BANGKAPOS.COM, BANGKA - Peta jalan pengembangan logam tanah jarang (LTJ) menjadi fokus dalam Seminar Nasional "Logam Tanah Jarang dan Mineral Strategis Lainnya: Potensi, Regulasi, Ekstraksi dan Teknologi Hilirisasi Industri Mineral Bernilai Tambah dan Berkelanjutan" di Universitas Bangka Belitung (UBB) pada Kamis (23/7/2026) lalu.
Seminar menghadirkan pemangku kepentingan dari Direktorat Jenderal Minerba Kementerian ESDM, BRIN, Badan Industri Mineral (BIM), hingga PT Perusahaan Mineral Nasional (PERMINAS).
Kepala Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Dr. Fajar Nurjaman, menilai tantangan Indonesia saat ini bukan lagi sebatas menemukan cadangan LTJ.
Baca juga: LTJ Bangka Belitung Jadi Titik Balik, Pemerintah Siapkan Aturan Baru Ekspor
Persoalan terbesar justru terletak pada kemampuan menguasai teknologi pengolahan hingga menghasilkan produk industri bernilai tinggi.
"Logam tanah jarang merupakan material kunci untuk material maju. Kalau ingin menguasai industri teknologi tinggi, kita harus menguasai proses pengolahannya hingga menjadi produk bernilai tambah," ujarnya.
Menurut Fajar, riset yang dikembangkan BRIN masih berada pada tahap pilot plant.
Baca juga: Industri Logam Tanah Jarang Bangka Belitung Disalip Malaysia
Tahapan tersebut masih harus melewati proses validasi menuju demo plant sebelum akhirnya masuk ke skala komersial yang diperkirakan membutuhkan waktu hingga sekitar 2030.
Ia menegaskan hasil penelitian tidak boleh berhenti di laboratorium ataupun publikasi ilmiah.
"Riset harus memberikan dampak bagi industri. Target kami bukan lagi menghasilkan konsentrat, tetapi produk siap pakai untuk industri," katanya.
BRIN telah berhasil mengembangkan teknologi ekstraksi mineral monasit dan xenotim hingga menghasilkan berbagai oksida logam tanah jarang dengan tingkat kemurnian lebih dari 98 persen.
Meski demikian, penguasaan teknologi masih menjadi tantangan besar karena negara-negara maju cenderung menutup akses terhadap teknologi pengolahan LTJ.
"Tidak ada negara yang mau membuka teknologi ini. Justru ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk membangunnya secara mandiri," ujar Fajar.
Di sisi lain, PT PERMINAS sebagai BUMN yang dibentuk pemerintah untuk mengembangkan mineral strategis juga mengakui industri LTJ nasional masih berada pada fase membangun pondasi.
Di tempat yang sama, Direktur Operasi dan Produksi PT PERMINAS, Ir. Oktoria Masniari Manurung, mengatakan sejak berdiri pada November 2025, perusahaan lebih banyak membangun organisasi, tata kelola, sistem operasional, hingga standar good corporate governance sebelum menjalankan kegiatan bisnis.
"Praktis beberapa bulan pertama kami fokus membangun organisasi dan sistem. Kami memang BUMN, tetapi juga seperti startup yang harus membangun semuanya dari awal," katanya.
PERMINAS mengusung konsep mine to magnet, yakni membangun rantai industri secara utuh mulai dari penambangan, pemurnian, pemisahan unsur tanah jarang hingga produksi magnet permanen yang dibutuhkan industri kendaraan listrik, energi bersih, elektronik, dan pertahanan.
Bangka Belitung menjadi salah satu wilayah prioritas karena memiliki potensi monasit yang besar sebagai sumber LTJ.
Dalam pengembangannya, PERMINAS menggandeng PT Timah, perguruan tinggi, serta lembaga penelitian guna mempercepat penguasaan teknologi.
Selain membangun industri, perusahaan juga tengah memastikan seluruh data cadangan memenuhi standar internasional sehingga dapat diterima investor.
"Data harus bankable. Kalau data awal tidak akurat, hasil akhirnya juga akan salah. Investor hanya menerima data yang sudah diverifikasi," ujar Oktoria.
PERMINAS juga telah memperoleh dua wilayah eksplorasi LTJ primer di Mamuju, Sulawesi Barat, seluas sekitar 7.200 hektare.
Pengeboran perdana dijadwalkan dimulai pada Agustus 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat pasokan bahan baku nasional.
Meski Indonesia telah mampu menghasilkan mixed rare earth carbonate dan mixed rare earth hydroxide, pekerjaan berikutnya masih berat.
Kandungan uranium dan thorium pada produk LTJ harus ditekan hingga memenuhi standar internasional agar dapat diterima pasar global.
"PR terbesar kami adalah menurunkan kadar uranium dan thorium sesuai standar pabrik dunia. Karena itu kami juga membangun laboratorium terakreditasi internasional agar seluruh data pengujian dipercaya investor maupun pasar global," kata Oktoria. (x1)