Orangtua Pesepakbola Muda Sumut Kecewa, Bayar 5,5 Juta tapi Gagal Berangkat Liga Top Skor Nasional
Randy P.F Hutagaol July 27, 2026 08:27 PM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Kekecewaan mendalam dirasakan para orangtua pesepak bola muda asal Sumatera Utara yang gagal berangkat mengikuti Liga Top Skor Nasional Championship 2026 di Bogor, Jawa Barat.

Selain mengalami kerugian materi, mereka juga menilai peristiwa tersebut telah berdampak pada mental anak-anak yang sejak awal sangat antusias akan mewakili Sumatera Utara di ajang nasional.

Salah seorang orangtua pemain, Umasari Siregar, mengaku menjadi salah satu korban setelah diminta menyetorkan uang sebesar Rp 5,5 juta kepada Ketua Panitia Pelaksana Liga Top Skor Regional Sumatra Utara, Darma Riyadi. Uang tersebut sebagai biaya administrasi dan keberangkatan putranya yang berusia 14 tahun.

Sembari menitikkan air mata, Umasari menjelaskan bahwa dirinya rela membayar biaya tersebut karena ingin mendukung cita-cita sang anak untuk menambah pengalaman bertanding di tingkat nasional. Ia tidak menyangka harapan anaknya untuk tampil di Liga Top Skor Nasional 2026 justru berakhir dengan kekecewaan.

"Kami diminta menyetor administrasi sebesar Rp5,5 juta. Karena saya mendukung anak, saya bayarkan. Awalnya kami dijanjikan berangkat hari Sabtu, tetapi kemudian diundur ke hari Minggu. Saat itu sebenarnya saya sudah mulai curiga," ujar Umasari kepada Tribun Medan, Senin (27/7/2026).

Ia menuturkan, sesuai arahan panitia, dirinya bersama sang anak sudah berada di Bandara Internasional Kualanamu sejak pukul 08.00 WIB pada Minggu (26/7/2026). Namun hingga pukul 12.00 WIB, tidak ada kepastian mengenai keberangkatan rombongan menuju Bogor.

Merasa ada kejanggalan, para orangtua kemudian mencoba mencari informasi langsung ke pihak maskapai Lion Air.

"Setelah kami tanyakan ke pihak Lion Air, ternyata nama anak-anak kami sama sekali tidak terdaftar sebagai penumpang yang akan berangkat ke Bogor. Di situlah kami benar-benar kecewa," katanya.

Umasari menjelaskan, para pemain yang direkrut berasal dari berbagai sekolah sepak bola (SSB) di Sumatera Utara. Masing-masing SSB yang memiliki pemain berpotensi dan bersedia untuk memperkuat tim yang dijanjikan berangkat ke putaran nasional.

Bahkan, katanya dari Kabupaten Labuhanbatu saja disebut terdapat enam pemain kategori U-14 dan U-16 yang ikut didaftarkan.

"Anak-anak itu semangat sekali. Saya melihat sendiri bagaimana bahagianya mereka saat berada di bandara karena merasa akan mewakili Sumatera Utara. Tetapi akhirnya hasilnya seperti ini," ungkapnya.

Menurut Umasari, putranya sebenarnya pernah mengikuti Liga Top Skor Nasional pada tahun lalu dan seluruh proses keberangkatan berjalan lancar. Pengalaman itu membuat dirinya kembali percaya ketika mendapat tawaran untuk mengikuti ajang yang sama tahun ini.

"Tahun lalu anak saya juga berangkat ke nasional dan tidak ada masalah. Karena itu saya percaya lagi. Saya pikir ini kesempatan yang baik untuk anak saya yang masih berusia 14 tahun menambah pengalaman," ujarnya.

Ia juga mengaku mengenal sosok Darma Riyadi yang menerima uang dari para orangtua karena yang bersangkutan merupakan pelatih di SSB Alpha Perkasa Medan tempat anaknya berlatih.

"Saya percaya karena dia juga melatih di SSB anak saya. Selama ini memang kami jarang berkomunikasi. Tapi sekarang sudah tidak bisa dihubungi lagi, komunikasinya terputus," katanya.

Meski mengalami kerugian materi, Umasari menegaskan hal yang paling membuatnya sedih adalah dampak psikologis yang dialami anak-anak.

