BATAM, TRIBUNBATAM.id - Tak pernah terbayang di benak Bumbum (nama samaran), warga Batam, akan menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Berharap kerja sebagai welder sesuai keahliannya di Taiwan, ia malah ditipu; dikirim ke Kamboja, dan dipaksa kerja sesuai kehendak pelaku.
Jika tidak patuh, pria berusia sekitar 30-an tahun itu akan ditempatkan di ruang khusus. Kejutan listrik, dan pukulan demi pukulan akan mendarat di tubuhnya.
Bumbum juga nyaris mengakhiri hidup di negara orang, lantaran tak sanggup menghadapi penderitaan lagi.
Bumbum membagikan kisah pahitnya sebagai penyintas TPPO saat menjadi pembicara diskusi publik "Sampai Semua Bebas".
Kegiatan ini digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Batam bersama Yayasan Integritas Justicia Madani Indonesia (IJMI), dan Tribun Batam, Sabtu (25/7/2026) jelang peringatan Hari Anti TPPO.
Cerita Bumbum berawal dari informasi lowongan kerja (loker) sebagai welder sebuah proyek di Taiwan, 2024 lalu. Informasi itu diperolehnya dari media sosial (medsos) Instagram.
Tuntutan ekonomi, memaksa Bumbum untuk mencari peruntungan kerja di luar negeri.
"Tuntutan ekonomi, saya punya tanggungan," kata Bumbum, mengawali ceritanya.
Setelah menghubungi perusahaan penyalur, ia pun mengikuti tes yang dipersyaratkan. Namun beberapa hari kemudian, Bumbum mendapat kabar, proyek itu batal.
Tak lama setelah itu, ia kembali mendapat informasi loker di Taiwan. Kali ini dari Facebook. Bumbum lalu menghubungi nomor yang tertera, menanyakan prosedur, gaji dan sebagainya.
Namun ia tak perlu mengikuti tes. Sebab data-datanya saat ikut tes di perusahaan penyalur pertama telah dikantongi perusahaan ini.
Saat itu Bumbum belum sepenuhnya sadar dengan apa yang akan dihadapinya ke depan. Ia hanya tahu akan berangkat ke Taiwan dari Singapura, dan bekerja sebagai welder.
Untuk biaya transportasi dari Batam ke Singapura via jalur laut ditanggung perusahaan. Tak ada yang mendampinginya saat itu. Bumbum berangkat sendirian.
"Setelah sampai di Pelabuhan Batam Center, saya diminta foto. Benar, ditransfer uang untuk beli tiket ke Singapura dan jajan," ujarnya.
Ia lolos pemeriksaan Imigrasi, karena sudah biasa berwisata ke Singapura dan Malaysia.
Begitu tiba di Pelabuhan Singapura, Bumbum diarahkan ke Bandara Changi. Ia juga dikirimkan tiket pesawat ke Phnom Penh, tiket balik, hotel dan lainnya setelah berada di bandara. Hal itu untuk menguatkan pemeriksaan di Imigrasi, Bumbum ke Phnom Penh untuk berwisata.
"Saya nggak tahu awalnya Phnom Penh itu dimana. Saya kira nama bandara itu memang di Taiwan," kata Bumbum.
Sebenarnya ada beberapa pertanda lain yang didapatnya. Namun alam sadar Bumbum seolah abai dengan alarm bahaya itu.
Setibanya di negara tujuan, pria itu dijemput kendaraan roda 4. Di dalamnya ada tiga orang, selain sopir, ada dua orang lagi duduk di kursi bagian tengah. Bumbum diminta duduk di tengah kedua orang itu.
Mengira dua orang yang di samping kiri-kanannya itu teman, ia beberapa kali mengajak mereka bicara. Namun hanya hening yang tercipta. Akhirnya Bumbum memilih tidur dalam perjalanan menuju tempat tujuan.
Namun ia terbangun dalam suasana berbeda. Mulutnya dibekap dua orang di samping kanan dan kirinya, lalu pingsan.
