TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Seorang guru bernama Ika Indah Sari (38), warga Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan kembali mendatangi Polda Sumut, setelah sebelumnya membuat laporan. Kali ini, ia datang ke gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum membawa dua orang saksi yang diduga mengetahui peristiwa tewasnya Daffa, anak pertamanya yang masih duduk di kursi sekolah menengah atas (SMA).
Diketahui, Daffa Al-Bukhari (17) tewas diduga tertembak, tepat di mata sebelah kirinya pada Sabtu 18 Juli lalu. Ika mengatakan, kedatangan ke Polda hanya mendampingi saksi yang merupakan rekan anaknya.
Mereka hadir dan menjalani pemeriksaan kurang lebih selama 3 jam setengah, sejak pukul 15:30 WIB, hingga pukul 19.00 WIB. Ia berharap dari keterangan saksi yang dibawa bisa menjadi petunjuk Polisi menemukan, dan menangkap pelaku yang menewaskan anak pertamanya tersebut. "Kemarin bawa dua saksi yang sepertinya mengetahui kejadian. Saya berharap keterangan ini bisa membuat kasus ini terungkap," kata Ika Indah Sari, Sabtu (25/7).
Sebelumnya, seorang guru bernama Ika Indah Sari (38), warga Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan juga teah mendatangi Polda Sumut, Rabu (22/7). Saat diwawancarai, wanita berhijab ini tak kuasa membendung air matanya menceritakan begitu tragis kematian anaknya, Daffa Al-Bukhari (17), yang masih berstatus pelajar kelas 3 SMA.
Daffa, anak pertamanya itu tewas akibat luka tembak tepat di mata sebelah kirinya. Selain itu, anaknya juga mengalami luka di kepala, dan beberapa bagian tubuh lainnya.
Baca juga: Keberanian Kiran Curi Perhatian di Hari Anak Nasional, Rico Waas:Semua Anak Berhak Tampil & Berkarya
Karena tak terima kematian anaknya begitu tragis, ia melapor ke Polda Sumut agar Polisi mengungkap siapa pelakunya. Ika tak ingin anaknya mati sia-sia begitu saja, dan pelakunya melenggang bebas. "Hati orang tua mana yang tidak hancur melihat anaknya sudah tidak ada. Yang terluka itu mata sebelah kiri. Saya mau keadilan buat anak saya. Saya nggak mau anak saya mati sia-sia," katanya di Polda Sumut, Rabu (22/7) malam.
Ika menceritakan Sabtu, 18 Juli lalu, sekira pukul 02:00 WIB, menjadi peristiwa yang tak akan pernah dilupakan seumur hidup. Ketika sedang terlelap, beberapa rekan anaknya mengetuk pintu rumah. Mereka mengabarkan kalau Daffa (17), yang selama ini tinggal bersama neneknya berusia 81 tahun terjatuh, lalu kepalanya bocor.
Begitu ditanya keberadaan Daffa, mereka bilang sudah dibawa ke RS Delima, Jalan Yos Sudarso Medan. Tanpa banyak bicara, Ika bergegas menuju rumah sakit untuk menemui anaknya. Sesampainya di rumah sakit, Daffa sudah tewas terbujur diatas ranjang rumah sakit. "Setibanya datang ke rumah sakit Delima, anak saya sudah tidak ada, meninggal dunia. Ternyata anak saya meninggal di lokasi, karena ketika diantar ke rumah sakit, anak saya sudah tidak ada."
Di sini ia melihat kondisi Daffa memprihatinkan karena ada luka tembak diduga dari senapan angin tepat di mata kirinya. Karena tak terima anaknya tewas, Ika mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata menurut cerita rekan anaknya, saat itu mereka sedang mengendarai sepeda motor, posisi Daffa dibonceng.
Di lokasi, kawasan terowongan Jalan Tol, Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Labuhan ada bentrokan diduga antar kelompok organisasi masyarakat (Ormas). Kemudian Daffa dan rekannya berhenti, untuk melihat-lihat. Tak lama kemudian terjadi baku tembak di lokasi, dan Daffa terjatuh ke tanah, dengan kondisi wajahnya bercucuran darah.
Melihat kondisi Daffa, rekan-rekannya berusaha menyelamatkan dengan cara menyeret menjauh dari lokasi bentrok. "Informasi dari kawan-kawan anak saya, awalnya dia dibonceng, kemudian ada bentrokan, motornya diparkir, dan melihat bentrokan. Mereka nggak menyangka Daffa tiba-tiba terjatuh, kena tembak di mata kirinya," katanya. (cr25/Tribun-Medan.com)