paling besar tuh lantai 3 dan lantai 5 yang terbakarnya," katanya.
Kurniawan menjelaskan, area yang terbakar merupakan saluran pembuangan sampah yang membentang dari lantai dasar hingga lantai lima.
Lantas, pada bagian paling atas ruangan tersebut difungsikan sebagai gudang penyimpanan sekaligus tempat pemilahan sampah.
"Ini kan jalurnya sampah, Mbak. Di bawah itu jalur sampah. Sampai ke atas itu biasanya gudang untuk penyimpanan biasa, kalau kita ada program pilah sampah," tuturnya.
Kurniawan mengatakan, api mengenai jalur sampah dan ruang gudang di setiap lantai, namun tidak sampai merambat ke unit hunian warga.
"Semuanya, lantai ini semuanya kena. Dari 1, 2, 3, 4, 5 semua kena," ucapnya.
Baca juga: Hasil Olah TKP Ledakan di Medan, Polda Sumut: Sempat Terjadi Kebakaran Singkat, Temukan Jejak CO
Bhabinkamtibmas Kelurahan Kudu: Kemungkinan dari Sampah
Menurut Bhabinkamtibmas Kelurahan Kudu, Aipda Sutikno, sumber kebakaran diduga berasal dari jalur pembuangan sampah yang membentang dari lantai satu hingga lantai lima di Blok G.
Meski api menghanguskan saluran sampah di setiap lantai, kobarannya tidak merembet ke unit tempat tinggal warga.
"Kemungkinan dari sampah, dari lantai 1 sampai lantai 5. Yang kena sampah semua. Satu saluran," tuturnya.
Ia menyebut dampak kebakaran hanya mengenai fasilitas bangunan, seperti jendela dan plafon di sekitar jalur pembuangan sampah.
Sementara itu, unit hunian maupun barang-barang milik warga dilaporkan tidak mengalami kerusakan.
"Barang-barang yang lain dan rumah tidak kena. Yang kena jendela dan plafon-plafon," jelasnya.
Saat proses penanganan awal, sebelum armada Damkar datang, Sutikno menyebut dirinya bersama lima warga mencari alat APAR dari blok lain karena APAR di sekitar lokasi tidak tersedia.
"Nyari APAR Blok A sampai I, bawa ke sini saya langsung naik," ungkapnya.
Hingga saat ini, nilai kerugian akibat kebakaran tersebut masih dalam pendataan dan belum dapat dipastikan.
"Kerugiannya belum dihitung. Untuk korban, nihil," imbuhnya.