Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Popularitas pemandian dam rengas di Kampung Sumbermakmur, Kecamatan Tenggulun, Aceh Tamiang, kini terganjal masalah infrastruktur.
Di tengah lonjakan ribuan wisatawan yang datang tiap pekan, akses jembatan utama menuju lokasi tersebut justru dalam kondisi sekarat dan nyaris putus total.
Kondisi ini menjadi tantangan berat bagi pengelola dan warga setempat.
Pascabanjir besar yang melanda Aceh Tamiang beberapa waktu lalu, konstruksi jembatan yang melintasi permukiman warga itu mengalami kerusakan parah hingga tak sanggup lagi menahan beban berat.
Datok Penghulu Kampung Sumbermakmur, Salihin, membenarkan bahwa jembatan tersebut merupakan kendala utama bagi kemajuan wisata di desanya.
Karena kondisinya yang sudah sangat memprihatinkan, warga terpaksa melakukan langkah darurat.
Baca juga: Pemandian Dam Rengas Jadi Primadona Baru di Aceh Tamiang, Aman dari Terjangan Banjir Bandang
"Jembatan ini nyaris putus kemarin itu. Akhirnya kami coba perbaiki pakai las listrik seadanya.
Biayanya murni swadaya dari masyarakat, ditambah sedikit-sedikit dari hasil duit tiket masuk pengunjung yang kami sisihkan buat benahi jembatan ini," kata Salihin, Senin (27/7/2026).
Imbas kerusakan ini, jembatan hanya bisa dilintasi kendaraan roda dua. Sedangkan untuk kendaraan roda empat, akses tersebut tertutup rapat.
Salihin menyebut kondisi jembatan kian hari kian "keriting" seiring meningkatnya volume pengunjung pascabencana.
Agar wisatawan yang membawa mobil tetap bisa sampai ke lokasi, pihak desa terpaksa mengalihkan arus ke jalur alternatif.
Jalur kedua ini tidak melewati perkampungan, melainkan harus membelah area perbukitan dan perkebunan.
Baca juga: Pengunjung Membludak, Jembatan Sungai Dam Rengas Rusak, Warga Gotong Royong Perbaiki
"Waktu tempuhnya sebenarnya hampir sama, tapi medannya lebih berat karena lewat bukit dan kebun. Kami juga sempat meminjam alat berat jenis beko untuk membuka akses jalan baru ini.
Ini upaya kami supaya pengunjung yang pakai mobil bisa langsung sampai ke titik wisata tanpa perlu jalan kaki jauh," jelasnya lagi.
Meskipun fasilitas utama masih berupa pemandian alam dan wahana river tubing, antusiasme warga luar daerah tetap tinggi.
Saat ini, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat memberlakukan tarif masuk yang terukur: Rp10 ribu untuk sepeda motor (sudah termasuk parkir dan penumpang), Rp20 ribu untuk mobil pribadi, dan Rp25 ribu bagi kendaraan roda enam seperti truk atau mobil bak terbuka.
Hasil dari retribusi inilah yang digunakan kembali untuk biaya perawatan jalan yang masih berbatu dan berlubang.
Tak jarang pihak desa meminta bantuan perusahaan sekitar untuk mengerahkan alat berat seperti grader dan beko guna meratakan lubang jalan secara mandiri.
Salihin berharap ada perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang untuk membantu perbaikan jembatan dan akses jalan yang kini dikeluhkan wisatawan.
"Wisatawan sering mengeluh jalan kita masih berbatu dan banyak lubang. Harapan kami tentu ada dukungan penuh dari pemerintah kabupaten.
Di sisi lain, saya juga berpesan kepada masyarakat untuk selalu ramah tamah dan menjaga tempat wisata ini agar pengunjung merasa nyaman saat berkunjung ke desa kita," pungkas Salihin. (mad)