Usai Laporkan Dugaan Pelecehan, Polwan Polda Sumbar Mengaku Diteror dan Diancam Melalui Pesan Anonim
Muhammad Afdal Afrianto July 26, 2026 06:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Seorang polisi wanita (Polwan) berpangkat Brigadir di lingkungan Polda Sumatera Barat (Sumbar), yang mengaku menjadi korban dugaan pelecehan seksual oleh atasannya, mengungkap tekanan yang dialaminya setelah peristiwa tersebut.

Korban yang identitasnya disamarkan dengan nama Mawar mengaku tidak hanya mengalami trauma, tetapi juga menerima ancaman melalui pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal serta tekanan sosial di lingkungan kerjanya.

"Setelah kejadian, saya menerima chat WhatsApp dari anonim. Saya mendapatkan ancaman. Isi pesannya kalau tidak PTDH, ya mutasi jauh," kata Mawar dengan suara bergetar, Minggu (26/7/2026).

Baca juga: Pengakuan Polwan Korban Dugaan Pelecehan di Polda Sumbar Pak Jangan Pak, Saya Tidak Mau Kayak Gini

Menurut Mawar, ancaman tersebut diterimanya setelah kasus yang dialaminya mulai diketahui oleh pimpinan.

Selain itu, ia mengaku menjadi beban psikologis akibat sikap sebagian rekan kerja yang dinilainya berubah setelah peristiwa tersebut.

"Saya merasa dipandang hina oleh rekan-rekan saya di kantor. Itu yang menjadi beban bagi saya," ujarnya.

Mengaku Trauma Meski Sudah Dipindahkan

Mawar mengatakan, dugaan pelecehan itu terjadi pada Kamis (15/1/2026) saat dirinya dipanggil ke ruangan atasannya.

Beberapa hari kemudian, tepatnya Senin (19/1/2026), suaminya menghadap Kapolda Sumbar yang menjabat saat itu untuk melaporkan kejadian tersebut.

Ia mengatakan pimpinan langsung mengambil langkah dengan memindahkannya ke satuan kerja lain.

"Namun sebenarnya saya masih trauma untuk bertemu dengan beliau. Walaupun sudah pindah ke satker lain, masih di lingkungan Polda Sumbar, tetapi ruangannya sudah berjauhan," katanya.

Menurut Mawar, sejak saat itu dirinya tidak lagi berinteraksi langsung dengan terduga pelaku, kecuali sesekali berpapasan dari kejauhan.

Mengaku Diminta Menyelesaikan Secara Kekeluargaan

Korban juga mengaku dirinya bersama keluarga beberapa kali dipanggil oleh jajaran pimpinan Polda Sumbar.

Baca juga: LBH Padang Ajukan Keberatan atas Penghentian Penyelidikan Dugaan Pelecehan Polwan di Polda Sumbar

Ia menyebut telah tiga kali dipanggil Wakapolda dan juga pernah bertemu dengan Kapolda yang menjabat saat itu.

"Dari awal kejadian, saya dan keluarga sudah dipanggil oleh pimpinan. Kami diminta untuk menyelesaikan secara kekeluargaan," ujarnya.

Meski demikian, Mawar berharap perkara yang dialaminya dapat diproses secara adil.

"Saya berharap ada perlindungan dan keadilan bagi saya," katanya.

Berawal dari Dugaan Pelecehan di Ruangan Atasan

Mawar sebelumnya menceritakan dugaan pelecehan itu bermula ketika dirinya dipanggil ke ruangan atasannya saat sedang melakukan panggilan video dengan suaminya.

Di dalam ruangan, ia mengaku diminta duduk dan menutup mata dengan alasan diminta memilih dua amplop berisi uang.

Saat itu, korban mengaku mengalami tindakan yang diduga sebagai pelecehan seksual.

"Saya langsung refleks mundur. Saya bilang, 'Pak jangan pak, saya tidak mau kayak gini caranya, kalau kayak gini caranya saya punya uang'," tuturnya.

Korban menyebut atasannya kemudian meminta maaf dan mengatakan tidak bermaksud melecehkannya. Namun, ia mengaku masih mengalami trauma hingga kini. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.