Yangon (ANTARA) - Wazira Cinema yang telah berusia seabad lebih di Myanmar resmi dibuka kembali sebagai red-carpet theater, atau bioskop yang dirancang untuk pemutaran perdana film atau acara bergengsi, berstandar internasional di Yangon setelah menjalani renovasi besar-besaran untuk melestarikan warisan budaya dan arsitekturnya, demikian dilaporkan surat kabar milik negara, The Global New Light of Myanmar, pada Selasa (28/7).
Upacara pembukaan kembali bangunan bersejarah yang telah berusia 103 tahun tersebut di Kyauktada, Yangon, dihadiri oleh Presiden Myanmar U Min Aung Hlaing, para menteri kabinet, pejabat pemerintah, atase kebudayaan dari berbagai kedutaan besar asing, perwakilan organisasi lokal dan internasional, serta para seniman, menurut laporan tersebut.
Bangunan itu awalnya dibangun pada 1923 dengan nama Excelsior Theater oleh Madan Theater Company. Pada masa pendudukan Jepang, bangunan tersebut berganti nama menjadi Yangon Cinema. Setelah Perang Dunia II, bangunan itu menjadi A-1 Cinema sebelum secara resmi menggunakan nama Wazira Cinema pada 1969, menurut laporan tersebut.
Nama "Wazira" berasal dari kata dalam bahasa Pali "Vajira", yang berarti sesuatu yang berharga dan kuat seperti berlian. Menurut laporan tersebut, bioskop itu dikenal dengan arsitektur bergaya Beaux-Arts yang menampilkan pilar-pilar Ionik yang megah, ornamen yang detail, serta desain elegan yang terinspirasi dari arsitektur Eropa.
Dalam sambutannya pada acara tersebut, Presiden U Min Aung Hlaing mengatakan bahwa bioskop yang telah direnovasi itu akan berfungsi sebagai pusat kebudayaan nasional untuk menampilkan seni tradisional, film, teater, musik, dan berbagai pertunjukan lainnya dari Myanmar kepada masyarakat lokal maupun pengunjung mancanegara.
Bioskop yang telah diperbarui itu memadukan arsitektur bersejarahnya dengan fasilitas modern, termasuk kursi bioskop baru, layar LED, dan teknologi suara canggih. Bioskop tersebut siap menjadi tuan rumah festival film, pertunjukan seni tradisional, pameran warisan budaya, serta berbagai kegiatan budaya lainnya, menurut laporan itu.





