SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Kebun Binatang Surabaya (KBS) sukses mengembangkan koleksi satwa kucing besar (big cats) dalam beberapa tahun terakhir.
Hingga saat ini, KBS memiliki delapan ekor harimau, tujuh ekor singa, serta dua spesies kucing liar asal Afrika, yakni serval dan caracal.
Sebagai lembaga konservasi, edukasi, sekaligus rekreasi, KBS menjaga koleksi big cats mereka melalui program pengembangbiakan (breeding) maupun kerja sama pertukaran satwa dengan lembaga konservasi lain.
Langkah itu dilakukan untuk menjaga keragaman genetik atau fresh blood, sekaligus mendukung upaya pelestarian satwa.
Kepala Seksi Humas KBS, Lintang Ratri Sunarwidhi mengatakan, KBS saat ini memelihara dua jenis harimau, yakni harimau Sumatera dan harimau Benggala.
"Dua jenis harimau yang ada di KBS yaitu harimau Sumatera dan harimau Benggala. Untuk Benggala ada dua jenis, yakni Benggala biasa dan Benggala putih," kata Lintang kepada SURYAMALANG.COM.
Baca juga: Diduga Korupsi Rp 10,2 Miliar, Choirul Anwar Mantan Dirut Kebun Binatang Surabaya Jadi Tersangka
Dengan kedatangan harimau Sumatera betina bernama Rengganis, koleksi harimau Sumatera KBS kini berjumlah empat ekor yang terdiri atas tiga betina dan satu pejantan.
Sementara itu, harimau Benggala juga berjumlah empat ekor setelah hadirnya Anara, harimau putih yang menjadi satu-satunya koleksi harimau putih di KBS.
Selain harimau, KBS juga memiliki tujuh ekor singa yang sebagian merupakan hasil pengembangbiakan di dalam kebun binatang.
Adapun serval didatangkan melalui program pertukaran satwa, sedangkan caracal turut melengkapi koleksi kucing liar di KBS.
Lintang menjelaskan, program breeding tidak bisa dilakukan sembarangan. Sebelum satwa dikawinkan, tim dokter hewan dan keeper memastikan kondisi kesehatan, kecukupan nutrisi, hingga kesiapan satwa memasuki masa reproduksi.
"Selama ini kita breeding dan juga tukar-menukar satwa untuk mendapatkan fresh blood. Yang jelas kesehatannya dipantau, nutrisinya dijaga, kemudian kita juga harus mengetahui kapan masa kawinnya," ujarnya.
Perawatan satwa kucing besar juga membutuhkan perhatian ekstra setiap hari. Setiap ekor harimau menghabiskan sekitar 5,5 kilogram pakan yang terdiri atas daging, ayam, hingga kepala ayam.
Selain pakan utama, satwa juga mendapatkan vitamin setiap hari, obat cacing secara berkala, serta vaksin yang diberikan setiap tahun.
"Setiap hari ada kontrol kesehatan dari keeper, kemudian dilanjutkan dokter hewan. Kalau ada satwa yang sakit, langsung ditangani sesuai kondisinya," jelasnya.
Sekalipun demikian, Lintang mengakui bahwa tantangan terbesar dalam merawat satwa kucing besar adalah menjaga kondisi kesehatannya ketika memasuki usia lanjut. Beberapa kematian harimau yang pernah terjadi di KBS disebabkan oleh faktor usia.
Sehingga pemantauan kesehatan rutin menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.
"Sejauh ini, hewan yang sakit mendapat pengobatan secara komperhensif langsung dari dokter," katanya.
Tak hanya berperan sebagai lembaga konservasi, kawasan kandang kucing besar juga menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan yang datang ke KBS.
"Tempat kucing kita, baik singa maupun harimau, menjadi lokasi favorit pengunjung. Selain gajah dan jerapah, banyak pengunjung yang sengaja datang untuk melihat harimau dan singa," kata Lintang.
Ia bercerita, pengunjung kerap menunggu cukup lama untuk melihat harimau atau singa keluar dari area teduh karena satwa tersebut tidak selalu berada di bagian depan kandang.
Meski demikian, antusiasme pengunjung tetap tinggi untuk menyaksikan secara langsung koleksi kucing besar yang terus berkembang di Kebun Binatang Surabaya.
Keberhasilan KBS dalam menambah koleksi berbagai spesies satwa melalui program breeding maupun pertukaran satwa tidak diperoleh secara instan.
Proses tersebut memerlukan pemenuhan berbagai persyaratan, mulai dari standar kesejahteraan satwa, kesiapan kandang, rekam jejak kesehatan, kecukupan nutrisi, hingga keberhasilan pengembangbiakan yang menjadi indikator kemampuan sebuah lembaga konservasi.
Konsistensi tersebut membuat KBS dinilai berhasil sebagai salah satu lembaga konservasi di Indonesia.
Kepercayaan itu juga datang dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia yang menunjuk KBS sebagai mitra dalam kerja sama internasional program breeding loan komodo dengan Pemerintah Prefektur Shizuoka, Jepang tahun ini.
Kerja sama yang ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Kementerian Kehutanan RI dan Pemerintah Prefektur Shizuoka itu akan diimplementasikan melalui kerja sama antara iZoo Jepang dengan Kebun Binatang Surabaya.
Selain mendukung upaya pelestarian komodo, program tersebut juga bertujuan memperkuat edukasi publik dan meningkatkan kesadaran internasasional terhadap pentingnya konservasi satwa liar.
Dalam implementasinya, kedua lembaga akan mengatur berbagai aspek teknis, mulai dari pemeliharaan, transportasi, hingga pengawasan satwa.
Penunjukan KBS dalam kerja sama tersebut menjadi pengakuan bahwa kebun binatang milik Pemerintah Kota Surabaya itu memiliki kapasitas dan pengalaman dalam mengelola satwa langka sesuai standar konservasi.
Baca juga: Kebun Binatang Surabaya Berhasil Kembang-biakkan Komodo, Siap Dilepas-liarkan ke NTT