Diikuti 3.500 Peserta, Rimaniar Hetharia Dorong Parade Kebaya Jadi Agenda Tahunan Kota Ambon
Mesya Marasabessy July 27, 2026 04:48 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis

AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Ribuan perempuan dari berbagai kalangan memadati ruas jalan di Kota Ambon dalam Parade Kebaya Ambon yang digelar Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Perempuan Indonesia Maju (PIM) Provinsi Maluku, Sabtu (25/7/2026).

Tak sekadar menjadi perayaan budaya, parade tersebut diklaim membawa dampak positif bagi pelestarian kebaya, penguatan persatuan perempuan, hingga menggerakkan roda perekonomian masyarakat.

PIM1
PARADE KEBAYA - Ketua DPD PIM Provinsi Maluku, Rimaniar Hetharia bersama rombongan parade Kebaya Ambon berjalan kaki dari Gong Perdamaian Dunia melalui Jalan Slamet Riyadi, Jalan DI Panjaitan, Jalan Pattimura, hingga kembali ke titik start, Sabtu (25/7/2026).

Ketua DPD PIM Provinsi Maluku, Rimaniar Hetharia, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam kegiatan yang diselenggarakan berkolaborasi dengan Bunda PAUD Kota Ambon, Lisa Wattimena, yang juga menjabat sebagai Ketua DPC PIM Kota Ambon.

Menurut Rimaniar, Parade Kebaya Ambon lahir dari keprihatinan terhadap kondisi sosial yang berkembang di tengah berbagai tantangan global. 

Di tengah situasi tersebut, pelestarian budaya dinilai menjadi salah satu cara memperkuat identitas masyarakat sekaligus memberikan manfaat nyata.

"Bagi kami, kebaya bukan sekadar pakaian tradisional. Kebaya adalah simbol jati diri, kekuatan, identitas, dan keanggunan perempuan Indonesia yang harus terus dilestarikan," ujarnya.

Baca juga: Kerugian Kebakaran Batu Meja Ambon Capai Rp1,41 Miliar, 5 Warga Terdampak Kehilangan Rumah dan Kios

Baca juga: Temuan Dugaan Bom Pesawat PD II di Halaman Kantor Percetakan Negara, Kapolres Ambon: Itu Cangkangnya

Ia mengatakan, penyelenggaraan parade secara tidak langsung menciptakan perputaran ekonomi di Kota Ambon. 

Berbagai sektor, mulai dari pelaku usaha kebaya, penjahit, perias, hingga pelaku UMKM ikut merasakan dampak dari kegiatan tersebut.

"Kami percaya kegiatan seperti ini mampu meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat yang pada akhirnya turut memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah, baik di tingkat provinsi maupun kota," katanya.

Rimaniar mengaku terharu melihat antusiasme masyarakat yang begitu besar. 

Parade tersebut terbuka bagi seluruh perempuan di Maluku tanpa membedakan latar belakang profesi maupun organisasi.

Sekitar 1.500 anak PAUD bersama orang tua turut dilibatkan melalui kolaborasi dengan Bunda PAUD Kota Ambon. 

Selain itu, peserta juga berasal dari jenjang TK, SMP, SMA, berbagai profesi, hingga organisasi perempuan. Secara keseluruhan, jumlah peserta diperkirakan mencapai sekitar 3.500 orang.

Parade mengambil rute dari kawasan Gong Perdamaian Dunia melalui Jalan Slamet Riyadi, Jalan DI Panjaitan, Jalan Pattimura, Jalan Wem Reawaruw, kemudian kembali ke Gong Perdamaian melalui Jalan Sultan Hairun.

Selain mengajak masyarakat mencintai Kebaya Ambon, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan dan solidaritas antarsesama perempuan di Maluku.

Rimaniar turut memberikan apresiasi kepada Ketua Panitia, Alwiyah Alydrus, yang dinilai mampu mengemas acara dengan baik meski waktu persiapan terbilang singkat dan dilakukan di tengah berbagai keterbatasan.

"Semua kerja keras itu terbayar dengan rasa syukur karena masyarakat memberikan respons yang sangat positif," ucapnya.

Ke depan, DPD PIM Maluku menargetkan Parade Kebaya Ambon menjadi agenda rutin tahunan yang melibatkan lebih banyak masyarakat. 

Bahkan, mereka berencana memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) melalui penyelenggaraan parade yang lebih besar.

Tak hanya itu, PIM Maluku juga ingin mendorong Kebaya Ambon atau Kebaya Maluku agar dapat diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional sebagai langkah awal menuju pengakuan yang lebih luas.

Parade Kebaya Ambon tahun ini digelar dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional dan Hari Kebaya Nasional yang diperingati setiap 25 Juli. 

Kegiatan serupa juga dilaksanakan secara serentak oleh DPD PIM di 21 provinsi di Indonesia serta enam kepengurusan PIM di luar negeri.

Rimaniar berharap sinergi antara DPD PIM Maluku, DPC kabupaten/kota, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan terus diperkuat agar kegiatan pelestarian budaya dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Maluku.

"Harapan kami, kolaborasi ini terus berlanjut sehingga semakin banyak perempuan Maluku yang terlibat dan bersama-sama menghadirkan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat serta menjaga warisan budaya untuk generasi mendatang," tutupnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.