TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Suasana duka yang mendalam masih menyelimuti kediaman keluarga Wahid Al Amin di Kota Padang, Sumatera Barat.
Harapan sederhana seorang anak perempuan yang hendak merayakan hari ulang tahunnya yang ke-10, berubah menjadi tragedi kemanusiaan yang menyayat hati keluarga dan publik.
Putri ketiga dari empat bersaudara yang memiliki saudara kembar, seorang siswi kelas 3 Sekolah Dasar Negeri (SDN) di kawasan Kecamatan Padang Selatan, berinisial NA (10), menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit pada Kamis (23/7/2026).
Ironisnya, hari kepergian sang buah hati bertepatan persis dengan hari ulang tahunnya yang ke-10.
Di balik kepergian bocah yang dikenal baik dan tidak pernah mengganggu orang lain tersebut, keluarga menyimpan kecurigaan besar.
NA diduga kuat menjadi korban tindakan perundungan atau bullying di lingkungan sekolah hingga berujung pada cedera fatal yang merenggut nyawanya.
Baca juga: Rayakan HJK Kota Padang ke-357, Naik Trans Padang Cuma Bayar Rp1 pada 7 Agustus 2026
Tragedi ini bermula pada Senin pekan lalu, ketika korban pulang dari sekolah. Menurut keterangan keluarga, bocah malang tersebut menunjukkan gelagat yang tidak biasa setibanya di rumah setelah jam pelajaran berakhir.
Wahid Al Amin, ayah korban, menceritakan bahwa putrinya terlihat murung dan mengeluhkan kondisi badan yang tidak nyaman sepulang dari sekolah.
Rasa tidak nyaman itu perlahan berubah menjadi keluhan fisik yang serius menjelang malam hari.
Keesokan harinya pada Selasa, kondisi kesehatan NA semakin memburuk secara drastis. Korban bahkan tidak mampu lagi pergi ke sekolah karena merasakan sakit yang teramat sangat di sekujur tubuhnya, khususnya di area pinggang.
Baca juga: Terjaring Razia, 9 Orang Diamankan Petugas Saat Pengawasan Tempat Hiburan Malam di Padang
Puncak kecemasan keluarga terjadi ketika rasa sakit tersebut membuat korban mengalami kesulitan bergerak dan demam tinggi.
Keluarga sempat berencana membawa korban ke fasilitas kesehatan, namun proses evakuasi terkendala karena korban menjerit kesakitan setiap kali hendak dipindahkan.
Setelah berhasil mendapatkan perawatan medis di rumah sakit, nyawa bocah kelas tiga SD tersebut tidak berhasil diselamatkan.
NA akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di ruang perawatan rumah sakit pada Kamis, 23 Juli 2026.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis yang diterima keluarga, tidak ditemukan adanya luka lebam atau tanda-tanda benturan pada bagian luar tubuh korban.
Kendati demikian, tim medis mendeteksi adanya cedera serius pada organ bagian dalam tubuh NA.
Pemeriksaan tersebut mengungkapkan adanya pergeseran tulang pada area pinggang korban.
Temuan inilah yang kemudian memicu dugaan kuat dari pihak keluarga bahwa cedera tersebut diakibatkan oleh kekerasan fisik di lingkungan sekolah.
Wahid menduga putrinya sempat mengalami kekerasan fisik, seperti didorong atau dipukul oleh pihak lain, meskipun ia mengaku tidak mengetahui secara pasti bentuk insiden yang menimpa anaknya.
Dugaan tersebut semakin diperkuat oleh pengakuan korban sebelum meninggal dunia.
Baca juga: Hilang Keseimbangan di Tikungan, Pengendara CBR Tewas Usai Tabrak Pembatas Jalan di Dharmasraya
“Sebelum berpulang, NA sempat memberikan informasi penting kepada keluarganya mengenai nama-nama rekan sekolah yang diduga menjadi pelaku perundungan terhadap dirinya,” ucap Wahid saat ditemui TribunPadang.com, Minggu (26/7/2026).
Tindakan perundungan tersebut ternyata bukan kali pertama dialami oleh korban.
Keluarga mengungkapkan bahwa NA sejatinya telah menjadi sasaran perundungan sejak duduk di bangku kelas 2 SD.
Pihak keluarga bahkan sempat melaporkan perbuatan tersebut kepada pihak sekolah, namun tindakan intimidasi diduga kembali berulang saat korban naik ke kelas 3.
Kenangan manis bersama sang buah hati kini tinggal kenangan yang menyakitkan bagi Wahid dan keluarga.
Sebelum berpulang dan merayakan hari lahirnya, NA sempat menyampaikan keinginan sederhana kepada keluarganya untuk dibuatkan kue bolu cokelat sebagai kado ulang tahun.
Keinginan terakhir bocah perempuan tersebut kini selamanya tidak akan pernah terwujud.
Kue bolu cokelat yang diimpikannya hadir bersamaan dengan kepergiannya untuk selama-lamanya menghadap Sang Pencipta.
Terkait langkah hukum dan administratif, pihak keluarga menyatakan telah mencoba melakukan konfirmasi dan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan setempat.
Hingga saat ini, pihak keluarga masih menunggu tanggapan resmi dari instansi terkait sembari mempertimbangkan langkah laporan formal ke pihak kepolisian.
Wahid Al Amin menyampaikan harapan yang besar agar kasus ini dapat diusut secara tuntas dan transparan oleh pihak berwenang.
Ia tidak ingin ada lagi anak-anak lain yang menjadi korban kekerasan serupa di lingkungan pendidikan.
Selain itu, pihak keluarga mendesak pihak sekolah untuk lebih proaktif dalam mengawasi, melindungi, dan menjaga para murid selama berada di lingkungan sekolah.
Pengawasan yang ketat dinilai sangat krusial agar insiden perundungan berujung maut seperti yang merenggut nyawa NA tidak terulang kembali di masa mendatang.(*)