Setelah sadar, ia sudah berada di ruang isolasi. Tangannya terborgol, hanya bercelana pendek. Bumbum disiram air, dipukuli tanpa tahu apa salahnya.
"Hari ketiga dia bawa tongkat listrik. Saya kaget, distrum lama," tutur.
Selama tujuh hari berturut-turut, ia mendapat perlakuan yang sama. Bumbum hanya bisa menangisi keputusannya.
Hari berikutnya, borgol di tangannya dilepas. Ia diminta mengenakan baju dan bekerja sebagai admin toko online.
Oleh penerjemah di sana, Bumbum dilarang banyak bertanya saat itu. Ijazah sekolah, sertifikat welder, paspor, hp, semuanya ditahan.
Ia bekerja di depan layar komputer dengan banyak akun Facebook dan Instagram yang tak dikenalnya.
"Saya kira bagian promosi. Tapi disuruh chat orang random. Bilang hai," ujar Bumbum.
Setelah membaca skrip yang diberikan, pekerjaannya mengarah ke penipuan love scamming. Bumbum berontak. Ia tak mau menipu orang. Ia bersikeras melamar kerja menjadi welder, namun faktanya berbeda.
Penolakan Bumbum dibalas dengan tangannya diborgol lagi. Ia disiksa hampir 2 minggu lamanya. Itu sebagai syok terapi agar Bumbum patuh.
"Kawan bilang kerja aja, nurut aja daripada mati," katanya setelah mendapat hukuman itu.
Lebih kurang 9 bulan ia bekerja di kantor scam. Selama waktu itu pula ia berusaha mencari cara keluar dari tempat kerja yang disebutnya 'neraka'.
Sementara komunikasinya dengan keluarga di Batam terputus. Tak ada yang tahu kabar Bumbum selama waktu itu, sebab ponselnya disita.
Dalam kurun waktu tersebut, ia juga nyaris mengakhiri hidupnya. Namun ada saja teman-teman senasib yang menguatkannya untuk bertahan.
Suatu hari, ia menemukan laman pengaduan Peduli Lindungi WNI. Namun butuh waktu delapan bulan hingga akhirnya laporannya direspons.
Bumbum bukan satu-satunya Warga Negara Indonesia (WNI) yang terjebak penipuan rekrutmen kerja di luar negeri.
Total ada 18 WNI di kelompoknya. 15 di antara mereka akhirnya membuat laporan ke KBRI, minus ketua dan wakil di kelompok Bumbum.
Rencana ini muncul dari sesama korban yang baru saja terjebak dan bergabung di perusahaan tempat Bumbum bekerja.
Ternyata korban sebelumnya juga pernah bekerja di perusahaan lain yang serupa. Sayangnya, ia kembali terjebak penipuan di tempat perusahaan Bumbum bekerja.
Korban lalu mengajak Bumbum dan WNI lainnya di situ untuk melawan.
Awalnya Bumbum dan rekan lainnya takut, karena penyiksa mereka memiliki senjata api. Namun akhirnya mereka sepakat 'melawan'.
"Ketua dan wakil tak diajak. Mereka orang Indonesia juga. Tapi mereka yang mukuli kami kalau ada kesalahan," tutur Bumbum.
Hari-hari Bumbum di Kamboja dihabiskan dengan berhadapan di depan komputer. Lebih kurang 12 jam lamanya.
Ia mulai bekerja dari pukul 08.00, terkadang sampai pukul 23.00 waktu setempat.
Sama seperti Bumbum yang memiliki sertifikasi welder, tak sedikit WNI yang tertipu info loker di luar negeri, sebenarnya punya kompetensi kerja.
"Saya tanya kawan-kawan, ada yang jadi wartawan, programmer. Ada juga yang tertipu dari Linkedln," ujarnya kepada Tribunbatam.
