Hasto Ungkap MBG ala Bung Karno: Tak Alihkan Dana Pendidikan 
Malvyandie Haryadi July 29, 2026 12:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto menyebut buku resep kuliner legendaris Mustika Rasa merupakan konsep Makan Bergizi Gratis (MBG) ala Presiden pertama RI Soekarno atau Bung Karno yang berbasis pada pemberdayaan rakyat. 

Menurut Hasto, konsep tersebut berbeda dengan MBG yang mengalihkan anggaran pendidikan.

Hal itu disampaikan Hasto saat peluncuran gerakan intelektual muda Millennium Public Pulse 28 di Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Dalam kesempatan itu, Hasto menjelaskan bahwa Mustika Rasa disusun pada era pemerintahan Bung Karno melalui riset selama tujuh tahun. 

Ia menyebut, buku tersebut bukan sekadar kumpulan resep, melainkan memuat pengetahuan mengenai gizi berbasis pangan lokal.

"Mustika Rasa ini mengandung knowledge. Ini adalah MBG versi Soekarno. Tetapi bukan dengan proyek nasional dengan mengalihkan dana pendidikan, no! Tetapi dengan membangun kesadaran rakyat, menyajikan data informasi bahwa kalau kita makan daun kelor, daun pepaya, umbi-umbian, kita akan sehat. Di sini sudah dikaji dengan cara MBG yang memberdayakan rakyat Indonesia," kata Hasto. 

Ia mengatakan, kandungan gizi berbagai bahan pangan lokal, mulai dari pepaya hingga umbi-umbian, telah dikaji secara ilmiah oleh Badan Teknologi Makanan pada masa itu. 

Menurut Hasto, konsep tersebut dapat dikembangkan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat kedaulatan pangan nasional.

Selain menyinggung konsep MBG, Hasto juga mengusulkan agar gerakan intelektual muda yang baru diluncurkan ditingkatkan menjadi Millennium Public Pulse 28. 

Menurut dia, nama tersebut mencerminkan karakter generasi muda yang memiliki visi jauh ke depan, tetapi tetap berpijak pada penyelesaian persoalan masyarakat.

Hasto mengutip buku The Diary of a CEO karya Steven Bartlett yang menekankan pentingnya memahami identitas diri (The Self) dan membangun narasi strategis (The Story) dalam membangun sebuah gerakan.

"Kita harus merumuskan The Story-nya. Bagaimana narasi-narasi yang kita bangun, strategic communication dari anak-anak muda sehingga mampu mengubah dunia melalui intellectual leadership yang berkarakter," ujarnya.

Ia juga mengapresiasi dua narasumber dalam diskusi perdana tersebut, yakni ekonom INDEF Berly Martawardaya dan Co-Founder What's Up Indonesia (WIUI) Abigail Limuria. 

Menurut Hasto, keduanya merupakan contoh anak muda yang memanfaatkan kapasitas intelektual untuk kepentingan publik.

Lebih lanjut, Hasto meminta pengelola Millennium Public Pulse 28 tidak hanya menggelar diskusi di lingkungan Sekolah Partai, tetapi juga aktif turun ke masyarakat.

Ia mendorong para peserta mendatangi warung kopi, taman kota, pasar tradisional, pelaku UMKM, hingga pusat-pusat kebudayaan guna menyerap persoalan yang dihadapi masyarakat, terutama generasi muda.

Hasto menambahkan, gerakan tersebut diharapkan mampu mengangkat kisah inspiratif dari masyarakat biasa, budayawan, seniman, hingga pelaku usaha yang berjuang membangun masa depan melalui karya dan inovasi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.