SURYA.CO.ID JEMBER -Membawa kostum seberat 12 kilogram dan menempuh perjalanan sejauh 761 kilometer tak menghalangi Miftahus Syarif mewujudkan impiannya tampil di Wonderful Archipelago Carnival Indonesia (WACI) 2026, rangkaian Jember Fashion Carnaval (JFC) untuk pertama kalinya.
Harus membawa kostum seberat 12 kilogram dan menempuh perjalanan ratusan kilometer tidak menyurutkan langkah Miftahus Syarif untuk datang ke Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Pemuda yang akrab disapa Syarif Borneo itu menempuh perjalanan sejauh 761 kilometer dari Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, demi berpartisipasi dalam Wonderful Archipelago Carnival Indonesia (WACI) 2026, Sabtu (25/7/2026).
Meski jarak tersebut lebih pendek dibandingkan rute KA Pandalungan Jember-Gambir, Syarif tetap harus menempuh perjalanan darat dan udara agar bisa tiba di Jember.
Baca juga: Promo Spesial JFC 2026, KAI Daop 9 Jember Beri Diskon Tiket Kereta 20 Persen
WACI 2026 menjadi penampilan perdananya dalam rangkaian Jember Fashion Carnaval (JFC). Keinginan mengikuti ajang ini muncul setelah dirinya sekali menyaksikan JFC secara langsung pada 2022.
"Ini pertama kalinya saya ikut di ajang JFC, lewat WACI Tahun ini. Sebelumnya pernah kesini di 2022, tetapi hanya sebagai penonton JFC," ujar Syarif.
Selama ini, ia lebih banyak mengikuti perkembangan JFC melalui media sosial. Sebagai praktisi seni dan karnaval, ia merasa tertantang untuk bisa tampil di WACI karena menganggap JFC sebagai tempat belajar terbaik.
"Sebab saya banyak belajar dari JFC," tegasnya.
Menurutnya, JFC telah menjadi role model dalam dunia parade dan karnaval. Dari ajang tersebut ia mempelajari desain kostum, proses produksi, manajemen penyelenggaraan hingga strategi membangun personal branding.
Baca juga: Jadwal Resmi JFC 2026 Usung Tema HEAL Persiapan Hampir Rampung dan Penuh Kejutan
Ia bahkan menyebut detail kostum yang dibuatnya lahir dari proses mentoring bersama para alumni JFC.
"Banyak banget Ilmu yang saya dapat dari JFC," tegasnya.
Kesempatan tampil di WACI dimanfaatkan Syarif bersama delegasi yang didukung Dinas Pariwisata Kabupaten Kotawaringin Barat.
Rombongan tersebut hanya berjumlah 12 orang, terdiri atas tujuh talent dan lima anggota tim pendukung. Meski berjumlah sedikit, mereka tetap percaya diri tampil di hadapan ribuan penonton.
Saat memasuki runway WACI, defile Kotawaringin Barat juga mendapat dukungan penari asal Kabupaten Jember yang membawakan tarian khas Dayak Kotawaringin Barat.
"Penarinya memang dari Jember, tetapi kostumnya asli kami bawa dari Kotawaringin Barat. Karena memang untuk talent hanya 7 orang, dan dengan tim pendukung total 12 orang," ujar Syarif.
Seluruh talent membawa kostum berukuran besar. Syarif sendiri mengenakan kostum dengan bobot mencapai 12 kilogram. Berbekal ilmu yang dipelajari dari JFC, mereka mampu mengemas kostum bervolume besar sehingga lebih mudah dibawa selama perjalanan.
Delegasi Kotawaringin Barat memanfaatkan WACI untuk memperkenalkan budaya, kekayaan alam, dan kearifan lokal daerahnya kepada masyarakat luas.
Syarif tampil mengenakan kostum yang merepresentasikan tradisi Babukung, yakni upacara adat kematian masyarakat setempat. Sementara talent lainnya menghadirkan kostum burung Enggang serta naga merah yang dipercaya sebagai penjaga wilayah mereka.
"Juga ada naga merah, naga yang dipercayai sebagai penjaga daerah kami," imbuh Syarif.
Selain itu, mereka turut menampilkan Tari Kalangka yang mengangkat legenda Putri Dayak.
Usai menyaksikan langsung penyelenggaraan JFC, Syarif mengaku memperoleh banyak pelajaran yang akan menjadi bekal mengembangkan karnaval di daerahnya.
"Banyak sekali PR yang harus kami kerjakan setelah kami datang dan melihat langsung di sini. Pastinya jadi kebanggaan tersendiri bagi kami bisa terlibat," ujarnya.
Menurut Syarif, Kabupaten Kotawaringin Barat juga memiliki ajang serupa bernama Marunti Fashion Carnival (MFC).