Setelah melapor, butuh waktu dua bulan hingga akhirnya mereka dijemput petugas. Bukan dari pihak KBRI langsung, tetapi dari pihak kepolisian setempat.
Penjemputan itu juga tak seindah yang Bumbum bayangkan. Entah dari mana, pihak perusahaan tahu mereka membuat laporan ke KBRI.
Mereka pun mendapat hukuman penyiksaan lagi sebelum akhirnya dilepas.
Saat itu Bumbum sudah pasrah. Terpenting ia bisa segera keluar dari perusahaan itu.
Hp dan paspor mereka dikembalikan waktu itu. Namun kondisi hp sudah direset, data-data lama di ponsel hilang. Ijazah mereka tak dikembalikan.
Lokasi tempat Bumbum bekerja di Kamboja berada di kawasan Koh Kong. Lokasi itu jauh dari permukiman penduduk.
Kondisi geografisnya merupakan kawasan pegunungan dan perbukitan dengan jalan setapak.
Butuh waktu sekitar 4,5 jam berjalan kaki dari kawasan tempat Bumbum bekerja sampai akhirnya mereka menemukan rumah warga.
Saat mereka dijemput petugas kepolisian saat itu, mereka tak langsung diantar ke KBRI.
Seorang polisi yang ia yakini berkebangsaan Malaysia, menanyakan apakah mereka punya uang untuk kembali ke Indonesia.
Meski menjawab punya, petugas hanya mengantar mereka sampai gerbang, lalu meninggalkan Bumbum dan kawan-kawan begitu saja pada malam hari.
"Kami dilepaskan itu sekitar pukul 23.30 waktu setempat. Pukul 4, masih gelap, kami ketuk pintu rumah warga minta diantar ke KBRI. Bayarnya 200 dolar," ujar Bumbum.
Setibanya di KBRI. Ada dua pilihan menanti, bayar denda karena sudah melebihi tinggal di Kamboja 4 bulan, nilainya sekitar 4.000 dolar atau deportasi.
Bumbum memilih deportasi. Namun waktunya juga bukan sebentar. Paling cepat 5-6 bulan, paling lambat 1 tahun.
Bumbum sempat menginap di tempat penginapan murah awalnya. Namun hanya bertahan sebentar, uangnya habis. Setelah itu, banyak waktunya dihabiskan dengan tidur di pinggir jalan.
Syukurnya, ada belas kasih dari sesama WNI yang kebetulan memiliki usaha warung makan di sana. Bumbum diberi makan. Ada juga bantuan makanan dari pihak KBRI.
Bulan kedua setelah lepas dari 'neraka', orang tua Bumbum menghubunginya. Dari situlah orang tuanya baru tahu nasib Bumbum selama ini.
Ia akhirnya pulang ke Indonesia setelah 9 bulan menunggu. Balik ke Batam, ia kembali memulai hidup dari nol lagi. Bumbum sempat malu, apalagi setelah teman-teman dan kerabat mengetahui aktivitasnya di Kamboja.
Namun ia berhasil bangkit. Kasus ini sempat dilaporkan ke Polda Kepri waktu itu, dengan harapan pelaku dapat ditangkap.
Sayangnya, bukti-bukti yang dimilikinya telah dihapus. Sedangkan tiket keberangkatan yang masih disimpan Bumbum, tak kuat dijadikan bukti.
Akhirnya, dalang kasus TPPO ini tak pernah terungkap ke permukaan. Meski ijazah dan sertifikat weldernya tak kembali, syukurnya Bumbum sudah mendapat pekerjaan lagi walau tidak di luar negeri.
Bumbum kini memilih bersuara, agar tak ada lagi Bumbum-bumbum lainnya di luar sana yang bernasib sama dengannya.
"Pesan saya, jangan gampang percaya teman, kerabat dan media sosial terkait loker ke luar negeri. Itu permainan mereka dan terstruktur. Satu kepala (per orang) itu dijual 5.000 dolar di luar negeri," tutur Bumbum. (Tribunbatam.id/wie)