"Kalau soal uang mungkin masih bisa dicari. Yang paling saya pikirkan itu mental anak-anak. Saya melihat sendiri mereka sangat senang karena akan berangkat ke Bogor membawa nama Sumatera Utara. Bahkan ada orangtua yang sudah lebih dulu berangkat ke Bogor karena sebelumnya dijanjikan anaknya berangkat hari Sabtu. Namun ternyata anaknya tidak jadi berangkat dan masih tertahan di Kualanamu," tuturnya.

Terkait langkah selanjutnya, Umasari mengatakan para orangtua sedang mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum apabila tidak ada itikad baik dari pihak yang bertanggung jawab.

"Kami masih berharap ada tanggung jawab untuk mengembalikan uang yang sudah disetor. Kalau memang belum bisa sekaligus, setidaknya bisa dicicil. Yang penting ada itikad baik," ucapnya.

Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi karena dinilai dapat merusak semangat pembinaan sepak bola usia dini di Sumatera Utara.

"Saya berharap jangan ada lagi kejadian seperti ini. Kasihan anak-anak yang sudah berjuang. Jangan sampai mental mereka rusak karena kejadian seperti ini. Mereka harus tetap diberi kesempatan untuk berkembang dan meraih prestasi," katanya.

Meski demikian, Umasari menyebut kondisi putranya kini mulai kembali normal dan telah beraktivitas seperti biasa.

"Alhamdulillah sekarang anak saya sudah kembali sekolah dan beraktivitas seperti biasa. Mungkin karena tahun lalu sudah pernah berangkat ke Bogor, jadi dia lebih bisa menerima. Tapi sebagai orangtua, saya tetap sedih melihat apa yang dialami anak-anak ini," pungkasnya.

Peristiwa ini pun viral di media sosial dan memicu kekecewaan para orangtua maupun pemain yang telah mempersiapkan diri untuk tampil di ajang nasional tersebut.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Tribun Medan, para pemain yang berasal dari kategori usia U-14 dan U-16 itu sebelumnya telah menyetorkan biaya sebesar Rp5,5 juta per orang kepada salah seorang oknum panitia penyelenggara Liga Top Skor Regional Sumatera Utara.

Dana tersebut disebut sebagai biaya keberangkatan dan keikutsertaan mereka pada putaran nasional. Setelah melakukan pembayaran, para pemain dan orangtua dijanjikan akan diberangkatkan menuju Bogor sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Para pemain tersebut sebelumnya dijanjikan akan menjadi wakil Sumatera Utara melalui Tim TSI Sumut (Top Skor Indonesia Sumut) pada ajang Liga Top Skor Nasional Championship 2026.

Sementara itu, empat tim resmi perwakilan Sumatera yang memang telah memastikan lolos ke putaran nasional diketahui sudah tiba di Bogor untuk mengikuti kompetisi. Keempat tim tersebut adalah SSB Tasbi dan Perpapi pada kategori U-14, serta SSB Sejati Jaya dan Perbaungan City pada kategori U-16.

Namun, hingga waktu keberangkatan tiba, janji tersebut tak kunjung terealisasi.
Informasi yang dihimpun dari sejumlah orangtua menyebutkan, anak-anak awalnya dijadwalkan terbang dari Bandara Internasional Kualanamu pada Sabtu (25/7/2026). Namun keberangkatan tersebut mendadak dibatalkan.

Selanjutnya, mereka kembali diinformasikan bahwa keberangkatan diundur menjadi Minggu (26/7/2026) pagi. Harapan itu pun kembali pupus setelah jadwal kembali berubah ke siang hari.

Ironisnya, hingga Minggu siang, sebanyak 24 pemain beserta para pendamping atau orangtua yang telah berada di bandara belum juga menerima tiket pesawat ataupun kepastian keberangkatan.

Kondisi tersebut membuat para orangtua kebingungan sekaligus kecewa. Anak-anak yang sebelumnya sangat antusias untuk bertanding di tingkat nasional harus menelan kenyataan pahit karena gagal berangkat tanpa adanya kepastian.

Konfirmasi telah dilakukan melalui pesan WhatsApp pada Senin (27/7/2026). Namun hingga saat ini, pesan yang dikirim belum diterima karena nomor yang bersangkutan masih tidak aktif atau hanya menunjukkan tanda centang satu.

Tribun Medan akan terus mengupayakan konfirmasi dari pihak terkait untuk memperoleh penjelasan mengenai penyebab batalnya keberangkatan puluhan pesepak bola muda Sumatera Utara tersebut serta kejelasan terkait dana yang telah dibayarkan para peserta.

(Cr29/tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.