Di balik bilik toko kelontong sederhana di Kediri, seorang anak bangsa menyimpan mimpi besar untuk melanjutkan kuliah. Ia adalah Zahira Dewi Kirana Lestari.
Zahira, panggilan akrabnya, dikenal sebagai anak yang supel, ceria, dan aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik, seperti Olimpiade Sains Madrasah (OSM). Tekun menjadi sifat yang menggambarkan seorang Zahira.
Sifat tersebut juga yang mengantarkannya meraih mimpi untuk berkuliah. Zahira kini telah diterima sebagai mahasiswa program studi S1 Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (FBS Unesa).
Siap Kuliah Pakai KIP Kuliah
Perjuangan kuliah Zahira bisa dibilang tidak mudah. Sebagai putri dari penjual kelontong sederhana, keterbatasan ekonomi menjadi tantangannya.
Selain itu, Zahira juga diketahui merupakan penyandang disabilitas daksa. Namun, kedua keterbatasan itu tidak pernah memadamkan mimpinya hingga kini resmi menjadi calon mahasiswa Unesa dengan KIP Kuliah.
Sejak bersekolah di MAN 3 Kediri, ia telah bertekad untuk melanjutkan studi setelah lulus. Surabaya menjadi kota pilihannya untuk berkuliah lantaran sudah merasa familiar.
"Dari SMA memang sudah ingin kuliah. Saya ingin kuliah di Surabaya karena sejak kecil pernah kontrol di sana, jadi sudah merasa lebih familiar dengan Surabaya," ungkap Zahira dikutip dari laman Unesa, Jumat (24/7/2026).
Pilihannya pada program studi Sastra Inggris berangkat dari hobi menonton film, mendengarkan musik, dan bacaan berbahasa Inggris. Berbagai hal ini kemudian menumbuhkan rasa ingin tahu besar terkait bahasa sekaligus budaya dari berbagai negara.
Di perkuliahannya nanti, Zahira ingin mengikuti program pertukaran mahasiswa. Dengan begitu, ia bisa mempelajari bahasa dan budaya negara lain secara langsung.
"Saya ingin belajar bahasa dan budaya lain. Kalau ada kesempatan, ingin mencoba exchange ke luar negeri," harapnya.
Mahasiswa KIP Kuliah Dapat Pendampingan
Unesa menyambut baik bergabungnya Zahira ke kampus dengan julukan rumah para juara itu. Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa Martadi secara langsung mendatangi Zahira.
Martadi menjelaskan proses seleksi penerima KIP Kuliah di Unesa dilakukan secara menyeluruh. Tujuannya, agar beasiswa tepat sasaran dan diberikan kepada mahasiswa yang memang membutuhkannya.
Tak hanya beasiswa kuliah, Unesa juga memberikan pendampingan pada mahasiswa penerima KIP Kuliah sejak awal. Bentuk pendampingan yang dimaksud mulai dari bantuan akademik, pemberian alat belajar seperti laptop, hingga memfasilitasi kebutuhan tempat tinggal.
"Agar mereka dapat belajar dengan baik, aman, dan nyaman," ungkap Murtadi.
Melihat mimpi Zahira, Martadi menekankan, mahasiswa KIP Kuliah punya kesempatan yang sama untuk mengikuti pertukaran di dalam maupun dalam negeri. Mereka juga diberikan kebebasan yang sama untuk mengembangkan diri dan prestasi
"Bagi Unesa, perjuangan Zahira patut diapresiasi dan menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan pendidikan tinggi yang semakin inklusif. Melalui KIP Kuliah, universitas berupaya memastikan bahwa keterbatasan ekonomi maupun kondisi disabilitas tidak menjadi penghalang bagi talenta muda untuk memperoleh kesempatan belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensi terbaiknya," tekan Unesa.





