TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Di tengah tantangan dunia kerja yang terus berubah akibat disrupsi teknologi dan dinamika ekonomi global, Pemerintah Kota Magelang membuka peluang bagi masyarakat melalui Job Fair Kota Magelang 2026.
Selama dua hari, 28–29 Juli 2026, sebanyak 2.681 lowongan kerja dari 18 perusahaan lokal, regional, hingga nasional diperebutkan para pencari kerja di Gedung Wanita Kota Magelang.
Bursa kerja tersebut tidak hanya menyediakan kesempatan bagi lulusan SLTP, SMA/SMK, diploma, hingga sarjana, tetapi juga membuka formasi bagi penyandang disabilitas sebagai bagian dari upaya mewujudkan pasar kerja yang lebih inklusif.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono mengatakan, Job Fair bukan sekadar agenda tahunan, melainkan komitmen pemerintah daerah untuk memperluas akses masyarakat terhadap lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan.
"Pelaksanaan Job Fair ini adalah bukti Pemkot Magelang ingin membuka lebih banyak peluang bagi warganya. Di sini mempertemukan harapan dengan kesempatan, agar semakin banyak masyarakat bisa bekerja dan hidup lebih sejahtera," ujar Damar saat membuka kegiatan.
Ia menegaskan, penciptaan lapangan kerja tidak dapat dilakukan pemerintah sendirian. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan agar kebutuhan industri dapat dipenuhi oleh tenaga kerja yang kompeten.
Menurut Damar, selain keterampilan teknis, dunia kerja saat ini juga membutuhkan karakter yang kuat, seperti kejujuran, disiplin, kemampuan beradaptasi, kemauan belajar, dan kerja sama dalam tim.
Hadir dalam pembukaan Job Fair, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menilai bursa kerja menjadi salah satu solusi untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan pencari kerja di tengah perubahan struktur pasar tenaga kerja yang berlangsung sangat cepat.
Ia menyebut tantangan ketenagakerjaan saat ini tidak hanya dipengaruhi kondisi ekonomi global, tetapi juga perkembangan teknologi yang mengubah kebutuhan kompetensi di berbagai sektor industri.
Karena itu, Afriansyah mengajak generasi muda agar tidak terpaku pada pekerjaan formal semata. Menurutnya, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga memiliki prospek yang menjanjikan sebagai ruang untuk membangun karier maupun membuka usaha secara mandiri.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Magelang Susilowati menjelaskan, Job Fair diselenggarakan sebagai upaya mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan secara langsung sehingga proses rekrutmen menjadi lebih cepat, efektif, dan mudah diakses masyarakat.
Pemerintah Kota Magelang menargetkan sekitar 2.000 pencari kerja memanfaatkan layanan tersebut selama dua hari pelaksanaan. Selain bursa kerja, peserta juga memperoleh berbagai pembekalan melalui talkshow dan workshop mengenai peluang kerja di luar negeri, kesiapan mental memasuki dunia kerja, hingga bedah curriculum vitae (CV) agar lebih siap menghadapi proses rekrutmen.
Antusiasme pencari kerja terlihat sejak hari pertama pelaksanaan. Salah satunya Samsul, lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi dari salah satu perguruan tinggi negeri, yang datang untuk mencari pekerjaan sesuai kompetensinya sekaligus memperoleh pengalaman mengikuti proses seleksi.
"Saya baru lulus, jadi ingin mencari peluang kerja dan pengalaman. Senang karena di sini bisa bertemu langsung dengan perusahaan dan melamar di beberapa tempat," ujarnya.
Dengan ribuan lowongan yang tersedia dan beragam kegiatan pendukung peningkatan kompetensi, Job Fair Kota Magelang 2026 diharapkan menjadi jembatan yang mempertemukan kebutuhan dunia usaha dengan tenaga kerja yang siap bersaing, sekaligus berkontribusi dalam menekan angka pengangguran di Kota Magelang.