TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Kasus kematian yang menimpa seorang siswi kelas 3 sekolah dasar negeri (SDN) yang ada di kawasan Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, berinisial NA (10), menyisakan misteri kelam yang perlahan mulai terkuak.
Di balik kepergian sang anak tepat di hari ulang tahunnya, tersimpan catatan panjang tentang penderitaan akibat dugaan perundungan atau bullying.
Berdasarkan keterangan pihak keluarga, tindakan intimidasi dan perundungan yang dialami oleh bocah malang tersebut bukanlah sebuah insiden yang terjadi secara tiba-tiba.
Korban diduga telah menjadi sasaran perundungan oleh pihak yang sama sejak ia masih duduk di bangku kelas 2 SD.
Baca juga: Siswi SD di Padang Diduga Meninggal Usai Alami Perundungan, Bertepatan dengan Hari Ulang Tahunnya
Wahid Al Amin, ayah kandung korban, saat ditemui TribunPadang.com, Minggu (26/7/2026) menuturkan bahwa pihak keluarga sebenarnya sempat merespons insiden perundungan tersebut pada masa lalu.
Ketika NA naik ke kelas 3 SD, aksi perundungan tersebut rupanya kembali terulang tanpa adanya pencegahan yang efektif.
Puncak dari rangkaian penderitaan psikologis dan fisik itu terjadi pada Senin pekan lalu, ketika korban pulang dari sekolah dengan kondisi yang tidak biasa.
NA tampak murung, ketakutan, dan mengeluhkan badan yang tidak nyaman setibanya di rumah.
Keesokan harinya pada hari Selasa, kondisi kesehatan korban merosot drastis hingga membuatnya tidak mampu lagi berdiri maupun berjalan ke sekolah.
Rasa sakit yang teramat sangat menyerang bagian pinggang bocah perempuan yang malang tersebut.
Baca juga: Rayakan HJK Kota Padang ke-357, Naik Trans Padang Cuma Bayar Rp1 pada 7 Agustus 2026
Di tengah kesakitan yang mendalam menjelang hari-hari akhirnya, NA sempat menunjukkan ketegaran dengan berbicara kepada keluarganya.
“Sebelum menghembuskan napas terakhir, ia sempat memberikan informasi penting berupa nama pihak yang diduga menjadi pelaku perundungan terhadap dirinya,” ucap Wahid.
Nama yang disebut oleh korban kini menjadi petunjuk krusial bagi keluarga untuk menelusuri kebenaran di balik insiden maut tersebut.
Keluarga meyakini bahwa cedera fatal berupa pergeseran tulang pinggang yang dialami NA berkaitan erat dengan tindakan kekerasan fisik dari para pembully.
Meskipun pemeriksaan medis menunjukkan tidak adanya luka benturan pada bagian luar tubuh, cedera dalam yang diderita korban mengindikasikan adanya dorongan atau pukulan keras.
Wahid menduga anaknya sempat didorong hingga bagian tubuhnya menghantam permukaan yang keras di area sekolah.
Tragedi ini semakin terasa menyayat hati karena bertepatan persis dengan hari ulang tahun korban yang ke-10 pada Kamis (23/7/2026).
Di hari yang seharusnya penuh suka cita tersebut, NA justru menghembuskan napas terakhirnya di ruang perawatan rumah sakit.
Keinginan sederhana korban sebelum berpulang, yakni meminta dibuatkan kue bolu cokelat sebagai kado ulang tahun, kini tinggal kenangan pilu.
Kue yang diimpikannya tak pernah sempat hadir karena maut telah menjemputnya lebih dulu akibat komplikasi cedera yang dialaminya.
Baca juga: Polisi Periksa 7 Saksi Kasus Korban Bully Ledakkan Bom Rakitan di Padang
Menanggapi kejadian ini, pihak keluarga mengaku telah mencoba melakukan konfirmasi resmi kepada pihak Dinas Pendidikan Kota Padang.
Namun, hingga saat ini, keluarga masih dalam posisi menunggu tanggapan serta langkah nyata dari instansi berwenang tersebut.
Selain itu, pihak keluarga juga tengah mempertimbangkan untuk segera membuat laporan resmi secara hukum ke pihak kepolisian di Polres setempat.
Langkah ini diambil agar kasus kematian anak mereka dapat diusut secara transparan tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Wahid Al Amin menyampaikan harapan yang sangat besar agar peristiwa kelam ini menjadi pelajaran terakhir bagi dunia pendidikan.
Ia mendesak pihak sekolah dan instansi terkait untuk lebih tegas mengawasi anak didik agar tidak ada lagi korban perundungan berujung nyawa melayang di masa depan.(*)