TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Polisi wanita (Polwan) berpangkat Brigadir di Polda Sumatera Barat (Sumbar) yang diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh atasannya akhirnya menceritakan kronologi kejadian yang dialaminya.
Korban, yang identitasnya disamarkan dengan nama Mawar, mengaku peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (15/1/2026), saat dirinya bersama enam rekan perempuan di tempat kerjanya hendak pergi berlibur.
Menurut Mawar, dari tujuh orang yang berencana berangkat, empat orang akan menerima tambahan uang saku.
"Pada hari kejadian ada satu rekan saya dipanggil terlebih dahulu ke ruangannya," ujar Mawar saat memberikan keterangan awak media, Minggu (26/7/2026).
Baca juga: Polwan Polda Sumbar Diduga Dilecehkan Perwira AKBP, LBH Padang Dampingi Korban
Tak lama setelah rekannya keluar, Mawar mengaku turut dipanggil masuk ke ruangan atasannya. Saat itu ia sedang melakukan panggilan video dengan suaminya.
"Saya sedang video call dengan suami. Suami saya tahu saya dipanggil ke ruangan beliau dan berpesan agar jangan mematikan panggilan video," katanya.
Setibanya di dalam ruangan, Mawar mengaku diperintahkan duduk dan diminta menutup mata.
Awalnya ia mengaku merasa ragu dan takut. Namun atasannya menjelaskan bahwa terdapat dua amplop yang harus dipilih.
"Beliau bilang, 'Ini ada dua amplop, kamu pilih, tapi kamu tutup mata dulu'," ucapnya.
Korban Mengaku Menolak dan Berusaha Mundur
Mawar menuturkan, saat menutup mata itulah dirinya mengaku mengalami tindakan yang diduga sebagai pelecehan seksual.
Baca juga: LBH Padang Ajukan Keberatan atas Penghentian Penyelidikan Dugaan Pelecehan Polwan di Polda Sumbar
Ia mengaku terkejut dan spontan berusaha menjauh dari atasannya.
"Saya langsung refleks mundur. Dalam keadaan syok dan ketakutan saya bilang, 'Pak jangan pak, saya tidak mau kayak gini caranya. Kalau kayak gini caranya saya ada uang pak'," katanya menceritakan sambil menangis.
Menurut Mawar, setelah melihat reaksinya, atasannya langsung meminta maaf dan mengatakan tidak memiliki niat melecehkannya.
"'Saya tidak bermaksud melecehkan kamu. Kamu ambil amplop dua-duanya ya, jangan bilang siapa-siapa'," ujar Mawar menirukan ucapan atasannya.
Meski demikian, ia mengaku tetap menolak mengambil amplop tersebut.
Korban mengatakan perdebatan berlangsung sekitar 15 menit. Karena merasa takut dan melihat atasannya mulai kesal, ia akhirnya mengambil amplop tersebut agar bisa segera keluar dari ruangan.
"Saya mengambil amplop itu supaya cepat bisa keluar dari ruangan," tuturnya.
Suami Datangi Ruangan, Korban Mengaku Masih Trauma hingga Kini
Mawar mengatakan, suaminya yang mendengar percakapan melalui sambungan video call saat itu, setelahnya langsung mendatangi ruangan atasannya.
Menurutnya, sang suami mempertanyakan tindakan yang dilakukan terhadap dirinya.
"Beliau hanya meminta maaf kepada saya dan suami saya," katanya.
Beberapa hari setelah kejadian, tepatnya Senin (19/1/2026), suaminya menghadap Kapolda Sumbar yang saat itu menjabat untuk melaporkan peristiwa tersebut.
Ia mengatakan pimpinan kemudian mengambil langkah dengan memindahkannya ke satuan kerja lain.
"Namun sebenarnya saya masih trauma bertemu dengan beliau. Walaupun sudah pindah satker, masih sama-sama di lingkungan Polda Sumbar, tetapi ruangannya sudah berjauhan," ujarnya.
Baca juga: LBH Padang Minta Polda Sumbar Lindungi Polwan Korban Pelecehan AKBP, Desak Gelar Perkara Khusus
Mawar mengaku sejak saat itu tidak pernah lagi bertemu secara langsung dengan terduga pelaku, kecuali sesekali berpapasan dari kejauhan.
Korban Mengaku Sempat Diminta Menyelesaikan Secara Kekeluargaan
Selain dipindahkan, Mawar mengaku dirinya bersama keluarga beberapa kali dipanggil oleh pimpinan Polda Sumbar.
Ia menyebut telah tiga kali dipanggil Wakapolda dan juga pernah bertemu Kapolda yang menjabat saat itu.
"Dari awal kejadian kami sudah dipanggil. Kami diminta menyelesaikan secara kekeluargaan," ujarnya.
Tak hanya itu, Mawar mengaku menerima pesan WhatsApp dari nomor anonim yang berisi ancaman.
Ia menyebut isi pesan tersebut mengarah pada ancaman pemecatan tidak dengan hormat (PTDH) atau mutasi jauh apabila persoalan tersebut terus berlanjut.
Selain tekanan melalui pesan, Mawar mengaku merasakan tekanan sosial di lingkungan kerjanya.
"Saya merasa dipandang hina oleh rekan-rekan saya di kantor. Itu yang menjadi beban bagi saya. Saya berharap ada perlindungan dan keadilan bagi saya," katanya.
Saat ditanya apakah rekan-rekan lain mengalami hal serupa, Mawar mengaku tidak mengetahui secara pasti.
Ia hanya mengingat seorang rekannya juga sempat dipanggil masuk ke ruangan pada hari yang sama. Namun, menurutnya, di antara mereka tidak pernah saling menceritakan apa yang dialami.
"Kami juga tidak ada menceritakan apa pun satu sama lain," ujarnya.