TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBU RAYA - Sejumlah lahan di Jl Sungai Raya Dalam Ujung, Desa Punggur Kecil, Kecamatan Sungia Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat menjadi korban kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pada Sabtu 25 Juli 2026 sore WIB.
Karhutla itu dilaporkan berdekatan dengan dinding-dinding perumahan warga Perumahan Graha Melody, Jl. Sungai Raya Dalam, Desa Punggur Kecil.
Pantauan TribunPontianak.co.id di lokasi, asap tebal telah sepenuhnya mengepung penglihatan di area masuk hingga bagian dalam perumahan.
Hanya terlihat samar siluet seorang pengendara sepeda motor yang berusaha melintas di kejauhan.
Kendaraan milik petugas pemadam kebakaran dari berbagai unsur juga tampak masih berada di sekitaran perumahan.
Sekitar pukul 17.10 WIB sejumlah petugas mulai mengevakuasi warga perumahan.
Berbeda dengan lain, salah satu warga Perumahan Graha Melody, Lia (43) mengaku tidak mau mengungsi.
"Enggak mau kita ngungsi (awalnya), tapi karena asapnya sudah tebal, tetangga-tetangga juga sudah pada mengungsi dari tadi siang," ungkap Ibu Lia saat ditemui TribunPontianak.co.id di tengah kepulan asap yang pekat, Sabtu sore WIB
• Anggota DPR RI Yuliansyah Minta Pemerintah dan Warga Perkuat Sinergi Cegah Karhutla di Kalbar
Lia bahwa bibit kebakaran sebenarnya sudah mulai mengeluarkan sedikit asap sejak kemarin, namun posisinya masih terlihat jauh dari pemukiman.
Petaka sesungguhnya baru memuncak hari ini ketika kobaran api mendadak membesar dan mengganas sekitar pukul 11.00 siang waktu setempat, merayap cepat menuju rumahnya di ujung perumahan.
Di tengah ancaman si jago merah yang kini hanya berjarak beberapa meter dari dinding rumahnya, Lia menyuarakan permohonan mendesak kepada Pemerintah Kabupaten Kubu Raya.
Ketiadaan parit berair menjadi mimpi buruk bagi warga dan petugas pemadam di lokasi.
"Saya pengin ditangani. Tolonglah seperti Pak Bupati, Pak Jiwo ya, mohon dilihat lingkungan daerah Serdam sini, Serdam Ujung. Untuk jalannya juga, untuk lingkungan juga, karena kita kan termasuk Kubu Raya ini. Terutama irigasi sama air-air," pintanya.
Minimnya sumber air di lokasi kejadian menjadi kendala utama bagi tim pemadam kebakaran.
Salah satu petugas, Langkoi (53) mengungkapkan bahwa pasokan air di sekitar lokasi sangat terbatas dan cepat mengering saat disedot oleh mesin pompa.
"Untuk kendalanya ini masalahnya air. Soal kalau ini gorong-gorong hanya dua tabung gorong-gorong ya. Hanya tak sampai dua menit. Satu menit pun tak sampai, habis," ungkap Langkoi saat ditemui di lokasi kejadian.
• Karhutla di Kawasan Bandara Supadio Sulit Dipadamkan, Api Membara di Dalam Gambut
Ia menjelaskan bahwa wilayah tersebut sama sekali tidak memiliki sistem irigasi yang bisa diandalkan untuk keadaan darurat.
Menurut Langkoi, kebakaran di kawasan ini sudah menjadi siklus tahunan yang terus berulang tanpa adanya solusi permanen dari pihak terkait, terutama pengembang perumahan.
"Tidak ada irigasi. Sebenarnya harus kita bikin ada irigasi untuk parit. Tapi kan memang kita dah lumrah tiap tahun. Tapi kalau memang ada kebijaksanaan untuk perumahan, mungkin dari developernya," tegasnya.
Meski kobaran api dilaporkan sudah sangat dekat dengan bangunan rumah, Langkoi memastikan proses evakuasi berjalan lancar.
Seluruh warga yang rumahnya terancam telah mengamankan diri ke tempat yang lebih aman.
"Alhamdulillah kita di sini tak ada korban, tapi rumah pun belum ada yang kena. Tapi dah tadi tuh dah mendekati rumah. Mereka aman semua, udah pada ngungsi. Kalau di dalam ni seperti ibu ini nih (Bu Lia) dah ngungsi dah, dia rumahnya nomor dua dari ujung nih," pungkas Langkoi. (TribunPontianak.co.id/Ridwan Apriliyanto)
(*)