Opini: Menyukseskan Program OSOP 
Dion DB Putra July 28, 2026 07:42 AM

Oleh: Tans Feliks
Dosen Undana Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Tahun ini, Program OSOP (One School  One Product) berusia setahun.   Gubernur Melki Lena meluncurkan program itu 24 Juli, 2025, di Dinas P dan K, NTT.   

Ketika itu, kepada kepala sekolah yang hadir, gubernur berkata, “Ke depan, setiap sekolah harus punya produk unggulan.  Yang jago tata boga, produksi makanan; yang jago pertanian, hasilkan produk pertanian; yang jago digital, hasilkan aplikasi dan media. Semua harus berdampak langsung ke masyarakat.” 

Produk unggulan itu minimal satu.  Misalnya, produk makanan atau pertanian yang dipasarkan di NTT Mart.  Harapannya, sekolah menjadi “pusat produksi dan tempat praktik wirausaha” bagi murid.  

Karenanya, Kepala Dinas P dan K, NTT, Ambrosius Kodo, menegaskan bahwa Program OSOP bagian dari upaya membangun keterampilan kewirausahaan murid melalui pemanfaatan potensi lokal (Senin (22/6/2026;  victorynews.id). 

Selain karya murid, karya pengusaha lokal juga dipasarkan di situ.  Dengan itu,  NTT juga dikenal sebagai produsen.  Bukan sekadar konsumen.  

Baca juga: Opini: Kupas Tuntas Bibir Sumbing- Menepis Mitos, Merajut Harapan Baru Generasi NTT

Sebagai pusat produksi, sekolah, via NTT Mart, menjadi tempat murid belajar manajemen, pemasaran, literasi, numerasi, character building, dan berbagai mata pelajaran, secara langsung maupun tidak, secara sendiri maupun kolektif.  

Filosofinya learning by doing seperti kata orang bijak:  "Aku mendengar, aku lupa; aku melihat, aku ingat; aku melakukan, aku mengerti".

Fokusnya siswa, sesuai teori pendidikan humanisme Abraham Maslow dan Carl Rogers, serta Nikolaus Driyarkara. 

Belajar membuat manusia beradab, tahu diri, dan mampu aktualisasikan diri secara maksimal; ilmunya bertumbuh secara total dan karakternya mulia.

Implementasinya?  Banyak SLTA menerapkannya. SMAN 5 Kupang, misalnya, punya kripik pisang; SMAN 1 Amarasi tomat.  Keduanya berhasil.  Namun, ada narasi lain.  Selama ini, program itu, kata media, gagal.  NTT Mart juga. Gagal.  

Sepi pembeli.  Produk carian sering tidak tersedia.  Itu, kata media, karena pengusaha lokal tidak selalu mau memasarkan produknya di situ.  

Masalah lain, terkait guru dan murid.  Murid bingung karena tujuannya ke sekolah mengabur: “bekerja“ atau belajar.   

Jika total di NTT Mart, banyak mata pelajaran tidak bisa diikuti.  Guru sama: mengajar atau ikut “bekerja“ di NTT Mart sambil mengajar.  

Jika total dalam “bekerja“ di NTT Mart, jam mengajarnya berkurang dan, karenanya, dia tidak berhak mendapat tunjangan sertifikasi guru (Sergu).

Maaf, saya tak berdata sahih tentang keduanya.  Namun, keduanya bisa dilihat secara filosofis, dari sudut pandang filsafat pendidikan, untuk menjawab pertanyaan  mengapa orang berhasil atau gagal.

Ketika dikaitkan dengan rezim sentralisasi pendidikan Indonesia kini, kritik terhadap Program OSOP beralasan.  Misalnya, sasarannya salah.  

Tujuannya tidak relevan dengan fungsi sekolah sebagai tempat belajar dan pembelajaran Ipteks, termasuk literasi, numerasi, dan berpikir.  

Ukuran keberhasilan atau kegagalan murid, menurut rezim tersebut, nilai rapor sebagai bukti prestasi akademik melalui ujian sekolah. NTT Mart tidak menyiapkan itu (Bdk. Dr. Marselus Robot, 22/6/2026/victorynews.id).  

