TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Kapolres Siak AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar mengimbau masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kematian dokter residen anestesi, dr Alex Cristo Loris.
Di tengah banyaknya spekulasi yang beredar, termasuk di media sosial, ia meminta masyarakat mempercayakan sepenuhnya proses penyelidikan kepada Satreskrim Polres Siak.
“Saya mengajak seluruh masyarakat untuk melihat informasi secara jernih dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai spekulasi yang berkembang. Percayakan proses penyelidikan ini kepada Polres Siak. Kami bekerja secara profesional, objektif, dan berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan,” kata AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar kepada Tribun Pekanbaru, Minggu (26/7/2026).
Munculnya berbagai konten di media sosial, yang menggiring opini seolah-olah penyebab kematian korban telah dipastikan semakin membuat masyarakat berspekulasi.
Menurut Kapolres, kesimpulan seperti itu tidak boleh dibangun tanpa didukung alat bukti dan hasil penyelidikan yang sah.
“Jangan sampai kita terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa dasar. Hal itu justru dapat menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat dan berpotensi mengganggu jalannya penyelidikan,” ujarnya.
Sepuh Ade menegaskan, Satreskrim Polres Siak saat ini masih bekerja mengumpulkan seluruh fakta dengan menggunakan metode Scientific Crime Investigation atau pendekatan ilmiah dalam penyelidikan tindak pidana.
Melalui metode tersebut, setiap kesimpulan yang diambil akan didasarkan pada hasil pemeriksaan tempat kejadian perkara, keterangan saksi, barang bukti, rekaman CCTV, pemeriksaan digital forensik, hasil autopsi, hingga keterangan para ahli.
“Kami menggunakan metode Scientific Crime Investigation. Artinya, setiap tahapan penyelidikan mengedepankan pendekatan ilmiah sehingga hasil akhirnya benar-benar berdasarkan fakta, bukan dugaan atau perkiraan,” tegasnya.
Baca juga: Polisi Buka Isi HP Dokter Alex Cristo Loris yang Tewas di Siak, Konfirmasi ke Dokter di Maluku
Baca juga: Polres Siak Dalami Kematian dr Alex Cristo Loris, Penyelidikan Dibantu Ditreskrimum Polda Riau
Ia memastikan Polres Siak akan menyampaikan perkembangan penyelidikan kepada publik apabila telah diperoleh hasil yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan ilmiah.
“Saya mengimbau masyarakat agar tetap tenang, bijak dalam menggunakan media sosial, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Mari kita hormati proses penyelidikan yang sedang berjalan agar nantinya fakta yang sebenarnya dapat terungkap secara utuh,” pungkas Kapolres.
Sampai saat ini, Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Siak masih terus bekerja untuk mengungkap peyebab tewasnya korban.
Diketahui, sebelum ditemukan meninggal dunia, Dokter Alex telah menghilang sejak Senin (13/7/2026) sore.
Dokter berusia 31 tahun yang tinggal di mess RSUD Tengku Rafian itu, terekam kamera CCTV keluar dari lingkungan rumah sakit sekitar pukul 18.06 WIB.
Sejak malam itu, rekan-rekan korban bersama pihak rumah sakit berupaya melakukan pencarian, karena korban tidak kembali ke mess dan telepon selulernya sudah tidak dapat dihubungi.
Pencarian berakhir saat mayat korban ditemukan di semak belukar di samping pagar rumah sakit.
Penyidik memeriksa sejumlah saksi hingga membuka handphone korban yang ditemukan di lokasi kejadian.
Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim) Polres Siak, AKP Raja Kosmos Parmulais mengatakan, handphone korban dibuka dengan disaksikan oleh istri, orangtua dan abang korban.
"Kita menemukan isi handphone ada beberapa hal, dan ada juga beberapa hal yang tidak bisa kita buka karena menggunakan password," kata Kosmos, Jumat (24/7/2026).
Untuk membuka pasword tersebut, handphone korban kemudian dikirim ke Laboratorium Forensik.
Setelah handphone berhasil dibuka, kata Kosmos, ditemukan beberapa fakta dan menghadirkan beberapa saksi.
"Ada dua saksi yang sudah saya konfirmasi secara langsung, yaitu satu orang bidan dan satu orang dokter di Maluku (tanah kelahiran korban)," ungkap Kosmos.
Apa yang diperoleh penyidik di lapangan dari hasil penyelidikan, lanjut Kosmos, sehingga ada satu hal yang harus dilakukan lagi yaitu pelaksanaan dengan menggunakan metode psikologi forensik.
Kosmos bilang, dalam hal ini pihaknya bekerjasama dengan akademisi Universitas Islam Riau (UIR), dan telah mengirimkan surat. Hari ini akan dilakukan rapat koordinasi dengan ahli psikologi forensik.
"Ini diperlukan untuk memastikan penyelidikan yang kami lakukan untuk mencari fakta, sehingga kebenaran akan terungkap. Jadi kita tidak bisa tergesa-gesa menyimpulkan penyebab kematian korban," ujar Kosmos.
Kosmos mengatakan, pihaknya saat ini juga masih menunggu hasil autopsi jenazah korban, yang sebelumnya dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau di Pekanbaru.
( Tribunpekanbaru.com/mayonal putra)