WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Puluhan anak tampak asyik mewarnai gambar di tengah semarak Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau car free day (CFD) di Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (26/7/2026).
Tawa mereka pecah saat saling menunjukkan hasil karya terbaik.
Namun, di balik suasana ceria itu, ada pesan penting yang ingin disampaikan, yakni mengenalkan sejak dini bahaya konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) secara berlebihan.
Momentum Hari Anak Nasional 2026 dimanfaatkan Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia untuk menggelar kampanye bertajuk "Anak Bukan Target Pasar Minuman Berpemanis Dalam Kemasan".
Melalui kegiatan edukatif yang diikuti ratusan anak dari Jakarta, Bogor, hingga Bekasi, organisasi itu mengajak anak-anak memahami pentingnya memilih minuman yang lebih sehat sekaligus mendorong pemerintah segera menerapkan cukai MBDK.
Baca juga: AMPI dan Majlis Belia Malaysia Perkuat Kolaborasi Pemuda ASEAN
"Lomba ini bukan sekadar kompetisi, tetapi menjadi media edukasi agar anak-anak memahami bahaya mengonsumsi minuman berpemanis dalam kemasan secara berlebihan," ujar Ketua FAKTA Indonesia, Ari Subagio Wibowo, Minggu.
Ari Subagio mengatakan, pendidikan kesehatan sejak usia dini merupakan langkah penting untuk menekan meningkatnya kasus penyakit tidak menular yang dipicu konsumsi gula berlebih.
"Kegiatan ini bertujuan mengedukasi anak-anak agar mampu memilih minuman yang sehat. Kami ingin mereka memahami dampak buruk mengonsumsi minuman berpemanis dalam kemasan secara berlebihan sehingga dapat mencegah obesitas, diabetes, dan penyakit tidak menular lainnya," kata Ari.
Menurut Ari, upaya membangun kebiasaan hidup sehat tidak cukup hanya menyasar anak-anak.
Orangtua dan sekolah juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pola konsumsi sehat.
Ia berharap sekolah menyediakan pilihan minuman yang lebih sehat di kantin.
Sementara Orangtua membiasakan anak mengonsumsi air putih dalam aktivitas sehari-hari.
Di sisi lain, FAKTA Indonesia juga mendorong pemerintah segera menerapkan cukai terhadap MBDK.
Kebijakan tersebut dinilai dapat menjadi instrumen perlindungan kesehatan masyarakat sekaligus mendorong industri lebih bertanggung jawab terhadap produk yang dipasarkan.
"Kami berharap negara hadir melalui kebijakan cukai MBDK agar perlindungan terhadap kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak, semakin kuat," ujarnya.
Selain itu, Wakil Ketua FAKTA Indonesia, Azas Tigor Nainggolan menilai, penyelenggaraan HBKB menjadi ruang yang tepat untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat.
Ia mengapresiasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang terus menjaga kawasan tersebut sebagai ruang publik yang sehat dan ramah bagi warga.
Menurut Tigor, keramaian HBKB memungkinkan pesan mengenai bahaya konsumsi minuman berpemanis menjangkau lebih banyak keluarga.
"Hari ini kami bersama anak-anak kampung di Jakarta mengajak pemerintah segera menerapkan cukai MBDK sebagai langkah pencegahan agar anak-anak Indonesia tumbuh sehat. Ini merupakan investasi bagi masa depan bangsa," tegasnya.
Ia menilai kampanye tersebut semakin penting karena anak-anak kini menjadi sasaran utama pemasaran berbagai produk minuman berpemanis dalam kemasan.
Kondisi itu, menurutnya, perlu diimbangi dengan edukasi serta kebijakan yang mampu melindungi kelompok usia tersebut dari risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes hingga gagal ginjal.
"Jangan sampai bonus demografi dan Generasi Emas Indonesia gagal karena tingginya penyakit tidak menular. Anak-anak harus kita lindungi sejak sekarang," katanya.
Selain mendorong penerapan cukai, Tigor juga minta pemerintah memperketat pengawasan terhadap promosi dan iklan MBDK yang menyasar anak-anak, termasuk menertibkan media promosi yang tidak memiliki izin.
"Mari bersama-sama kita lindungi generasi masa depan Indonesia agar bisa tumbuh sehat," ajaknya.
Pesan kampanye itu mendapat sambutan positif dari para Orangtua.
Rahma (38), warga Koja, Jakarta Utara, yang mendampingi anaknya mengikuti lomba mewarnai, menilai pendekatan edukatif melalui kegiatan bermain lebih mudah diterima anak dibandingkan sekadar nasihat di rumah.
"Kegiatan seperti ini sangat positif karena anak-anak jadi tahu dampak buruk terlalu banyak mengonsumsi minuman manis. Kadang mereka lebih mudah memahami jika mendapat penjelasan langsung dalam kegiatan seperti ini," ujarnya.
Rahma juga mendukung rencana penerapan cukai MBDK. Menurutnya, kenaikan harga dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi konsumsi minuman berpemanis di kalangan anak-anak.
"Saya sangat setuju kalau ada cukai. Kalau harganya lebih mahal, anak-anak akan berpikir dua kali untuk membeli. Dari rumah saya selalu membekali anak dengan air putih karena MBDK berbahaya jika terlalu sering dikonsumsi," pungkasnya. (m31)