BANGKAPOS.COM -- Majalah Forbes merilis daftar orang terkaya di dunia per 14 Juli 2026, Bill Gates Indonesia alias Otto Toto Sugiri menjadi salah satunya.
Dalam majalah Forbes, Otto Toto Sugiri masuk dalam daftar 10 orang terkaya di Indonesia.
Sementara untuk daftar orang terkaya di dunia, Otto Toto Sugiri menempati ke posisi ke-460.
Berdasarkan daftar miliarder Forbes per 14 Juli 2026, Otto Toto Sugiri memiliki kekayaan bersih sebesar 8 miliar dollar AS atau sekitar Rp144,5 triliun.
Sebelumnya, nama Otto Toto Sugiri juga masuk dalam daftar orang terkaya du Indonesia.
Berdasarkan data Forbes Real-Time Billionaires per 3 Maret 2025, Otto Toto Sugiri berada pada daftar ke 10 orang terkaya di Indonesia.
Baca juga: Nanik S Deyang Berpeluang Diperiksa Kejagung Terkait Kasus Korupsi MBG, Kubu Sony Sonjaya Bereaksi
Hartanya meningkat drastis sejak tahun 2023 lalu, di tahun tersebut Otto Toto Sugiri berada pada posisi ke 23.
Otto Toto Sugiri merupakan pendiri perusahaan Data Center Indonesia (DCI). Perusahaan tersebut bergerak di bidang pengolahan data.
Otto Toto Sugiri beda dengan konglomerat kebanyakan di Indonesia yang biasanya kaya dari bisnis tambang, perkebunan ataupun real estate.
Alih-alih punya bank seperti beberapa orang terkaya Indonesia, Otto Toto Sugiri justru punya perusahaan yang satu di antara kerjanya melayani bank.
Perusahaan tersebut adalah Data Center Indonesia (DCI).
Otto Toto Sugiri menjadi salah satu pendiri PT DCI Indonesia sekaligus menjadi presiden direktur perusahaan tersebut.
PT DCI Indonesia adalah perusahaan pusat data yang menyediakan penyimpanan data server dan layanan ruang data terbesar di Indonesia.
Keberhasilan Otto tak luput dari perjuangannya masa lalu.
Ia menyelesaikan gelar Sarjana Teknik Elektro dan Master Teknik Komputer di RWTH Aachen University, Jerman pada 1980.
Setelah lulus, Otto pun kembali ke Indonesia untuk merawat ibunya yang sakit.
Pada saat bersamaan, ia kebingungan untuk mencari pekerjaan sebab kala itu sangat jarang perusahaan yang mencari programmer.
Tiga tahun berselang sejak kelulusannya tersebut, Otto bekerja di Bank Bali yang memiliki tanggungjawab untuk membuat sebuah software akuntansi.
Otto juga mengembangkan sistem IT Bank Bali melalui back office hingga ke akuntansi.
Bank Bali merupakan perusahaan keluarga milik pamannya.
Berada di Bank Bali selama 6 tahun, Otto memilih untuk keluar dan mendirikan perusahaan sendiri bernama Sigma Cipta Caraka pada 1989.
Dihimpun dari BangkaPos.com dan Tribunwiki.com, berdirinya Sigma Cipta Caraka bertepatan dengan aturan pemerintahan mengenai kebijakan industri perbankan yang membuat jumlah bank melonjak ke 240 bank pada 1994 yang sebelumnya hanya terdapat 111 bank.
Baca juga: Rekam Jejak Febri Diansyah Eks Jubir KPK jadi Pengacara Febrie Adriansyah, Pernah Urus Kasus Sambo
Hal itu dimanfaatkan Otto untuk melayani bank-bank baru yang membutuhkan dukungan IT.
Dalam setahun, Sigma Cipta Caraka mengantongi keuntungan hingga 1,2 juta dolar AS.
