Gianni Infantino Ngamuk, Kritik FIFA Disebut Tebar Kebencian dan Rumor Palsu
Arif Tio Buqi Abdulah July 28, 2026 07:57 AM

TRIBUNNEWS.COM – Presiden FIFA, Gianni Infantino, akhirnya angkat bicara menanggapi gelombang kritik yang mengiringi penyelenggaraan Piala Dunia 2026.

Melalui unggahan panjang di Instagram, Infantino justru menuding para pengkritik FIFA telah "menyebarkan kebencian" dan "rumor palsu" alih-alih menikmati turnamen.

Pernyataan tersebut berisi 15 slide yang menjadi salah satu respons paling keras Infantino sejak Piala Dunia 2026 berakhir.

Dalam pesannya, Infantino menegaskan FIFA telah bekerja tanpa henti untuk menghadirkan turnamen terbaik di dunia, sembari menyindir pihak-pihak yang menurutnya hanya fokus mencari kesalahan.

"Kepada mereka yang berada di balik pena dan kertas, di balik layar yang menyebarkan kebencian dan rumor palsu, saya ingin mengatakan bahwa sementara Anda duduk di belakang, kami di FIFA berada di garis depan, mengatur, bekerja keras, dan menghadirkan pertunjukan terbaik di dunia," tulis Infantino.

Ia juga meminta maaf kepada para pecinta sepak bola karena turnamen telah usai, namun menyindir mereka yang menurutnya terlalu sibuk mengkritik sehingga melewatkan momen kebersamaan selama Piala Dunia.

"Kepada semua yang merindukan permainan indah kita, saya minta maaf karena pertandingan telah berakhir. Saya juga minta maaf kepada mereka yang begitu larut dalam kebencian dan kritik sehingga melewatkan semua kegembiraan dan kebersamaan itu."

Ketum PSSI, Erick Thohir (kiri) bersama Presiden FIFA, Gianni Infantino melambaikan tangan saat final Piala Dunia U-17 2023 antara Jerman vs Prancis di Stadion Manahan, Sabtu (2/12/2023) malam.
MELAMBAIKAN TANGAN - Ketum PSSI, Erick Thohir (kiri) bersama Presiden FIFA, Gianni Infantino melambaikan tangan saat final Piala Dunia U-17 2023 antara Jerman vs Prancis di Stadion Manahan, Sabtu (2/12/2023) malam. (Tribunnews/Muhammad Nursina)

Klaim Piala Dunia Berjalan Aman

Dalam unggahan tersebut, Infantino mengklaim Piala Dunia 2026 berlangsung dengan sangat aman meski sebelumnya menuai berbagai kontroversi.

Ia menyebut lebih dari tujuh juta penonton dari lebih 200 negara hadir langsung di 16 kota tuan rumah tanpa insiden berarti.

"Kami tidak mengalami kekerasan, tidak ada insiden, 100 persen aman dan terlindungi, hanya kegembiraan dan kebahagiaan."

Infantino juga memuji pemerintah Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebagai tiga negara tuan rumah yang dinilainya sukses mendukung kelancaran penyelenggaraan turnamen.

Menurutnya, kerja sama aparat keamanan, sukarelawan, dan masyarakat di ketiga negara menjadi faktor utama keberhasilan Piala Dunia.

Baca juga: Soal Keributan di Piala Dunia 2026, Dani Olmo Tolak Permintaan Maaf Tim Pelatih Argentina

Singgung Visa dan Tim Iran

Salah satu bagian yang paling banyak disorot adalah pembelaan Infantino terhadap kebijakan visa selama turnamen.

Ia menepis anggapan bahwa banyak pendukung maupun peserta mengalami kendala masuk ke negara tuan rumah.

Menurutnya, hanya segelintir orang yang ditolak visanya, sedangkan jutaan lainnya berhasil memperoleh izin masuk.

"Anda menyebut beberapa orang yang ditolak visanya dan mengabaikan jutaan orang yang disetujui dari seluruh dunia."

