Hasil Survei SMRC Kepuasan ke Prabowo Tinggal 51 Persen, Bakom RI Sebut Seharusnya Lebih Tinggi 
Alga W July 29, 2026 01:14 AM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Bobby Koloway

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) ditanggapi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Muhammad Qodari.

Bertolak belakang dengan dengan hasil survei SMRC, Qodari menyebut, dukungan masyarakat seharusnya masih tinggi.

Baca juga: 12 Tahun Silam Beli Lapak Rp6,5 Juta, Pedagang Pasar Sunanik sampai Sekarang Tak Punya Kios & SK

Melalui rilis pada Minggu (26/7/2026), SMRC sebelumnya menyebut tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto menyisakan 51 persen.

Dilakukan pada 5-19 Juli 2026, dengan tajuk 'Kondisi Ekonomi Politik dan Approval Rating Presiden', perolehan survei tersebut merosot dibandingkan hasil pada November 2025 yang menyebut kepuasan Prabowo masih berada di angka 81,2 persen.

Menanggapi hal ini, Qodari menegaskan bahwa hasil survei merupakan potret opini publik yang bersifat dinamis.

Sehingga, ini masih dapat berubah seiring perkembangan kondisi dan kinerja pemerintah.

Karenanya, praktisi lembaga survei tersebut menilai, hasil satu lembaga survei perlu dibandingkan dengan riset dari lembaga lain agar memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai persepsi masyarakat.

"Yang namanya survei itu adalah potret opini publik. Dia dinamis, bisa naik, bisa turun. Kalau beberapa bulan lalu seperti di laporan SMRC sekitar 40 persen, sekarang 50 persen, ya insyaallah nanti bisa 80 persen lagi," kata Qodari ketika dikonfirmasi di Surabaya, Selasa (28/7/2026).

Ia menambahkan, pemerintah akan menunggu hasil survei dari berbagai lembaga sebagai bahan pembanding.

Selanjutnya, pihaknya baru dapat menarik kesimpulan mengenai tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Presiden Prabowo.

Menurut Qodari, jika melihat berbagai indikator objektif, kondisi fundamental nasional justru menunjukkan tren positif.

Ia menyebut pertumbuhan ekonomi mencapai sekitar 5,6 persen, inflasi tetap terkendali di kisaran 3 persen, serta pertumbuhan tabungan masyarakat yang masih berlangsung berdasarkan informasi yang diterimanya dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

"Kalau kita melihat fundamental ekonomi sangat bagus. Pertumbuhan ekonomi baik, inflasi juga terkendali," ujar pria yang pernah menjadi Direktur Eksekutif lembaga survei Indo Barometer ini. 

"Saya juga mendapat informasi bahwa pertumbuhan tabungan masyarakat masih berlangsung. Jadi indikator-indikator ekonomi secara umum bagus," lanjutnya.

Selain ekonomi, Qodari menilai kondisi politik nasional juga relatif stabil.

Menurutnya, koalisi pemerintahan tetap solid dalam mendukung berbagai program prioritas Presiden sehingga pelaksanaan kebijakan dapat berjalan sesuai rencana.

Ia juga mencontohkan sejumlah capaian pemerintah, mulai dari peningkatan produksi pangan menuju swasembada, membaiknya kesejahteraan petani melalui harga pembelian gabah sebesar Rp6.500 per kilogram, kemudahan akses pupuk, hingga berbagai program bantuan bagi masyarakat dan pengembangan kampung nelayan.

"Dengan realisasi dan capaian-capaian yang sudah begitu banyak, harusnya tingkat dukungan masyarakat sangat tinggi," katanya.

Meski demikian, Qodari menegaskan, pemerintah tidak mengabaikan hasil survei tersebut.

Sebaliknya, setiap masukan dari masyarakat akan dijadikan bahan evaluasi.

Setiap gejala di masyarakat menjadi bahan pihaknya untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kinerja pemerintahan.

"Kita menerima dan merespons semua masukan sebagai sesuatu yang berharga untuk melakukan perbaikan kinerja," katanya.

Jadi warning

Penurunan tingkat kepuasan terhadap Presiden menjadi warning bagi Istana.

Di sisi lain, survei yang sama juga memotret publik yang merasa tidak atau sangat tidak puas pada kinerja Presiden Prabowo meningkat dari 16 persen pada survei November 2025 menjadi 46,9 persen pada survei Juli 2026.

"Approval rating tidak datang dari hampa. Penurunan kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo terjadi bersamaan dengan memburuknya penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum," kata Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, Minggu (26/7/2026).

Adapun populasi survei ini adalah seluruh warga Indonesia yang punya hak pilih.

Sebanyak 749 dari mereka dipilih secara random. 

Survei dilakukan dengan wawancara melalui telepon dan tatap muka.

Adapun margin of error survei ini sebesar +/- 3.7 persen, sedangkan untuk melihat perbedaan signifikan, maka perbedaan harus minimal 2x margin of error (7,4 persen).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.