TRIBUN-BALI.COM, JEMBRANA - Distribusi air bersih terus dilakukan ke wilayah yang mengalami kekeringan terdampak musim kemarau, Selasa 28 Juli 2026.
Hingga saat ini, BPBD Jembrana sudah melakukan distribusi sebanyak tujuh kali atau tujuh tangki air.
Wilayah yang paling terdampak saat ini adalah Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana. Total ada puluhan KK yang terdampak atau kesulitan mengakses air bersih sejak pekan lalu.
Baca juga: Antrean Kendaraan di Gilimanuk Capai Beberapa Kilometer, Cuaca Buruk hingga Penumpukan Kendaraan
Menurut data yang berhasil diperoleh, hingga saat ini sudah mengirim tujuh tangki air ke sejumlah titik wilayah kekeringan terdampak kemarau.
Per satu tangki, petugas membawa sekitar 5.000 liter air bersih disalurkan ke warga untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat setempat.
"Mulai pekan lalu kita sudah menerima laporan kekeringan (dampak kemarau)," jelas Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra saat dikonfirmasi, Selasa 28 Juli 2026.
Dia menyebutkan, penyebab kekeringan tersebut lantaran debit air dari sumber mata air di wilayah terdampak sudah sangat kecil.
Mengingat, musim kemarau di Jembrana sudah terjadi cukup panjang.
Baca juga: Nekat Melaut Saat Cuaca Buruk, Pemancing Panik Diombang-ambing Gelombang
Dengan kondisi tersebut, kata dia, pihaknya bersama juga dengan PMI mulai menyalurkan air bersih ke sejumlah titik.
Terutama, di dua titik yakni Lingkungan Pancardawa dan Dewasana di Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana.
Selain distribusi ke tandon milik pemerintah, pihaknya juga bakal mengisi tandon milik warga secara pribadi.
Mengingat, jumlah tandon yang disediakan pemerintah cukup terbatas.
Sehingga nantinya bakal langsung disalurkan ke rumah warga yang memang memiliki penampungan air cukup besar.
"Kita distribusikan air ke sejumlah titik. Termasuk juga ada pemasangan tandon baru dan memang ada wilayah yang tandonnya sudah dipasang. Per tangki kita distribusikan 5.000 liter. Itu biasanya hanya digunakan sehari oleh warga terdampak," ungkapnya.
Di sisi lain, kata dia, pihaknya juga telah memetakan daerah rawan terdampak kemarau sesuai hasil asesmen tahun sebelumnya.
Yang mana, lokasinya tersebar di sejumlah kecamatan seperti Kecamatan Melaya, Jembrana dan Mendoyo. Namun sejauh ini baru dua kecamatan yang melapor.
"Yang paling parah saat ini memang di wilayah Kelurahan Pendem. Terutama di wilayah atas," sebutnya. (*)