TRIBUNMANADO.COM, Manado - Beragam kegiatan digelar Perkumpulan Manengkel Solidaritas Sulawesi Utara dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia 2026.
Dua lokasi pelaksanaan kegiatan bertajuk ‘Pekan Mangrove 2026' yakni di Desa Kapitu, Kecamatan Amurang Barat, Kabupaten Minahasa Selatan, serta Desa Bahoi, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara.
Dalam rilis kepada Tribunmanado.com, Minggu (26/7/2026) disebutkan, kegiatan yang berlangsung sepanjang Juli 2026 tersebut menghadirkan berbagai agenda edukasi, kreativitas, hingga aksi penanaman mangrove yang melibatkan masyarakat pesisir, pelajar, kelompok pengelola mangrove, pemerintah desa, dan sektor swasta.
Rangkaian kegiatan diawali di Desa Kapitu pada Rabu (22/7/2026) dengan lomba menggambar bertema mangrove yang diikuti siswa SD GMIM Kapitu.
Melalui karya mereka, para peserta menggambarkan fungsi mangrove sebagai pelindung pantai, habitat berbagai satwa, sekaligus sumber kehidupan masyarakat pesisir.
Setelah lomba, para siswa mengikuti sesi edukasi bersama Kelompok Pengelola Mangrove Victory Kapitu.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai jenis mangrove yang tumbuh di pesisir Sulawesi Utara, fungsi ekologisnya, hingga praktik pembibitan mangrove mulai dari pemilihan propagul hingga proses penyemaian.
Untuk memperluas kampanye konservasi, Manengkel Solidaritas juga menggelar Lomba Konten Mangrove Antar Jaga.
Melalui kompetisi tersebut, masyarakat didorong membuat foto, video, maupun cerita kreatif mengenai mangrove di wilayah masing-masing sebagai upaya meningkatkan kesadaran publik melalui media digital.
Puncak kegiatan ditandai dengan penanaman 1.000 bibit mangrove di Desa Bahoi.
Penanaman dilakukan oleh Perkumpulan Manengkel Solidaritas bersama PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Manado, pemerintah desa, kelompok masyarakat, serta para relawan.
Peringatan Hari Mangrove Sedunia menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem mangrove secara berkelanjutan.
Pelestarian mangrove dinilai tidak cukup hanya melalui penanaman bibit, tetapi juga membutuhkan peningkatan pengetahuan, kepedulian, serta keterlibatan aktif masyarakat pesisir sebagai garda terdepan dalam pengelolaannya.
Koordinator Marine Program Perkumpulan Manengkel Solidaritas, Tonny Imannuel, mengatakan keberhasilan konservasi mangrove tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjaga ekosistem tersebut dalam jangka panjang.
"Kami percaya bahwa konservasi dimulai dari manusia. Menanam mangrove adalah langkah penting, tetapi yang lebih penting adalah membangun kesadaran, rasa memiliki, dan tanggung jawab bersama untuk merawatnya. Ketika anak-anak, masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha bergerak bersama, maka masa depan ekosistem mangrove akan semakin terjamin," ujarnya.
Pihaknya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan Pekan Mangrove 2026, di antaranya masyarakat Desa Kapitu dan Desa Bahoi, Kelompok Pengelola Mangrove Victory Kapitu, SD GMIM Kapitu, PT PNM Cabang Manado, pemerintah desa, para relawan, serta berbagai mitra yang terlibat.
Melalui kegiatan tersebut, Manengkel Solidaritas berharap semangat menjaga mangrove tidak berhenti pada peringatan Hari Mangrove Sedunia semata, tetapi menjadi gerakan bersama yang terus berkembang di tengah masyarakat.
Mangrove yang terjaga diyakini berperan penting dalam melindungi wilayah pesisir dari abrasi, meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, sekaligus menjadi warisan lingkungan bagi generasi mendatang.
Perkumpulan Manengkel Solidaritas merupakan organisasi masyarakat sipil di Sulawesi Utara yang bergerak di bidang konservasi pesisir dan laut, rehabilitasi mangrove dan terumbu karang, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan ekowisata berbasis masyarakat. (*)