Secara nasional, kritik itu bak gayung bersambut.  Tahun ini, hasil tes potensi akademik (TKA), yang sepenuhnya berdasarkan teori belajar kognitivisme, anak NTT suram (Yahya Aldo, Pos Kupang, 7 Juli, 2026, hlm. 2, “Redefinis Pendidikan Bermutu").  Itu bukti, Program OSOP gagal?

Apapun argumennya, kegagalan tersebut, tentu, perlu diatasi. Caranya?  Pertama, dengan mengubah sistem pendidikan.  Klasifikasi SLTA menjadi SMK dan SMA sudah usang.  Karena itu, SMK dan SMA dilebur saja menjadi SLTA (Bdk.  Tans Feliks, 2014.  “Menggagas Pendidikan Khas Indonesia”.  Kompas, 18 November, 2014, hlm. 7). 

Perubahan tersebut, sejatinya, sudah dimulai ketika di SMAN 5, Kupang, Gubernur Melki berkata, “Pendidikan berkualitas harus dibangun secara seimbang melalui tiga pilar utama, yakni prestasi akademik, pembentukan karakter, dan penguatan kewirausahaan” (Pos Kupang, “SMAN 5 Kupang Jadi Model Pendidikan Berkualitas: OSOP Kripik Pisang Resmi Diluncurkan,“ 17 Juni, 2026, hlm. 8).  

Dengan mengatakan itu, gubernur menegaskan, secara tidak langsung, bahwa klasifikasi SLTA menjadi SMK dan SMA tidak lagi pas.  Sebab keduanya berfokus  yang sama.  Jika sama, mengapa dipisahkan?

Termasuk dalam mengubah sistem itu adalah memberikan keleluasaan kepada guru untuk mengajar secara total.  Namun, totalitas itu tidak boleh diukur dari jumlah jam mengajar, seperti saat ini, untuk mendapat tunjangan Sergu, minimal 24 jam per minggu.  

Dia harus ditentukan oleh kemampuan guru untuk membuat muridnya berubah.  Misalnya, dari keyakinan bahwa kemiskinan itu nasib menjadi kepercayaan penuh bahwa dengan bekerja keras, disiplin tinggi dan tekad kuat untuk maju, seseorang yang miskin bisa menjadi kaya.  

Atau ketika mampu mengubah murid yang nakal menjadi santun, yang malas rajin, itu harus dihargai dengan, misalnya, melayakkannya menerima tunjangan Sergu (Bdk. Petrus R.P. Jaya.  “Mengapa Pendidikan Kita Sulit Bertransformasi?“ Pos Kupang, 18 Juni, 2026, hlm. 2).

Kedua,  kurikulum, apa yang diajarkan dan dipelajari di sekolah, perlu juga diubah. Selama ini, kebijakan kementerian pendidikan sentralistis.  Jadinya, kurikulum kita sama, dari Sabang sampai Merauke.  

Seolah-olah semua murid punya bakat, minat dan kebutuhan belajar (BMKB) yang sama (Tans Feliks. 2016.  “News Analysis: Benahi Sistemnya,” Pos Kupang, 3 Februari, hlm. 1 dan 7).   

Penyeragaman ini merusak mutu sekolah.  Karena itu, harus diubah menjadi desentralistis: sekolah berhak menyusun sendiri kurikulumnya sesuai BMKB muridnya (Tans Feliks, 2011. “Desentralisasi Pendidikan.“   Kompas, 28 Desember, hlm. 7).

Ketiga, fokus sekolah pada semua murid.  Ini esensi Program OSOP.  Namun, kebijakan pendidikan selama ini antifilosofi itu.  Yang dianggap sebagai “murid cerdas,“ kelas satu, adalah yang kognisinya bagus; di luar itu kelas dua.  Jika kebijakan ini berlanjut, Program OSOP akan gagal. 

Karena itu, supaya sukses, Program OSOP harus taat azas.  Prinsip student-centered learning diterapkan tanpa tedang aling-aling. Yang top secara kognitif, tentu, harus disyukuri, tetapi yang mantap “hanya” secara psikomotorik atau afektif pun harus pula dibanggakan.  

