Angin Kencang dan Gelombang Tinggi, Penyeberangan Ketapang–Gilimanuk Sempat Ditutup 2,5 Jam
Ndaru Wijayanto July 28, 2026 07:36 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Aflahul Abidin

TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Penyeberangan Selat Bali melalui Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk berpotensi ditutup sewaktu-waktu apabila cuaca buruk membahayakan keselamatan pelayaran.

Ancaman cuaca ekstrem diperkirakan meningkat selama Juli hingga Agustus.

Kebijakan tersebut telah diterapkan saat angin kencang dan gelombang tinggi melanda lintasan penyeberangan Jawa–Bali pada Selasa (28/7/2026).

Operasional penyeberangan dihentikan sementara selama sekitar 2,5 jam, mulai pukul 10.11 WIB hingga 12.45 WIB.

Penundaan operasional merupakan hasil koordinasi PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang bersama KSOP Kelas III Tanjung Wangi, Satuan Pelayanan Pelabuhan Penyeberangan BPTD Kelas II Jawa Timur, BMKG, dan kepolisian setempat.

General Manager ASDP Ketapang Arief Eko Kurniansjah menegaskan, setiap keputusan operasional didasarkan pada rekomendasi cuaca maritim dari BMKG dan hasil koordinasi dengan seluruh otoritas terkait.

"Keselamatan selalu menjadi prioritas utama dalam setiap layanan penyeberangan. Penundaan operasional dilakukan semata-mata sebagai langkah mitigasi risiko ketika kondisi cuaca belum memenuhi standar keselamatan pelayaran," ujarnya.

Baca juga: Pemkab Banyuwangi Siapkan Solusi Atasi Kemacetan Pelabuhan Ketapang, Ajukan Program ke Pusat

Ia menjelaskan, penyesuaian operasional bersifat dinamis mengikuti perkembangan kondisi cuaca di lapangan. Setelah penutupan, layanan penyeberangan akan kembali dibuka segera setelah kondisi cuaca aman.

Sebagai bentuk kesiapsiagaan, kata dia, ASDP terus memperkuat koordinasi lintas instansi melalui pemantauan cuaca maritim secara berkala.

Untuk mengurangi dampak terhadap distribusi logistik, ASDP juga mengaktifkan buffer zone di kawasan Bulusan sebagai lokasi penampungan sementara kendaraan yang belum dapat menyeberang. 

Saat cuaca membaik dan operasional kembali normal, ASDP akan mengoptimalkan penambahan armada guna mempercepat penguraian antrean kendaraan yang terbentuk selama masa penundaan.

Di sisi darat, koordinasi bersama Polresta Banyuwangi terus dilakukan untuk mengatur arus kendaraan menuju pelabuhan agar tetap tertib, aman, dan tidak menimbulkan kepadatan yang berlebihan.

Baca juga: Kapasitas Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk Akan Ditingkatkan, Gapasdap Optimistis Logistik Makin Lancar

"Kami menyiapkan berbagai langkah antisipatif secara terpadu, mulai dari pemantauan cuaca, penyediaan buffer zone, kesiapan armada, hingga pengaturan lalu lintas bersama kepolisian. Upaya ini kami lakukan agar dampak penyesuaian operasional dapat diminimalkan sekaligus menjaga kelancaran layanan," jelas Arief.

ASDP mengimbau seluruh pengguna jasa untuk memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG sebelum melakukan perjalanan menuju pelabuhan.

Pengguna jasa, khususnya kendaraan logistik maupun masyarakat yang memiliki agenda penting, diharapkan dapat menyesuaikan waktu keberangkatan serta mengikuti arahan petugas di lapangan demi kelancaran dan keselamatan bersama.

"ASDP juga memahami bahwa penundaan operasional dapat menimbulkan ketidaknyamanan, khususnya bagi pengguna jasa dan pelaku usaha logistik. Karena itu, dalam kondisi force majeure akibat cuaca ekstrem, tiket yang telah dibeli tetap berlaku dan dapat digunakan kembali setelah operasional penyeberangan dibuka," ujar dia

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.