Liputan6.com, Jakarta - Hasil rapat bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) akan menjadi perhatian pekan ini di pasar keuangan. Adapun pekan lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlawanan arah. Hal itu di tengah sejumlah sentimen global dan internal.
Mengutip riset Syailendra Capital, Senin (27/7/2026), dari sentimen global terbaru, Amerika Serikat (AS) menghentikan serangan udara ke Iran secara sementara demi memberi ruang pada negosiasi diplomatik. Serangan AS meski dihentikan sementara, konflik justru meluas ke wilayah Laut Merah dan Laut Kaspia akibat serangan kelompok Houthi ke fasilitas minyak Arab Saudi.
Selain itu, Amerika Serikat mengenakan tarif impor tambahan sebesar 10% terhadap Indonesia berdasarkan Pasal 301 Trade ACT 1974.
Dari sentimen internal, Bank Indonesia (BI) menahan BI Rate atau suku bunga di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 22 Juli 2026. Selain itu, BI juga memberikan insentif berupa penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) 2% jika kepemilikan SRBI dan Surat Utang Negara (SUN) di bawah 19% dari total funding yang mengindikasikan arah BI cenderung dovish.
“DPR menyetujui Rancangan Undang-Undang/RUU tentang Pusat Finansial International Indonesia pada 21 Juli 2026, dan bertujuan memperkuat transformasi ekonomi nasional melalui pusat keuangan internasional modern,” demikian seperti dikutip dari riset Syailendra.
Tak hanya itu, Pemerintah Indonesia juga menghimpun dana sebesar Rp 18,5 triliun melalui penerbitan Panda Bonds yang terbagi menjadi dua tenor antara lain tiga tahun (kupon 1,9%) dan 5 tahun (kupon 2,19%). Panda Bond ini mendapatkan peringkat AAA dan outlook stable oleh China.

Seiring hal itu, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS. Rupiah turun 0,27% ke level 17.982 per dolar AS. Selain itu, indeks dolar AS naik 0,62% ke level 101,46.
Di pasar obligasi, obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun tercatat naik ke level 7.37%, yang diikuti dengan aliran dana investor asing yang masuk esbesar Rp 412 miliar pada pekan lalu. Di sisi lain, obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun bergerka naik dari 4,54% ke 4,68% pada pekan lalu.
Di pasar saham, IHSG naik 0,34% ke level 6.196 pekan lalu dengan aliran dana investor asing yang keluar mencapai Rp 2 triliun. Sementara itu, indeks saham AS kompak melemah pada pekan lalu. Indeks Nasdaq turun 2,9%, indeks S&P 500 melemah 1,7% dan Dow Jones terpangkas 1,6%.
Lalu apa saja yang perlu dicermati pekan ini?
29 Juli 2026: persediaan uang di Amerika Serikat
30 Juli 2026: suku bunga di Amerika Serikat