Infantino juga mencontohkan keberhasilan tim nasional Iran memasuki Amerika Serikat tanpa konflik meski hubungan politik kedua negara tengah memanas.

"Tim Iran menerima visa karena sepak bola adalah tentang perdamaian, bukan politik. Sepak bola adalah tentang persatuan, bukan perpecahan."

Sebelum Piala Dunia 2026 dimulai, pengamat sepak bola dari Spieltag Indonesia, Adrian pernah menyoroti tentang hal di atas, harga tiket, biaya perjalanan, dan masalah visa yang cukup krusial.

Bagi Adrian, Amerika Serikat terlalu banyak aturan tentang pembatasan visa, dan ditambah dengan masalah FIFA yang mengukuhkan biaya tiket mahal bagi para penggemar.

"Itu sudah menjadi drama, baik di luar maupun di dalam lapangan," buka Adrian dalam podcast Tribunnews yang berjudul 'Super Taktik: Peta Kekuatan Piala Dunia 2025 hingga Mimpi Timnas Indonesia' di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.

"Amerika Serikat memiliki banyak aturan, terutama terkait visa. Ditambah lagi harga tiket Piala Dunia 2026 lebih mahal dibandingkan edisi sebelumnya. Situasi ini cukup kontroversial bahkan sebelum turnamen dimulai," lanjut Adrian.

Bela Keputusan Wasit

Infantino turut menanggapi kritik terhadap sejumlah keputusan kontroversial wasit dan komite disiplin FIFA selama Piala Dunia.

Tanpa menyebut kasus tertentu secara langsung, ia menegaskan keputusan kontroversial merupakan hal yang lazim terjadi di berbagai liga top dunia.

"Ketidakpuasan Anda terhadap beberapa keputusan dapat dimengerti, tetapi keputusan wasit yang diperdebatkan atau keputusan disiplin yang dianggap aneh merupakan hal yang rutin dan diterima di beberapa liga terbesar di dunia."

Ia bahkan menyebut ironis karena negara-negara yang terbiasa dengan situasi tersebut justru menjadi pihak paling vokal mengkritik FIFA.

Minta Kritikus Berhenti Menebar Kebencian

Pada bagian penutup, Infantino kembali mengajak para pengkritik FIFA untuk menghentikan serangan terhadap organisasinya.

Ia menyarankan mereka menggunakan waktu untuk merenung, berdoa, atau menikmati pertandingan sepak bola daripada terus menyebarkan kebencian.

"Dunia membutuhkan cinta, bukan kebencian; toleransi, bukan perpecahan; perayaan, bukan ratapan."

"Kepada mereka yang menghabiskan waktu untuk membenci kami, luangkan waktu sejenak untuk merenung, bermeditasi, berdoa, atau menonton pertandingan sepak bola dan benar-benar melihat wajah, mata, dan emosi para pemain serta para penggemar."

Infantino menutup pesannya dengan menyatakan dirinya bangga telah menjadi bagian dari penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang menurutnya merupakan edisi terbaik sepanjang sejarah.

Kritik terhadap FIFA Belum Mereda

Pernyataan tersebut muncul di tengah derasnya kritik terhadap FIFA sepanjang Piala Dunia 2026.

Beberapa isu yang menjadi sorotan antara lain keputusan disiplin terhadap Folarin Balogun, kontroversi hubungan FIFA dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, kebijakan visa, penambahan jumlah peserta menjadi 48 tim, hingga investigasi terhadap insiden pascalaga final yang melibatkan para pemain Argentina.

Situasi semakin memanas setelah surat Gianni Infantino kepada Federasi Sepak Bola Argentina yang memuji profesionalisme skuad Albiceleste bocor ke publik, padahal FIFA masih menyelidiki tindakan para pemain Argentina seusai final Piala Dunia 2026.

Tak hanya itu, Federasi Sepak Bola Norwegia juga dikabarkan akan mengajukan pengaduan resmi kepada Komite Etik FIFA, sementara UEFA sebelumnya turut melontarkan kritik keras terhadap sejumlah keputusan FIFA yang dinilai melampaui kewenangannya.

(Tribunnews.com/Ali)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.