Laporan Wartawan Serambi Indonesia Jafaruddin | Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Aceh menggelar Seminar Nasional Peugah Haba Energi dengan tema “Membangun Kesepahaman di Tengah Polemik Pengembangan Blok Andaman” sebagai upaya membangun kesamaan pandangan mengenai pengembangan salah satu proyek migas terbesar di Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Waroeng Aceh Garuda, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (24/7/2026) itu, diikuti lebih dari 170 peserta dari berbagai kalangan.
Seminar tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, yakni:
Acara dibuka oleh Presiden DEM Aceh, Faizar Rianda dan dimoderatori Ketua Umum Masyarakat Ketahanan Energi Indonesia (MKEI), Awaf Wirajaya, ST, MHan.
Baca juga: Pemerintah Aceh Ungkap Sejumlah Perusahaan Lirik Hilirisasi Migas Blok Andaman di KEK Arun
Forum ini menjadi ruang diskusi yang mempertemukan regulator, akademisi, praktisi, dan generasi muda untuk membahas arah pengembangan Blok Andaman.
Khususnya terkait Plan of Development (PoD) Tahap I yang belakangan menjadi perhatian publik.
Presiden DEM Aceh, Faizar Rianda menegaskan, bahwa organisasinya mendukung pengembangan Blok Andaman sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).
Namun, menurutnya, proyek tersebut harus mampu memberikan manfaat nyata bagi Aceh melalui pengembangan industri hilir berbasis gas, tanpa menghambat proses investasi yang sedang berjalan.
Ia menjelaskan, perdebatan mengenai skema pengembangan, baik menggunakan Floating Production, Storage and Offloading (FPSO), Onshore Processing Facility (OPF), maupun konsep hybrid, seharusnya didasarkan pada kajian teknis, karakteristik lapangan migas laut dalam, serta aspek keekonomian proyek.
Faizar menilai, kepastian terhadap Plan of Development perlu segera diwujudkan agar kepercayaan investor tetap terjaga.
Di sisi lain, peluang pengembangan hilirisasi pada tahap berikutnya juga harus dipersiapkan sehingga potensi gas Andaman mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian Aceh.
"Yang terpenting adalah proses penyelesaian PoD tidak berlarut-larut sehingga investasi dapat segera direalisasikan dan kepercayaan investor tetap terjaga," ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala SKK Migas yang tetap mengikuti seminar secara daring di tengah agenda kedinasan di Pekanbaru.
Menurutnya, kehadiran Djoko Siswanto menunjukkan komitmen pemerintah membangun komunikasi terbuka dengan masyarakat, khususnya generasi muda Aceh.
Dalam pemaparannya, Kepala SKK Migas menjelaskan arah kebijakan pengembangan sektor hulu migas nasional serta pentingnya menjaga kepastian investasi agar proyek-proyek strategis dapat berjalan sesuai target.
Ia menilai, pengembangan Blok Andaman perlu dipercepat agar manfaat ekonominya segera dirasakan.
Sementara itu, Ketua ICRES, Surya Darma, mengingatkan agar Indonesia tidak mengulangi pengalaman panjang pengembangan Blok Masela yang membutuhkan waktu puluhan tahun hingga dapat direalisasikan.
Menurutnya, potensi gas di Blok Andaman merupakan aset strategis yang mampu memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih.
Ia menambahkan, proyek tersebut akan memberikan dampak ekonomi yang besar apabila didukung iklim investasi yang kondusif, kemudahan birokrasi, kepastian hukum, serta kesiapan sumber daya manusia lokal agar dapat berperan dalam industri migas dan petrokimia.
Founder DEM Aceh, Didi Supriadi mengatakan, polemik mengenai PoD Tahap I seharusnya menjadi momentum memperkuat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, bukan memperlebar perbedaan pandangan.
Menurutnya, PoD Tahap I hanyalah awal dari pengembangan Blok Andaman.
Karena itu, strategi yang disusun saat ini harus mampu menjawab kebutuhan pembangunan jangka panjang Aceh melalui hilirisasi industri berbasis gas.
Sebagai hasil seminar, DEM Aceh merumuskan lima rekomendasi strategis, yaitu:
Dengan kepastian investasi, percepatan hilirisasi, serta penguatan SDM lokal, Blok Andaman diharapkan mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi Aceh sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.(*)