Kemudian, Otto pun mendirikan Indointernet di tahun 1994 yang merupakan penyedia layanan sambungan internet (ISP) pertama di Indonesia.
Indointernet memudahkan masyarakat untuk menjelajahi situs di seluruh dunia untuk pertama kalinya.
Nama Otto Toto pun menduduki jabatan sebagai presiden komisaris sejak tahun 2012 di PT Indointernet Tbk.
Otto Toto semakin semangat untuk mendirikan perusahaan lagi, yang menghasilkan BaliCamp sebagai anak perusahaan Sigma Cipta Caraka.
Namun, BaliCamp tak bertahan lama dan harus tutup setelah tragedi Bom Bali di tahun 2002.
Tahun 2008, Otto menjual 80 persen sahamnya ke Telekomunikasi Indonesia (Telkom) senilai 35 juta dolar AS dan berpikir untuk pensiun.
Namun, Otto mendapat angin segar setelah pemerintah membuka pintu untuk memperkuat pusat data negara pada 2011.
Di situlah Otto Toto bersama enam orang lainnya mendirikan Data Center Indonesia (DCI).
Tahun 2014, DCI mendapat sertifikasi Tier VI klasifikasi tertinggi industri pusat data global, dan mampu menarik banyak klien terbanyak serta terbaik.
Ia pun terus berusaha dan melengkapi syarat perusahaannya sebagai pusat data yang mampu menjamnin 99,995 persen dan memiliki cadangan untuk listrik jika terjadi pemadaman.
Hingga kini, DCI bekerjasama dengan sekitar 40 perusahaan telekomunikasi dan 120 penyedia layanan keuangan di Indonesia, Asia Tenggara, dan AS.
Berdasarkan daftar miliarder Forbes per 14 Juli 2026, Otto Toto Sugiri memiliki kekayaan bersih sebesar 8 miliar dollar AS atau sekitar Rp144,5 triliun.
Dengan nilai tersebut, Otto berada di posisi ketujuh orang terkaya di Indonesia sekaligus menempati peringkat ke-460 dunia.
Pencapaian itu semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pengusaha teknologi paling sukses di Tanah Air.
Mayoritas kekayaannya berasal dari bisnis pusat data melalui PT DCI Indonesia Tbk (DCII), perusahaan yang menjadi salah satu pemain utama dalam penyediaan infrastruktur digital nasional.
Julukan "Bill Gates Indonesia" melekat pada Otto Toto Sugiri karena kiprahnya yang panjang dalam membangun industri teknologi nasional.
Ia terlibat dalam berbagai fase penting transformasi digital Indonesia, mulai dari pengembangan perangkat lunak, penyediaan akses internet komersial, hingga pembangunan infrastruktur pusat data yang kini menjadi tulang punggung layanan digital.
Kontribusi tersebut membuat Otto dikenal sebagai salah satu tokoh yang berpengaruh dalam perkembangan ekosistem teknologi di Indonesia.
Masuknya Otto Toto Sugiri ke jajaran orang terkaya Indonesia tidak hanya menunjukkan keberhasilan bisnis pribadi, tetapi juga mencerminkan semakin besarnya nilai ekonomi sektor digital di Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan terhadap layanan pusat data terus meningkat seiring pertumbuhan komputasi awan (cloud), kecerdasan buatan (AI), layanan keuangan digital, e-commerce, hingga transformasi digital perusahaan dan instansi pemerintah.
Kondisi tersebut menjadikan bisnis data center sebagai salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat. Sebagai pendiri dan pemegang saham di PT DCI Indonesia Tbk, Otto Toto Sugiri menjadi salah satu pihak yang memperoleh manfaat dari tren tersebut.
Meski demikian, nilai kekayaan miliarder dapat berubah sewaktu-waktu karena dipengaruhi oleh pergerakan harga saham, kondisi pasar modal, serta pembaruan data kekayaan yang dirilis lembaga seperti Forbes.
(Bangkapos.com/Tribunnews.com/Kompas.com)