Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO – Musim kemarau di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah tidak membuat aktivitas pertanian berhenti.
Di tengah minimnya curah hujan dan berkurangnya pasokan air irigasi, petani di Kecamatan Bulu memilih beralih menanam kacang tanah sebagai strategi menjaga produktivitas lahan sekaligus mempertahankan pendapatan selama musim kemarau.
Komoditas tersebut dinilai lebih sesuai dengan kondisi cuaca saat ini karena memiliki masa tanam yang relatif singkat dan membutuhkan air jauh lebih sedikit dibandingkan tanaman padi.
Setelah panen padi selesai, petak-petak sawah tidak dibiarkan kosong.
Petani langsung mengolah lahan untuk ditanami kacang tanah agar tetap produktif hingga musim hujan tiba.
Salah seorang petani, Radit (60), mengatakan pergantian komoditas tersebut sudah menjadi kebiasaan masyarakat tani di wilayahnya setiap memasuki musim kemarau.
Menurutnya, langkah itu menjadi cara paling efektif untuk menjaga sawah tetap menghasilkan meski kondisi cuaca tidak mendukung penanaman padi.
"Kalau sudah masuk musim kemarau, setelah panen padi biasanya kami ganti tanam kacang tanah. Daripada sawah menganggur, lebih baik tetap ditanami supaya masih ada hasil," ujarnya, Selasa (28/7/2026).
Radit menjelaskan, kacang tanah hanya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan hingga siap dipanen.
Masa tanam yang singkat membuat petani masih memiliki kesempatan memperoleh hasil sebelum musim hujan datang dan kembali menanam padi.
Menurutnya, musim kemarau di Kecamatan Bulu mulai terasa sejak Mei.
Sejak saat itu hujan hampir tidak turun sehingga petani memilih menghindari risiko gagal panen dengan tidak memaksakan menanam padi yang membutuhkan pasokan air melimpah.
"Kemarau sudah terasa sejak bulan Mei. Perkiraan kami hujan baru turun sekitar Oktober. Jadi selama menunggu itu kami tanam kacang karena lebih cocok dengan kondisi sekarang," katanya.
Baca juga: Kemarau Belum Usai, Petani Sukoharjo Punya Cara Agar Sawah Tetap Menghasilkan
Selain masa panennya lebih cepat, biaya perawatan kacang tanah juga dinilai lebih ringan.
Tanaman ini tidak memerlukan penggenangan air seperti padi sehingga petani dapat menghemat penggunaan air sekaligus menekan biaya produksi.
Meski demikian, hasil panen tetap dipengaruhi oleh harga pasar.
Radit mengaku harga kacang tanah selalu berubah mengikuti permintaan.
Namun, kondisi tersebut tidak mengurangi semangat petani untuk tetap menanam karena masih mampu memberikan pemasukan bagi keluarga.
"Harganya mengikuti pasaran. Tetapi setiap tahun kami memang berganti tanam kacang, kadang juga jagung. Yang penting sawah tetap menghasilkan," ungkapnya.
Menurut Radit, membiarkan lahan kosong selama musim kemarau justru menjadi kerugian bagi petani.
Selain tidak menghasilkan pendapatan, lahan yang tidak diolah membutuhkan biaya lebih besar saat akan ditanami kembali pada musim berikutnya.
Baca juga: Air Makin Sulit, Petani Sukoharjo Pilih Tanam Kacang Tanah Demi Hindari Gagal Panen
Petani lainnya, Yuni, mengaku telah beberapa kali menanam kacang tanah setiap musim kemarau.
Pengalaman tersebut membuatnya semakin yakin bahwa tanaman ini menjadi pilihan yang tepat ketika curah hujan rendah.
"Sudah tiga sampai empat kali saya tanam kacang saat musim kemarau. Cocok karena tidak membutuhkan banyak air seperti padi," ujarnya.
Yuni mengatakan, meski kebutuhan airnya lebih sedikit, tanaman kacang tanah tetap memerlukan penyiraman pada waktu tertentu.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, petani memanfaatkan air sumur yang dipompa menggunakan mesin diesel.
Biaya tambahan untuk membeli bahan bakar memang tidak dapat dihindari.
Namun, menurut Yuni, pengeluaran tersebut masih lebih ringan dibandingkan jika memaksakan menanam padi yang membutuhkan pasokan air jauh lebih besar.
(*)