SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Tren penurunan angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) di Indonesia tidak lagi sekadar angka statistik di atas kertas.
Di Pulau Sumatera, kombinasi tingginya biaya hidup, mahalnya estimasi biaya pendidikan anak, serta pergeseran gaya hidup pasangan muda menciptakan fenomena baru, menunda atau membatasi jumlah anak secara signifikan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru yang dirilis pada Selasa (28/7/2026), terdapat 10 kabupaten dan kota di Sumatera dengan populasi bayi usia 0–4 tahun terendah.
Kota Sabang berada di posisi puncak sebagai wilayah dengan jumlah balita paling sedikit di Pulau Andalas.
Deretan 10 Daerah dengan Populasi Balita (0–4 Tahun) Terendah di Sumatera
Kota Sabang (Aceh) — 1.920 jiwa
Kabupaten Kepulauan Anambas (Kep. Riau) — 2.312 jiwa
Kota Padang Panjang (Sumatera Barat) — 2.910 jiwa
Kabupaten Pakpak Bharat (Sumatera Utara) — 3.331 jiwa
Kota Sungai Penuh (Jambi) — 4.076 jiwa
Kabupaten Lebong (Bengkulu) — 5.131 jiwa
Kabupaten Belitung Timur (Bangka Belitung) — 5.321 jiwa
Kota Pagar Alam (Sumatera Selatan) — 5.914 jiwa
Kota Metro (Lampung) — 6.998 jiwa
Kabupaten Kepulauan Meranti (Riau) — 8.885 jiwa
Rendahnya populasi anak usia dini di sepuluh wilayah ini dipengaruhi oleh kombinasi kondisi geografis (wilayah kepulauan dan kota otonom kecil dengan jumlah penduduk dasar yang memang terbatas) serta perubahan tren demografi nasional.
Daerah dengan pertumbuhan generasi muda yang lambat berisiko kekurangan tenaga kerja lokal produktif dalam kurun 15–20 tahun ke depan.
Fasilitas kesehatan ibu-anak serta sekolah tingkat dasar di daerah-daerah ini berpotensi membutuhkan efisiensi karena penurunan jumlah calon peserta didik.
Rotasi roda ekonomi lokal lambat laun akan bergeser dari industri kebutuhan anak-anak menuju penyediaan fasilitas untuk populasi usia matang dan lansia.