Pemandian Umum Pompeii Sebelum Romawi: Air Keruh, Ada Timbal-Limbah Manusia
GH News July 27, 2026 10:09 PM
Jakarta -

Bayangkan kamu hidup di era Pompeii dan mengunjungi pemandian umumnya. Airnya keruh, suhu terlalu panas hingga terkontaminasi logam berat dan limbah manusia.

Hal ini adalah temuan ilmuwan dari Universitas Johannes Gutenberg (JGU) Mainz, Jerman yang meneliti endapan kerak kapur di sumur, pipa, dan kolam di pemandian kuno Pompeii.

"Di apa yang disebut Pemandian Republik - fasilitas pemandian umum tertua di kota ini, yang berasal dari zaman pra-Romawi sekitar 130 SM - kami dapat membuktikan melalui analisis isotop bahwa air pemandian berasal dari sumur, dan tidak diganti secara teratur," kata penulis utama studi Dr Gul Surmelihindi dari Institut Ilmu Geologi JGU dilansir dari BBC Science Focus, dikutip Senin (27/7/2026).

Pompeii, kini di kawasan Italia selatan modern, menjadi koloni Romawi pada tahun 80 SM. Sebelum itu kota ini diduduki oleh suku Samnit. Pada tahun 79 M, gunung berapi Vesuvius di dekatnya meletus dan mengubur kota itu dalam abu dan bebatuan.

Para ahli geologi menemukan bahwa sistem pemandian Samnit kuno mengambil air dari sumur dalam menggunakan mesin yang digerakkan oleh budak, yang beroperasi seperti roda penggerak. Namun, air tanah ini telah terkontaminasi oleh endapan vulkanik.

Analisis mineral menunjukkan air dari sumur dalam tersebut terkontaminasi logam berat - termasuk timbal, seng, dan tembaga - serta limbah manusia seperti keringat dan urin, dan kemungkinan air tidak diganti setiap hari.

"Oleh karena itu, kondisi tersebut tidak memenuhi standar kebersihan tinggi yang biasanya dikaitkan dengan bangsa Romawi," imbuh Surmelihindi.

Setelah dijajah Romawi, barulah dibangun saluran air (akuaduk). Airnya dialirkan dari mata air alami dengan kadar logam berat yang lebih rendah, dan dapat diganti lebih sering.

Sebelum dijajah Romawi, mesin pengangkat air yang digerakkan para budak hanya bisa mengambil sedikit air, sekitar 3.200 liter per jam. Setelah dibangun saluran air oleh Romawi, air yang mengalir ke pemandian sekitar 50 kali lipat jumlah tersebut, meskipun akuaduk juga memasok air ke pemandian dan air mancur lain di Pompeii.

Hal ini seharusnya dapat membersihkan lebih banyak kotoran dan keringat dari pengunjung pemandian, tetapi rekan penulis studi, Profesor Cees Passchier - seorang ahli geologi JGU lainnya - mengatakan kepada BBC Science Focus bahwa pemandian tersebut tetap akan menjadi kotor jika airnya tidak diganti dalam waktu yang lama.

"Mengunjungi pemandian itu pasti merupakan pengalaman yang berisik, meriah, dan mungkin berbau - lebih merupakan acara sosial daripada yang lain," kata Passchier.

"Orang-orang tidak menggunakan sabun, tetapi minyak zaitun untuk menggosok dan mengikis kotoran, dan sebagian minyak itu akan masuk ke dalam air," imbuh Passchier dilansir dari Live Science.

Sejarawan Romawi Alexander Meddings, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan kepada BBC Science Focus bahwa pemandian kuno itu akan 'cukup suram menurut standar saat ini' bahkan dengan adanya saluran air.

"Para pengunjung kolam renang akan mencemari air dengan berbagai macam luka bernanah, buang air kecil di kolam, berkeringat setelah berolahraga, dan mengikis kulit mati mereka. Saya kira pemandangan yang cukup umum adalah lapisan buih yang keruh dan mengambang," tutur Meddings.

Para penulis studi saat ini sedang melakukan analisis DNA lebih lanjut terhadap endapan kerak kapur, yang mereka harapkan akan mengungkap lebih banyak informasi tentang kondisi pemandian tersebut.

Studi mereka diterbitkan pada 12 Januari 2026 lalu di jurnal PNAS dengan judul "Seeing Roman life through water: Exploring Pompeii's public baths via carbonate deposits".

Nograhany Widhi Koesumawardani
Jurnalis detikcom. Masuk dunia jurnalistik sejak SMA, bergabung dengan detikcom di 2006 usai lulus dari Universitas Brawijaya. Aktif meliput isu nasional, kini menangani topik seputar pendidikan, sains dan semacamnya.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.