Jakarta (ANTARA) - Anggota DPR RI Azis Subekti mengatakan Gubernur Bank Indonesia definitif pengganti Perry Warjiyo harus bisa menjaga independensi dan kredibilitas bank sentral serta menciptakan kondisi yang mendukung peningkatan produktivitas nasional.

“Prioritas dalam transisi kepemimpinan Bank Indonesia adalah menjaga kepercayaan publik dan pasar bahwa independensi serta kesinambungan kebijakan moneter tetap terpelihara,” kata Azis dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Pemerintah telah menerima surat pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI karena alasan pribadi. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti ditetapkan sebagai pejabat Gubernur sementara hingga gubernur definitif diangkat.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan Presiden Prabowo Subianto belum menetapkan calon pengganti Perry karena surat pengunduran diri tersebut baru diterima pemerintah pada Minggu (26/7).

Nilai penentuan Gubernur BI berikutnya memiliki arti strategis karena berlangsung di tengah ketidakpastian ekonomi global, tekanan terhadap nilai tukar, perubahan rantai pasok, perkembangan teknologi, dan meningkatnya persaingan investasi.

Menurut Azis, gubernur definitif harus tetap menempatkan stabilitas nilai rupiah, pengendalian inflasi, stabilitas sistem pembayaran, dan stabilitas sistem keuangan sebagai prioritas.

Namun, stabilitas tersebut juga perlu menjadi fondasi bagi pertumbuhan investasi produktif, industri bernilai tambah, daya saing nasional, dan penciptaan lapangan kerja.

“Stabilitas bukan tujuan yang selesai pada dirinya sendiri. Bagi negara yang sedang melakukan transformasi ekonomi, stabilitas merupakan titik berangkat untuk meningkatkan produktivitas,” ujarnya.

Azis menegaskan bahwa orientasi produktivitas bukan merupakan usulan untuk menambah mandat Bank Indonesia atau menjadikan bank sentral sebagai pelaksana pembangunan.

Bank Indonesia, lanjutnya, harus tetap menjalankan kewenangannya secara profesional, berdasarkan data, serta terbebas dari kepentingan politik jangka pendek.

Ia mengatakan Indonesia membutuhkan orkestrasi antara kebijakan moneter, fiskal, industri, sektor riil, pengembangan teknologi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Orkestrasi kebijakan tidak sama dengan subordinasi. Setiap lembaga tetap menjalankan mandat dan mempertahankan independensinya, tetapi seluruhnya bergerak menuju peningkatan kapasitas produktif bangsa,” katanya.

Menurut Azis, bauran kebijakan BI di bidang moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, dan pendalaman pasar keuangan dapat menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi pembiayaan produktif.

Bank Indonesia sebelumnya menyatakan kebijakan dan ketersediaan dana dalam sistem keuangan harus memberikan manfaat nyata kepada pelaku usaha, petani, pedagang, perajin, wirausaha muda, dan UMKM. harap calon Gubernur BI definitif memiliki integritas, kompetensi teknokratis, pengalaman menghadapi gejolak ekonomi, dan komitmen menjaga independensi bank sentral.

“Figur yang dipilih harus mampu menjaga kepercayaan sekaligus memastikan stabilitas ekonomi menjadi fondasi peningkatan produktivitas nasional,” tuturnya.