Bangkai Ikan Ganggu Proses Belajar Siswa di Tanahlaut, Kematian Massal Setiap Kemarau
M.Risman Noor July 26, 2026 10:47 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI- Musim kemarau tak hanya mulai mengeringkan kawasan persawahan di Desa Handil Negara, Kecamatan Kurau, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan.  

Selain itu juga memicu kematian ikan air tawar yang berada di area rawa atau persawahan setempat.

Bangkai ikan yang berserakan di lahan sawah yang mulai mengering, mulai membusuk dan menebarkan aroma menyengat.

Penuturan sejumlah warga, Minggu (26/7), hal itu turut mengganggu kenyamanan aktivitas tersebab aroma tak sedap tersebut. Termasuk pada kegiatan belajar mengajar di UPTD SD Negeri 1 Handil Negara.

Baca juga: Gebrakan KPA Ulin, Buka Wahana Flying Fox di Area Parkir Bandara Bersujud Tanahbumbu

Baca juga: Dari Pesantren untuk Peradaban, Bupati HSU Ajak Muhammadiyah Wujudkan HSU Bangkit

Meski kondisi seperti itu bukan hal baru, warga telah terbiasa, namun tetap saja tak nyaman oleh aroma tak sedap itu. Apalagi kadang cukup menyengat ketika terembus angin.

Bangkai ikan terserak di sejumlah petak persawahan. Sebagian besar telah membusuk dan ada yang telah berbelatung.

Lokasinya hanya berjarak beberapa puluh meter dari lingkungan sekolah dan permukiman warga. Aroma busuk bahkan sudah tercium sejak memasuki kawasan Desa Handil Negara.

Makin mendekati sekolah, bau tersebut terasa semakin pekat hingga membuat sebagian warga menutup hidung saat melintas.

Guru Pendidikan Jasmani UPTD SD Negeri 1 Handil Negara, Harkani, mengatakan bau tak sedap itu mulai dirasakan sekitar satu pekan terakhir.

"Selama munculnya bau ikan busuk ini, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung seperti biasa. Hanya saja memang sedikit terganggu karena aromanya cukup menyengat," ujarnya.
 

Baca juga: Relawan Damkar Balangan Latih Ketangkasan, Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Bencana

Meski demikian, para siswa tetap mengikuti pembelajaran seperti biasa tanpa menggunakan masker.

Menurut Harkani, anak-anak sudah terbiasa dengan kondisi tersebut. Sebaliknya, beberapa guru memilih memakai masker agar lebih nyaman saat mengajar.

"Biasanya bau itu baru benar-benar hilang setelah air di persawahan mengering sepenuhnya," katanya.
Diduga, kematian massal ikan dipicu terus menyusutnya debit air di areal persawahan selama musim kemarau.

Air yang makin dangkal membuat ikan-ikan terjebak di kubangan, kemudian mati ketika dasar sawah mengering dan retak-retak.

Jenis ikan yang ditemukan mati beragam, mulai dari benih nila, gabus, papuyu hingga ikan siam. Seluruhnya kini membusuk dan menjadi tempat berkembangnya belatung.

Kematian ikan air tawar di Desa Handil Negara, Kecamatan Kurau, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Sekatan, merupakan siklus tahunan yang hampir selalu terjadi saat kemarau. 

Baca juga: Karhutla Terjadi di Beberapa Kecamatan di HSS, BPBD Pastikan Pemukiman Warga Masih Aman

Sudah Biasa Tapi Mengganggu

Kepala Desa Handil Negara, Supian Sauri, mengatakan seluruh ikan yang ditemukan mati merupakan ikan liar yang hidup di kawasan rawa dan persawahan. 

Menurut Supian, kondisi kemarau tahun ini membuat sejumlah area rawa maupun persawahan mengering sebagaimana di kawasan persawahan lain pada umumnya. 

Akibatnya, ikan-ikan terjebak di kubangan-kubangan kecil hingga akhirnya mati karena kehabisan air.

"Memang sekarang sudah banyak rawa dan sawah yang kering. Ikan-ikan liar itu tidak bisa keluar karena terjebak di cekungan air yang tersisa. Lama-kelamaan air habis dan ikannya mati," ujarnya.

Kondisi serupa hampir selalu terjadi setiap musim kemarau. Di sekitar rumahnya juga banyak ikan air tawar yang mati.

Meski warga sudah terbiasa menghadapi kondisi tersebut setiap musim kemarau, bau menyengat dari bangkai ikan yang membusuk tetap mengusik aktivitas sehari-hari.

"Sudah biasa saja, tapi ya tetap saja tak nyaman menghirup bau ikan mati," ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan ikan-ikan yang mati tersebut umumnya sisa atau afkiran yang berukuran kecil. Sedangkan yang berukuran besar telah diambil warganya untuk dijual maupun dikonsumsi.

Harga ikan dikatakannya murah pada musim kemarau karena dari tiap desa banyak hasil tangkapan ikan. Karena itu ikan kecil yang terjebak di cekungan tak diambil lagi oleh warganya. (banjarmasinpost.co.id/banyu langit)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.