Artinya, dalam konteks Program OSOP, idealnya, guru harus terus berusaha untuk menumbuhkembangkan potensi setiap murid.  Misalnya, melalui dialog dan pemahaman pasti tentang BMKB murid, termasuk mimpi masa depannya, siapa melakukan apa di sekolah dan/atau di NTT Mart, dapat terus terjadi secara total.  

Secara all out.  Secara mandiri atau kolektif.  Apapun ranah atau gabungan ranah yang ingin ditumbuhkembangkan, termasuk, misalnya, untuk studi lanjut atau langsung bekerja setelah SLTA.

Dengan demikian, yang memilih untuk 100 persen “mengabdi” di NTT Mart, misalnya, tetap akan dinyatakan lulus SLTA, jika berhasil dalam bertugas di NTT Mart.  

Sebab di sekolah kehidupan itu, semua diberi ruang penuh untuk belajar dan bertumbuh secara utuh: kognisi, keterampilan, dan karakter sekaligus.  

Bagian dari totalitas itu adalah peningkatan empat kemampuan abad ini, yaitu berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif (Yuval Noah Harari, 2018, 21 Lessons for 21st Century.  New York: Random House, hlm. 268).

Artinya,  di Program OSOP semua anak diperhatikan secara total; apapun keadaannya (Bdk. Maria Montesorri.  1967.  The Absorbent Mind.  New York:  Dell Publishing).  

Apalagi saat kita yakin bahwa selalu ada perubahan, ketika semua dijalankan dengan tulus.  Dengan sungguh-sungguh.  Yang tampak tidak bisa apa-apa pada awalnya, misalnya, ternyata, kemudian, bisa menjadi penemu dan pengusaha besar, seperti Thomas Alva Edison.  Jika itu terjadi, fokus Program OSOP benar dan relevan.

Keempat, perlu penegasan bahwa fokus Program OSOP bukan pada satu produk saja, tetapi banyak, akademik dan nonakademik.  

Jumlahnya, idealnya, seberagam BMKB murid sebuah sekolah.  Dengan fokus yang beragam itu, anak-anak, sejatinya, mampu studi lanjut atau langsung bekerja sesuai pilihannya.  

Sebab di NTT Mart, mereka belajar, dengan bimbingan gurunya, untuk selalu total dalam membuat yang terbaik dalam hidupnya.  Apapun keadaannya.  

Jika dilaksanakan seperti itu, Program OSOP pasti mampu menjawab persoalan pendidikan NTT, langsung atau tidak, ke depan.  

Hasil TKA NTT, mungkin, tetap jelek, tetapi kita akan melihatnya secara lebih positif:TKA itu soal kognitif saja.  Masih ada hal lain yang bisa diandalkan untuk sukses dalam hidup ini.    

Demikianpun persoalan stunting dan kemiskinan yang masih masif.  Juga persoalan pekerja migran.  Hingga Juli 2026, 87 orang meninggal; 85 di antaranya ilegal.  

Dengan Program OSOP, sesuai filosofinya, itu semua teratasi karena, antara lain, prinsip mulianya: learning by doing.

Pada saat yang sama, tugas pemerintah tetap: penyiapan sumber daya manusia, sarana, dan prasarana yang memadai, tetapi tetap perlu diingat bahwa itu tidak esensial.  

Sebab, guru boleh sehebat Albert Einstein dan fasilitas pendidikan sekelas hotel berbintang, murid kita tetap tidak bisa belajar dengan total, jika yang dipelajarinya berlawanan dengan BMKB-nya.

Sebaliknya, walaupun gurunya kurang profesional dan fasilitas belajar jelek, muridnya bisa tetap belajar secara total bila yang dipelajarinya 100 % sesuai BMKB-nya (Bdk.  Carl R. Rogers. 1983.  Freedom to Learn for the 80’s.  Melbourne: Merrill).  

Jadi, kita perlu langkah terobosan  tersebut untuk suksesnya Program OSOP dan NTT keluar dari masalahnya yang disinggung di atas.  Jika tidak, gagal kita. (*)


 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.