IRONI Petani Garam Cirebon di Musim Kemarau: Panen Melimpah Tapi Penghasilan Malah Menyusut
Kemal Setia Permana July 25, 2026 08:11 PM

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON- Musim kemarau yang biasanya menjadi momen paling dinantikan para petani garam di Kabupaten Cirebon tahun ini justru menghadirkan ironi. 

Di tengah hasil panen yang mulai melimpah, penghasilan petani malah terus menyusut akibat harga garam di tingkat petani yang anjlok hingga menyentuh Rp800 per kilogram.

Pantauan di salah satu sentra tambak garam di Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Sabtu (25/7/2026), memperlihatkan aktivitas panen berlangsung sejak pagi.

Hamparan tambak berwarna putih tampak dipenuhi kristal garam.

Sejumlah petani sibuk menggaruk garam dari permukaan tambak, mengumpulkannya ke tepian, lalu memasukkannya ke dalam karung-karung besar untuk dijual.

Cuaca panas yang terus berlangsung membuat produksi garam meningkat.

Baca juga: Petani Majalengka Terancam Gagal Panen, DPRD Dorong Sodetan Air dari Bendung Rentang

Namun, melimpahnya hasil panen justru diikuti merosotnya harga jual di tingkat petani.

Jika sebelumnya garam kasar masih dihargai sekitar Rp1.400 hingga Rp1.500 per kilogram, kini harganya hanya berkisar Rp900 bahkan turun menjadi Rp800 per kilogram di beberapa lokasi.

Rokim (48), salah seorang petani garam, mengaku panen tahun ini sebenarnya cukup baik.

Sayangnya, harga garam terus mengalami penurunan hampir setiap hari sehingga keuntungan yang diperoleh semakin menipis.

"Ya mulai panen, hasil panen lumayan sih. Cuman ya harganya terus turun. Sekarang harga Rp900 sampai Rp800 per kilogram. Kemarin masih Rp1.400, itu masih lumayan," ujar Rokim, Sabtu (25/7/2026). 

Menurutnya, penurunan harga terjadi secara bertahap sejak akhir Juni lalu.

Dalam sehari, harga bisa turun Rp50 hingga Rp200 per kilogram.

"Turunnya hampir setiap hari, kadang Rp200, Rp100, kadang Rp50. Di sana ada yang sudah Rp800 per kilogram," ucapnya.

Rokim mengaku para petani sebenarnya ingin menahan hasil panen hingga harga kembali membaik.

Namun, kebutuhan ekonomi memaksa mereka segera menjual garam meski dengan harga murah.

"Kalau disimpan terus buat makan enggak ada. Jadi butuh, terpaksa dijual murah. Harapannya ya naik lagi, Rp1.500 sudah lumayan. Tapi kemungkinan masih turun juga," jelas dia.

Keluhan serupa disampaikan petani garam lainnya, Kusnadi (42). 

Ia mengatakan penurunan harga mulai terjadi ketika sejumlah wilayah sentra garam lain memasuki masa panen.

"Panen, tapi harganya turun. Sekarang Rp900 per kilogram. Sejak lokasi sebelah panen, harganya turun terus. Tadinya Rp1.500, sekarang Rp900, di sana malah Rp 800," kata Kusnadi.

Baca juga: Bobotoh Asal Bogor Optimistis Persib Menang Meski Sebagian Pemain Dipanggil ke Timnas Indonesia

Para petani memperkirakan harga garam masih berpotensi turun dalam beberapa waktu ke depan.

Pasalnya, sejumlah tambak garam di wilayah lain belum memasuki masa panen sehingga pasokan diperkirakan akan terus bertambah.

Mereka berharap pemerintah dan pihak terkait dapat mengambil langkah untuk membantu menstabilkan harga garam di tingkat petani. (*) 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.